Pengibar Bendera Bintang Kejora di Depan Istana Ceritakan Bobroknya Rutan Salemba

233

Mantan tahanan politik (Tapol) Papua Surya Anta melalui Twitter beberkan soal kondisi Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat, saat menjalani penahanan usai divonis melakukan tindakan makar.

Dalam ceritanya, Surya mengungkap sejumlah permasalahan yang terjadi di dalam penjara.

Pada hari pertama ia masuk penampungan Rutan Salemba, ia mengatakan bahwa dirinya dan rekannya dipalak oleh para tahanan lama. Ia dipalak sebesar Rp1 juta, sementara rekannya dipalak sebesar Rp3 juta.

“Akhirnya kami berlima bayar Rp 500 ribu karena setelah para tahanan lain tahu kalau kami ini aktivis bukan anak pejabat,” tulis @Suryaanta di twitter.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan kondisi penampungan dalam Rutan Salemba itu tak layak. Ia menjelaskan terdapat 420 tahanan yang dikumpulkan dalam satu ruangan dan toilet hanya ada 2.

“Tahanan tidur kaya ikan pindang dijejer, tak jarang agar bisa tidur badan miring,” tulisnya.

Surya juga menyaksikan para tahanan bebas menjual Narkotika jenis sabu dan ganja kepada para tahanan lainnya. Ia bahkan sempat ditawari untuk membelinya namun ia menolak.

“Dulu saya pernah ikut diskusi over kapasitas Penjara. Selama di Salemba saya baru sadar apa itu Over Kapasitas Pjr. Masalahnya bukan karena jumlah penjara kurang saja. Itu masalah hilir. Tapi masalahnya regulasi dan aparat konsepnya masih menjarain-menjarain orang melulu,” kata Aktivis HAM ini.

Lapak tidurnya hanya beralasan tikar dan kasur tipis. Kata Surya, sebelumnya ia berada di Lapak Palembang dimana ia stress karena melihat orang ribut terus, ia akhirnya dipindahkan di Lapak Korea.

“Saya pindah karena stress orang ribut melulu dan dari lantai 2 napi lama ngeludah dan buang air ke lapak Palembang,” katanya.

Kata dia, para tahanan juga mesti menampung air cadong untuk menghilangkan dahaga mereka sementara televisi hanya satu.

“TV dalam barak penampungan ini cuma satu. Kalau ada yang berani ganti channel langsung rame. Botol-botol ini buat nampung air cadong buat minum. Tapi airnya berasa ada yang lengket. Para tahanan jadi sakit tenggorokan,” kata Surya sambil mengunggah foto tumpukkan tahanan.

Surya kemudian dipindahkan ke blok J kamar 18 karena tekanan batin yang diterimanya.

“Itu pun setelah ada tekanan dari teman-teman diluar. Banyak tahanan dan napi tidur di lorong karena gak punya uang untuk “tiket” masuk kamar dan bayar uang Mingguan kamar. Beginilah situasi di lorong blok,” ujarnya.

Surya melanjutkan, kamar yang ditempatinya bersebelahan dengan kamar yang disebutnya ‘apotek’ tempat pembuatan sabu-sabu.

Katanya, apotek tersebut terus beroperasi meski para petugas sudah memgetahui keberadaan produksi Narkotika tersebut.

“Kamar atas belakang Dano itu adalah Kamar “Apotik”, kamar penjualan Sabu. Petugas tahu soal ini. Heran kenapa kami ditempatkan di kamar J18 yang ada apotik sabu,” kata Surya.

Kata Surya hidup di penjara tak lantas semuanya ditanggung negara. “Karena nasi, lauk dan air Cadong (makanan penjara) jumlahnya dikit. Tentu gak etis buat yg tidur di sel makan jatah yg dikit itu. Kasihan tahanan yang tinggal tidur di lorong. Jadi kami harus masak dan beli lauk pauk sendiri.”

Selain itu, Surya juga mengungkap tingginya biaya hidup di penjara menjadi faktor banyak tahanan atau napi memiliki pekerjaan sambilan. Seperti, ada tahanan yang terpaksa meyopet, mencuri dari nyilet kantong temen, servis elektronik hingga menjual narkoba.

“Oh ya, kenapa bisa ada dokumentasi ini bisa ada. Karena di penjara jual beli dan servis HP ada. Bisnis narkoba lancar. Bisnis transfer dan terima uang kiriman juga lancar. Warung makanan ada. Petugas tahu itu Jual beli farfum ada. Yang gak ada prostitusi, sebelum 2016 kata para Napi lama ada.”

“Saya bisa pahami warung makan, koperasi dan bisnis transfer uang ada di penjara. Banyak hal harus beli di penjara. Kalau mau hidup layak dan sehat. Kalau gak ada bisnis transferan dulu ada kejadian “uang pelor”. “Uang pelor” itu napi gulung uang pake plastik trus ditelan,” katanya.

Surya Anta divonis sembilan bulan penjara karena tuduhan makar. Ia dipenjara bersama lima aktivis lainnya yakni Charles Kossay, Ambrosius Mulait, Isay Wenda, Anes Tabuni, dan Arina Elopere.

Surya dianggap melakukan perbuatan makar setelah melakukan aksi demonstrasi di depan Istana Negara dan Mabes TNI AD pada 2019 lalu.

Aksi makar yang dituduhkan terhadap keenamnya dilatarbelakangi oleh aksi pengibaran Bendera Bintang Kejora yang memang menjadi simbol kemerdekaan Papua.[]

Sumber Berita / Artikel Asli : Akurat

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...