Pertamina Butuh Gagasan Besar, Bukan Omong Besar, Pemerintah Jangan Sungkkan Pecat Ahok

460
Presiden Jokowi bersama Komut Pertamina Ahok meninjau Kilang PT TPPI di Tuban, Jawa Timur, Sabtu (21/12). Foto: BPMI Setpres

JAKARTA – Kinerja Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai Komisaris Utama PT Pertamina dipertanyakan.

Pasalnya, perusahaan plat merah itu malah mengalami kerugian sebesar Rp11,13 triliun di semester pertama tahun 2020.

Secara teori, di semester pertama tahun 2020 Pertamina harusnya untung. Bukan rugi seperti sekarang.

Hal itu didasari pada harga minyak dunia yang anjlok sedangkan Pertamina tak menurunkan harga BBM di tanah air.

Demikian disampaikan anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Mulyanto, kepada PojokSatu.id, Selasa (25/8/2020) malam.

“Sebab di saat harga minyak dunia anjlok ke angka yang paling rendah sepanjang sejarah, Pertamina tidak menurunkan harga BBM sedikitpun,” tambahnya.

Tidak turunnya harga BBM itu juga termasuk BBM non-subsidi yang hargana juga mengikuti harga minyak dunia.

“Secara perhitungan kasar, Pertamina harusnya untung besar,” tutur Anak buah Sohibul Iman ini.

Karena itu, Mulyanto heran jika dalam laporan semester pertama tahun 2020 ini Pertamina malah rugi.

Ia menduga, ada faktor nonteknis yang menyebabkan Pertamina mengalami rugi yang begitu besar.

Karena itu, dia mendesak Pemerintah agar jangan sungkan mengevaluasi kerja Ahok.

Jika memang tidak mampu, ia menyarankan Jokowi sebaiknya memecat Ahok saja.

Sebagai gantinya, pemerintah bisa memilih sosok atu figur profesional yang memahami kerja dunia perminyakan.

“Pertamina butuh gagasan besar. Bukan omong besar,” ucapnya.

Menurutnya, selama menjabat, kinerja mantan Gubernur DKI Jakarta itu hingga sekarang belum mencatatkan prestasi yang patut dibanggakan.

“Justru sebaliknya, banyak keanehan dan kejanggalan yang begitu jelas dilihat masyarakat,” ujarnya.

Ia mengaku, pekan lalu, Pertamina tidak masuk dalam daftar Fortune Global 500. Pekan ini, malah mengalami kerugian.

“Kondisi ini jelas harus jadi perhatian Pemerintah. Jangan terus dibiarkan dan menunggu Pertamina mengalami kondisi yang lebih parah,” ingatnya.

“Mau sampai kapan membiarkan Pertamina babak belur seperti ini?” heran Mulyanto.

Karena itu, Wakil Ketua F-PKS ini mempertanyakan kinerja Ahok selama bergabung di Pertamina.

Sebagai Komisaris Utama Pertamina, Ahok harusnya mampu melakukan pengawasan agar perusahaan yang dipimpinnya lebih baik.

“Dengan kewenangan yang dimiliki dan dukungan politik memadai sebenarnya Ahok punya kesempatan lebih besar membenahi Pertamina,” imbuhnya.

Ia lantas mengungkit pernyataan Ahok yang menyatakan Pertamina sudah pasti untung.

“Waktu itu Ahok bilang, merem saja Pertamina sudah untung. Asal diawasi,” katanya.

Namun kenyataannya saat ini justru Pertamina bernasib kebalikan dari apa yang disampaikan sendiri oleh Ahok.

“Nah, kalau sekarang Pertamina rugi, artinya apa? Apa Ahok tidak mengawasi? Kok nyatanya Pertamina bisa rugi?” kritik Mulyanto.

Sumber Berita / Artikel Asli : pojoksatu

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...