Polisi Perlu Dalami Kerangka Kasus Video Viral ‘Jika Jokowi Terpilih Lagi, Tak Ada Lagi Azan’

455

JAKARTA — Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera menyayangkan kampanye hitam sejumlah ibu-ibu, yang berkampanye tentang ‘azan dilarang dan diperbolehkannya nikah sejenis jika Jokowi menang.’

Hal ini terungkap dalam video sosialiasi yang berisi kampanye hitam terhadap pasangan nomor 1 Jokowi-Ma’ruf Amin ramai dibahas di media sosial.

“Kampanye hitam tidak boleh dilakukan,” tegas Mardani yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ini kepada Tribunnews.com, Senin (25/2/2019).

Untuk itu pula, Mardani meminta kepolisian untuk mendalami tiga terduga yang sudah diamankan terkait video viral kampanye hitam terhadap Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Kejadian di sosmed dengan diamankannya tiga terduga perlu didalami dengan seksama dan dilihat kerangka kasusnya,” tegas Mardani Ali Sera.

Menurut Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini, semua pihak mesti menjadikan pemilu sebagai bagian dari pendidikan politik yang mencerdaskan dan membawa kebaikan bagi semua.

“Literasi kampanye penting,” jelas Mardani Ali Sera.

Sementara itu Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean membenarkan bahwa tiga perempuan yang diamankan kepolisian karena diduga melakukan kampanye hitam merupakan bagian dari relawan Pepes yang terdaftar di BPN Prabowo-Sandi.

“Berdasarkan laporan yang saya terima mereka adalah relawan Pepes. Saya menerima laporan dari teman teman mereka,” kata Ferdinand saat dihubungi, Senin, (25/2/2019).

Hanya saja menurut Ferdinand informasi tersebut datang dari teman-teman relawan Pepes. Ia sendiri mencoba berkomunikasi dengan Ketua Relawan Pepes, Wulan, untuk memastikannya.

“Belum tanya ke ketua umumnya mba Wulan, tapi laporan ke saya dari pepes Karawang, memang orang mereka. Jadi apakah itu betul terdaftar atau tidak saya belum tahu,” katanya.

Meskipun demikian menurut Ferdinand apa yang disampaikan tiga orang wanita yang kini diamankan di Mapolda Jawa Barat tersebut seharusnya tidak dibawa ke ranah pidana. Karena apa yang disampaikan merupakan prasangka yang belum terjadi. Sama seperti pernyataan bahwa bila Jokowi menang ekonomi Indonesia akan hancur.

“Jadi kenapa mereka kemudian dipidana, karena sesuatu yang belum terjadi. Bagaimana kalau memang Jokowi menang ternyata itu benar terjadi. Siapa yang mau menanggung beban hidup mereka yang ditahan,” katanya.

Seharusnya apa yang disampaikan tiga wanita tersebut cukup dibantah oleh tim Jokowi. Menurutnya pernyataan politik harus ditanggapi dengan pernyataan politik juga.

“Ini masalah politik, kalau mau, tim 01 membantah tidak benar. Dijawab dengan argumen politik jangan memenjarakan orang,” ucapnya.

Tiga perempuan di Karawang diamankan terkait video viral di media sosial yang berisikan tentang dugaan ujaran kebencian terhadap pasangan capres Joko Widodo.

Dalam video viral itu, ada pernyataan soal tak akan ada lagi suara azan jika Joko Widodo alias Jokowi menjadi presiden untuk periode 2019-2024.

“2019, kalau (Jokowi) dua periode, enggak bakal ada azan,” kata seorang perempuan dalam video tersebut.

Selain itu, ada pun pernyataan bahwa pernikahan sejenis akan diperbolehkan Jokowi kembali terpilih sebagai presiden.

Polda Jabar mengamankan tiga perempuan asal Kabupaten Kawarang karena diduga ada di dalam serta menyebarkan video yang viral tersebut.

“Ketiga wanita tersebut berinisial ES (49), IP (45), CW(38) dan ketiganya merupakan warga Kabupaten Kawarang yang sedang kami lakukan pemeriksaan di Mapolda Jabar,” kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, Senin (25/2/2019).

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan bahwa Gakkumdu (Sentra Penegakan Hukum Terpadu) menemukan video yang bisa menimbulkan keresahan di masyarakat.

Ditreskrimsus, Ditreskrimum, dan Bawaslu dikatakan Kabid Humas Polda Jabar akan menganalisa dan mengevaluasi video tersebut dengan dugaan tindak pidana Pemilu.

Proses penyelidikan terhadap tiga wanita tersebut masih dilakukan. (*)

.tribunnews

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...