Penonton Tertawa saat AHY Singgung Polemik Pilihan Politik dalam Grup WhatsApp hingga Bongkar Makam

391

Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai DemokratAgus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pidatonya yang menyinggung polemik dalam menentukan pilihan berpolitik.

Hal itu disampaikan AHY dalam pidatonya yang bertajuk ‘Rekomendasi Partai Demokrat Untuk Presiden RI Mendatang’, seperti yang diunggah melalui channel YouTube tvOneNews, Jumat (1/3/2019).

Dalam pidatonya, AHY menyampaikan sejumlah hal, satu di antaranya menyebut demokrasi kali ini yang dimanfaatkan oleh kalangan tertentu yang dijadikan ajang memaksakan pilihan dalam berpolitik.

“Dampaknya muncul fanatisme yang berlebihan, yang pada akhirnya justru kontra produktif dengan tujuan memajukan bangsa dan negara itu sendiri,” papar AHY.

Lantas, AHY mencontohkan sejumlah hal yang dapat memicu permasalahan dalam perbedaan pilihan politik, seperti dalam layanan pesan singkat.

“Saya yakin saudara-saudara memiliki grup WhatsApp atau layanan pesan yang lain, baik grup keluarga, teman, sekolah, arisan, pengajian, dan rekan kerja, betul?,” tanya AHY.

“Betul,” jawab penonton kompak.

“Tujuannya tentu baik untuk menyambung silaturahmi, sayangnya karena perbedaan pandangan dan pilihan politik, tak ayal kita sering berdebat kusir, membela pilihannya masing-masing secara subjektif dan membabi buta,” sambung AHY.

Kemudian AHY menjelaskan, terkait itu lantas pengguna layanan pesan singkat menjadi tidak objektif tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Dengan sukarela secepat mungkin, kita sering tidak sadar menyebar hoaks yang sebenarnya tidak kita baca secara objektif, bahkan kita tidak sadar bahwa menyebar hoaks akan berakibat hukum pada kita sendiri,” jelas AHY.

“Lebih parah lagi karena perbedaan pandangan politik ini pula kita sering keluar dari akal sehat,” ucap AHY.

Pernyataan itu lantas disambut tepuk tangan dari para penonton.

“Kita menyaksikan kawan-kawan kita atau justru kita sendiri left grup karena marah seolah-olah kawan-kawan kita tidak lagi sejalan, ada juga anggota yang di-remove oleh admin karena dianggap sebagai provokator, makar atau menganggu stabilitas politik dalam grup,” kata AHY.

Mendengar pemaparan AHY, terdengar para penonton tertawa bersama.

Lantas AHY kembali mencontohkan perbedaan bepolitik lainnya.

“Penggunaan warna dan simbol jari pun bisa jadi masalah,” ucap AHY.

“Betul,” jawab para penonton.

Bahkan, AHY menyebut ada jajaran perwira TNI yang menjadi sasaran hoaks.

Simbol jari kelulusuan saat berfoto dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap pasangan calon (paslon) tertentu.

Kemudian ia menceritakan seperti menurunkan penumpang secara paksa dan makam yang dibongkar hanya karena perbedaan pilihan politik.

“Di Jakarta, seorang penumpang taksi online diturunkan di tengah jalan hanya gara-gara menggunakan kaos yang berbeda dengan pilihan politik pengemudinya,” ungkap AHY disambut tawa penonton.

“Di tempat lain, makam terpaksa dibongkar, dan jenazah dipindahkan karena pemilik tanah pemakaman dan keluarga almarhum berbeda pilihan politiknya,” sambungnya.

Berkaitan dengan hal-hal itu, AHY menyatakan Partai Demokrat menyayangkan kejadian-kejadian tersebut yang membuat mundurnya demokrasi saat ini.

Lihat pada menit 21.00:

:

(TribunWow.com/Atri)

tribunnews

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...