Ratna Sarumpaet Korban Konspirasi Kabu Prabowo-Sandi dan Anti Jokowi?

257

JAKARTA – Usai terungkap kebohongan dan resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus berita hoax ‘drama setan’ ciptaannya sendiri, sejumlah spekulasi mengikuti Ratna Sarumpaet.

Salah satunya, adanya dugaan bahwa ibunda Atiqah Hasiholan itu tidak ‘bekerja’ sendirian.

Ada pihak-pihak selain Ratna, yang menjadi penentu dalam gerakan penyebaran berita hoax tersebut.

Malah, Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98) Willy Prakarsa, menduga Ratna hanyalah ‘korban’.

Menurutnya, Ketua Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI) itu berperan sebagai tumbal atas konspirasi yang dibuat kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Willy menganggap, Ratna sengaja diskenariokan dianiaya sebagai upaya propaganda opini untuk menjatuhkan Jokowi.

Demikian disampaikan Willy melalui keterangan tertulisnya, Minggu (7/10/2018).

Menurutnya, kasus Ratna itu sendiri sampai menjadi isu nasional dan menyita perhatian tanah air.

“Ini adalah pola-pola yang buruk, tidak bermanfaat bagi demokrasi kita,” katanya.

Ia meyakini, tak hanya Ratna saja yang akan ikut terseret dalam kasus tersebut. Melainkan sejumlah nama tenar lainnya.

“Nama-nama beken lainnya kemungkinan akan ikutan terseret didalam kasus Ratna, kami sangat mengutuk jika Ratna jadi tumbal saja,” jelasnya.

Karena itu, tegasnya, pihaknya akan menjadi yang terdepan jika memang ternyata Ratna dimanfaatkan untuk memuaskan syahwat politik.

“JARI 98 akan jadi garda terdepan membantu Ratna jika dia cuma jadi tumbal pemuas nafsu politik,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga mendesak kepolisian untuk tidak berhenti pada penahanan Ratna saja.

Sebab, dia memprediksi Ratna hanya sebagai korban dalam dagelan konspirasi yang dibuat oleh kubu antijokowi.

“Karena pentolannya Prabowo dengan gerakan patah-patah merespons cepat menggelar konferensi pers soal pengeroyokan Ratna,” katanya.

“Rakyat juga pintar membacanya karena ada pola turut serta, sehingga jangan berhenti di Ratna Sarumpaet,” sambung dia.

Willy menjelaskan, jika Prabowo tidak menggelar konferensi pers, maka kegaduhan ini bisa dihindari.

Oleh karena itu, menurut dia, Prabowo menyumbang kegaduhan ini sehingga polisi tidak boleh melihat kasus Ratna berdiri sendiri.

“Kegaduhan ini kan muncul saat Prabowo reaktif menggelar jumpa pers atas keprihatinannya adanya pengeroyokan,” jelasnya.

Kegaduhan itu, lanjutnya, makin jelas setelah anak buah Prabowo manambahinya dengang berbagai ‘bumbu’.

“Ditambah lagi anak buahnya Prabowo yaitu Fadli Zon, dan lainnya. Bahkan ada yang menuduh pelaku penganiayaannya salah seorang menteri,”

“Polisi jangan berhenti di Ratna saja, seret semua aktor-aktor lainnya,” pungkas Willy.

Untuk diketahui, Ratna Sarumpaet sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka dan resmi ditahan.

Dalam perkembangannya, polisi menjerat Ratna dengan tiga pasal terkait berita hoax yang dibuatnya.

Hal itu sebagaimana diatur dalam Pasal 14 Undang-undang No 1 Tahun 1946.

Selain itu, polisi juga menyangkakan Ratna dengan UU No 11/2008 pasal 28 jo pasal 45 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dengan jeratan pasal tersebut, Ratna terancam hukuman penjara 10 tahun.

Penetapan tersangka ini, setelah penyidik melakukan penyelidikan dari hasil laporan Polisi tanggal 2 Oktober 2018.

Kemudian melakukan pendalaman dengan menyita beberapa barang bukti yakni tagihan Rumah Sakit Bina Estetika.

Juga terhadap buku catatan operasi serta beberapa saksi-saksi dari pihak rumah sakit.

(JPG/ruh/pojoksatu)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.