Penjelasan Nadirsyah dan Mahfud Saat Ditanya Soal Cara Sandiaga Wudu yang Kini Viral

772

Cara wudu yang ditunjukkan oleh calon wakil presiden Sandiaga Uno ketika berada di kompleks makam KH Muhammad Thoha Imam Lapeo, Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, mengundang diskusi mengenai hukumnya.

Dalam video yang viral di media sosial, Sandiaga Uno mengambil air dengan menggunakan gayung berwarna kuning dari bak penampung air. Setelah gayung ditaruh di tepi kolam, Sandiaga Uno mencelupkan tangan kiri dan tangan secara bergantian ke dalam air untuk berwudu sampai selesai.

Netter @makLambeTurah mention kepada sejumlah intelektual Islam untuk menanyakan mengenai hukum wudu seperti yang ditunjukkan Sandiaga Uno.

Menurut penjelasan Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand Nadirsyah Hosen melalui Twitter air bekas wudu (musta’mal) tidak lagi suci mensucikan menurut pendapat yang utama dalam mazhab Syafi’i dan juga Hanafi.

“Maliki membolehkan, begitu juga 1 riwayat dari Imam Ahmad. Masalah khilafiyah. Gak usah heboh. Yang jelas santri NU wudhunya gak gitu. Kawan-kawan Wahabi sih kayak gitu,” kata @na_dirs dikutip AKURAT.CO, Senin (31/12/2018).

Guru Besar Hukum Tata Negara di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Mahfud MD juga memiliki penjelasan mengenai tata cara wudu.

“Secara fiqih yang dianut Aswaja pada umumnya “wudhu” tidak memakai air mustakmal (air bekas pakai, seperti sudah disentuh) atau 2 qulah (ukuran air yang biasa dijadikan ukuran baku dalam penetapan masalah air),” kata @mohmahfudmd.

“Yang diusapi air adalah seluruh wajah (bukan hanya pipi, hidung, mulut, dagu), yang diusapi air telapak tangan sampai siku,” Mahfud MD menambahkan.

Dia berharap penjelasannya tentang tata cara secara fiqih tidak dipolitisir untuk kepentingan politik.

Netizen dengan akun @NengIraPratama bertanya kepada Mahfud MD mengenai dua qulah sama dengan berapa liter. “Sekitar 275 liter. Mustakmal artinya air bekas pakai, seperti sudah disentuh. Air mustakmal dalam gayung itu adalah suci tapi tidak bisa mensucikan. Tapi itu fiqih yang diajarkan di pesantren-pesantren ya. Yang namanya fiqih merupakan hasil ijtihad jumhur fuqaha. Tak usah diributkan. Gunakan pendekan tasawuf,” kata Mahfud MD.

Netizen dengan akun @Breww10 juga bertanya kepada Mahfud MD mengenai air mustakmal. “Bisa gak prof itu dipake buat wudhu?” kata @Breww10.

Mahfud MD menjelaskan air mustakmal tidak boleh dipakai untuk wudu.

“Seharusnya air di gayung dituang ke tangan, bukan tangan yang dicelupkan ke gayung. Eh, tapi air mustakmal itu tidak najis ya, hanya tak bisa mensucikan. Kalau mau diminum, apalagi dicampur sirup dan es, itu halal. Halal dan menyegarkan seperti Yaqult,” ujarnya. [] akurat

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...