Pengusaha Terkait Partai Komunis China Kembali Jadi Sorotan di Australia

156
Pengusaha Huang Xiangmo (kanan) yang terkait dengan Partai Komunis China dan Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton.

Canberra –

Pengusaha Huang Xiangmo yang terkait dengan Partai Komunis China (PKC) dilaporkan telah mengeluarkan duit puluhan ribu dolar kepada seorang pelobi dalam upayanya mendapatkan kewarganegaraan Australia.

Gagal Jadi Warga Australia:

  • Rekaman percakapan mengungkap pelobi Santo Santoro sesumbar punya kedekatan dengan pejabat Australia
  • Santoro digaji oleh Huang Xiangmo dan berdalih tugasnya membantu Huang memahami perpolitikan Australia
  • Permohonan kewarganegaraan Huang ditolak setelah badan intelijen ASIO menyebut dia terkait dengan PKC

Pelobi bernama Santo Santoro itu merupakan mantan menteri di era Pemerintahan John Howard. Pada 2016, Santoro berhasil mempertemukan Huang dengan Menteri Imigrasi Peter Dutton.

Namun, Huang akhirnya gagal mendapatkan paspor Australia setelah badan intelijen ASIO menyatakan keberatan mereka karena pria ini diketahui memiliki kaitan dengan PKC.

Investigasi oleh program Four Corners ABC, The Age dan Sydney Morning Herald mengungkapkan pada 2015, Peter Dutton yang kini menjabat Mendagri, memberikan persetujuan ke senator oposisi Sam Dastyari untuk menggelar seremoni kewarganegaraan untuk istri dan dua anak Huang. Uniknya, seremoni digelar secara tertutup.

Seremoni kewarganegaraan biasanya digelar terbuka, dan seremoni tertutup hanya diperuntukkan bagi mereka yang sakit atau tidak dapat hadir di tempat upacara yang biasanya berlangsung di kantor balaikota.

Senator Dastyari yang belakangan mundur dari parlemen, memberikan alasan ke Menteri Dutton bahwa istri dan anak-anak Huang ingin ke luar negeri, sehingga mereka perlu cepat-cepat mendapatkan paspor Australianya.

Keluarga inilah yang sekarang menjalankan usaha Huang di Australia setelah dia diusir dari negara ini.

Rekaman lainnya menunjukkan Santoro sesumbar bahwa Menteri Dutton itu teman baiknya.

Santoro meminta pembayaran setidaknya 20 ribu dolar, untuk menghubungkan dengan kantor Dutton agar mempercepat pemohonan kewarganegaraan.

Santoro juga menyatakan:

“Tidak ada orang lain yang lebih baik dari saya membantumu menangani permasalahan ini. Tidak ada seorang pun. Saya bisa datang ke kantor menteri dan minta tolong untuk memeriksa permohonan ini.”

Menteri Dutton bantah terima donasi Huang

Pada awal 2015, beberapa bulan sebelum ada peringatan dari ASIO mengenai Huang, Dutton menggunakan kewenangannya sebagai menteri imigrasi untuk membolehkan Senator Dastyari menggelar seremoni kewarganegaraan tertutup kepada istri dan anak-anak Huang.

Seremoni itu berlangsung di dalam kantor Dastyari.

Two men in dark suits stand at podiums emblazoned with the Coat of Arms at a press conference
Huang Xiangmo dan Senator Sam Dastyari di tahun 2016. (Supplied)

Dastyari mengaku telah menulis surat kepada Dutton berisi permintaan untuk mempercepat permohonan kewarganegaraan keluarga Huang itu.

“Saya pikir peluangnya sangat tipis untuk disetujui. Dan persetujuan yang cepat (dari Menteri Dutton) sangat mengejutkan saya,” kata Dastyari.

Kepada ABC, Menteri Dutton menegaskan bahwa Huang “tak pernah memberikan donasi untuk kampanye saya”.

“Dastyari perlu menjawab pertanyaan seputar seremoni kewarganegaraan itu,” ujar Dutton.

Dastyari sendiri menjawab bahwa dia telah mengundurkan diri dari parlemen karena urusannya dengan Huang.

Makan siang bersama

Pada tahun 2016, proses kewarganegaraan Huang terhenti gara-gara peringatan dari ASIO yang menduga Huang berhubungan dengan PKC.

Huang sebelumnya dikenal sebagai donatur untuk partai politik, universitas, dan badan amal sejak dia tiba di Australia pada 2011. Dia memimpin organisasi lobi di Sydney bernama ACPPRC.

Khawatir dengan terhentinya proses kewarganegaraan itu, Huang menghubungi Santoro, yang juga seorang pelobi politik.

Investigasi ini memperoleh rekaman percakapan Santoro yang sesumbar tentang akses langsungnya dengan Menteri Dutton.

Santo Santoro arrives at Parliament House, Canberra, in March 2007.
Santo Santoro, pelobi politik yang juga mantan menteri di era Pemerintahan John Howard. (AAP: Mark Graham, file photo)

Santoro menjamin integritas Dutton sebagai “politisi paling jujur”, namun dia juga akan berusaha membantu.

Santoro dalam rekaman itu mengklaim dia telah membantu mempercepat permohonan imigrasi, dan dapat mengakses kantor Menteri Dutton dengan bayaran setidaknya 20 ribu dolar.

“Jika saya melakukannya dan harus ke Canberra membawa permohonan visa untuk meminta bantuan seseorang, saya ingin dibayar di muka,” katanya.

Pada tahun 2016, ketika Huang semakin khawatir mengenai status permohonan kewarganegaraannya itu, dia pun memberi gaji tetap ke Santoro.

Pada bulan Maret tahun itu juga, Santoro berhasil mempertemukan Huang dan Menteri Dutton dalam jamuan makan siang di restoran seafood ternama di Sydney, Master Ken.

Ketika dikonfirmasi, Santoro membenarkan adanya jamuan makan siang namun membantah tujuannya adalah untuk mendekatkan Huang ke Menteri Dutton.

Ditanya mengapa dia digaji oleh Huang selama setidaknya satu tahun, Santoro menjawab, “Itu urusan saya dan Huang.”

“Tapi secara umum, saya rasa, hal itu untuk membantunya memahami perpolitikan Australia,” demikian dalih yang disampaikan Santoro.

Menteri Dutton secara terpisah mengatakan dia diperkenalkan ke Huang sebagai pemuka komunitas China di Sydney dan “makan siang bersamanya atas dasar itu”.

“Saya jelas tidak pernah mewakili kepentingan atas namanya kepada Departemen Imigrasi atau siapa pun,” kata Dutton.

Huang menolak menjawab ketika dihubungi. Tapi jurubicaranya mengatakan urusannya dengan Santoro terbatas pada “saran tentang bisnis” termasuk “pengembangan wilayah gunung berapi di Sisilia, Italia”.

Upaya Huang mendapatkan paspor Australia gagal dan November 2018 dan sejak itu dilarang memasuki Australia. detik

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here