Puja-puji Prabowo untuk Mantan Mertua dan Orde Baru, Peduli Islam, Buktinya ICMI

381

JAKARTA – Calon presiden Prabowo Subianto tak henti-hentinya melontarkan puja-puji untuk mantan mertuanya, Presiden Soeharto.

Sejumlah romantisme orde baru pun ia beberkan di depan eksponen Muhammadiyah se-Indonesia di Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (3/3/2019).

Salah satunya adalah kepedulian orde kepemimpinan mantan mertuanya kepada umat Islam untuk berkarya.

Salah satunya adalah Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Menurut dia, kepemimpinan orba yang selama 32 tahun itu juga memberikan peran umat muslim untuk berkarya di institusi yang berpengaruh.

Demikian disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra itu dalam pidatonya di acara konsolidasi Nasional Aliansi Pencerah Indonesia (API).

“Lihat, dulu Orde Baru yang melahirkan ICMI. Orde Baru yang memungkinkan ada peranan mempermudah muslim untuk berkarya dan berkhidmat untuk berbakti di berbagai institusi yang cukup berpengaruh,” katanya.

Selain ICMI, sambung mantan Pangkostrad itu, Orde Baru menghasilkan produk penerbangan yang dibuat asli dari warga negara Indonesia.

Keberhasilan itu pun mampu menjawab beberapa cercaan sinis yang berasal dari negara lain.

“Dulu bangsa kita dihina. Belanda bilang kita bikin peniti saja nggak bisa. Apalagi mau merdeka,” imbuhnya.

Prabowo juga lantas berbicara soal perekonomian sebelum terjadinya reformasi 98.

Berdasarkan data yang dimilikinya, pertumbuhan ekonomi saat mantan mertuanya memimpin Indonesia, mencapai delapan persen.

Namun di era saat ini, pertumbuhan ekonomi malah stagnan dan berputar-putar di angka lima persen.

Prabowo berujar, Indonesia pernah menjadi anak emas barat dan pernah menjadi ‘The Darling of The World Bank.

“Tahun 97′, 98’ mereka selalu mengatakan The Fundamental of The Indonesian economy is very strong,” kata dia.

Akan tetapi, kondisi berbalik hanya dalam enam bulan berselang setelah itu Bank Dunia menyatakan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terkuat di dunia.

Dia juga mengaku bingung dengan kondisi saat itu dimana ekonomi tanah air mendapat tekanan yang sangat bersar oleh anjloknya nilai tukar rupiah.

“Memang saya bukan ahli ekonomi, saya tidak punya gelar ekonomi, tapi saya waktu itu ingin bertanya apa yang terjadi kepada bangsa kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, tak lama berselang sejak krisis moneter 20 tahun lalu, Prabowo mengaku telah berkeliling ke penjuru negeri untuk menjelaskan ihwal keadaan ekonomi Indonesia yang mengalami masalah krusial.

Pasangan Sandiaga Uno itu menduga, masalah pertumbuhan ekonomi yang stagnan lantaran kekayaan negara terus mengalir keluar negeri.

“Fenomena yang saya temukan adalah ternyata fenomena yang hampir tidak berbeda dengan Bung Karno. Bahwa kekayaan Indonesia terus diambil ke luar negeri,” tuturnya.

Lebih lanjut, Prabowo lalu membeberkan bahwa kondisi ini sudah pernah dipaparkan dalam pidato Bung Karno.

“Bung Karno dalam pidato ‘Indonesia Menggugat’ sudah menguraikan fenomena ini. Karena itu dia mengatakan Indonesia harus merdeka, supaya kekayaan ini dikuasai oleh Indonesia,” pungkasnya.

(ruh/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...