Penganut Katolik Takjub Dengan Pengabdian FPI

165

Berikut adalah penuturan dari ibu Agnes Marcellina Tjhin, seorang penganut Katolik, yang pada hari Minggu (8/7/2018) kemarin berkunjung ke kediaman Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) KH Ahmad Shobri Lubis di pondok pesantren An-Nur Ciseeng, Babakan, kabupaten Bogor.

OLEH OLEH DARI PONPES AN-NUR CISEENG

Mengapa saya sering menggunakan kata OLEH OLEH setiap kali bertemu dengan seorang tokoh, itu karena saya merasa bahwa pengalaman itu harus dibagikan terutama jika kabar itu adalah kabar yang baik dan kabar yang belum tentu semua orang mengetahuinya.

Hari Minggu siang 8 Juli 2018, saya berkunjung ke rumah ustad Shobri Lubis, Ketua Umum FPI (Front Pembela Islam) dan dijamu makan siang nasi liwet dan ayam kuning yang sedap dan nikmat. Perjalanan menuju Ciseeng, Babakan , kabupaten Bogor dari tempat saya memerlukan waktu 2.5 jam karena macet begitu juga saat pulang lebih lama lagi. Saya dan teman-teman disambut oleh ustad Shobri, istri dan anak-anaknya dengan hangat dan ramah bak menyambut seorang kerabat lama padahal kunjungan tersebut adalah baru pertama kalinya saya lakukan sejak mengenal ustad Shobri pada akhir 2016 di Megamendung di tempat kediaman Habib Rizieq.

Di lokasi seluas 7 hektar, ada sekolah TK, SD, SMP dan SMA Islam Terpadu dan juga Pondok Pesantren AN-NUR yang menampung 120 santri dari berbagai daerah termasuk juga warga sekitar. Ada empang empang untuk beternak lele dan pakan yang dibuat sendiri bahkan terus dikembangkan dan bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk penelitian agar pakan tersebut tidak lagi mengendap di dasar kolam tetapi mengambang di air sehingga daging lele tidak akan berbau lumpur. Di halaman depan juga dibuat tempat bermain untuk anak-anak dan tempat pelatihan outbound. Juga ada sebagian lahan untuk bercocok-tanam. Rumah Ustad sendiri ada di tengah tengah, kecil dan sangat sederhana.

Ustad Shobri adalah anak dari ayah berdarah Batak dan ibu dari Mesir. Mereka bertemu saat menimba ilmu di Mesir. Saat ini ibunya sebagai guru besar di UIN dan berbahasa Indonesia lebih baik daripada anak anaknya, begitu cerita dari ustad. Beliau juga bercerita bahwa tanah yang ditempatinya saat ini adalah warisan dari orang tuanya. Tanah itu sekarang dibaktikan untuk pembangunan manusia dari sisi keagamaan, pendidikan dan kemasyarakatan. Ini adalah hal yang sangat mulia.

Tanah sebesar itu tentu nilainya kalau dihitung dengan uang banyak sekali. Yang ingin saya katakan bahwa yang dilakukan oleh ustad ini adalah pengabdian dari apa yang dia miliki, seluruhnya adalah untuk berbagi dengan orang lain. Ada banyak orang yang sangat kaya raya tetapi uangnya hanya untuk diri sendiri. Ada orang yang memiliki tanah yang begitu luas tetapi juga tidak secuil pun rela dipakai oleh atau bersama dengan orang lain.

Kebanyakan orang, jika memiliki tanah seluas itu maka yang pertama tama akan dibangun adalah rumah besar untuk dirinya sebelum membangun yang lain lain tetapi yang dilakukan oleh ustad Shobri ini memang sesuatu yang sangat berbeda. Rumah kediamannya saya rasa mungkin tidak lebih dari 100m2. Sungguh sangat mencengangkan dan hampir tidak bisa dipercaya.

Sering kita membaca atau mendengar fitnah yang beredar bahwa petinggi atau pemimpin FPI menikmati banyak uang dari hasil yang tidak HALAL. Ternyata semua itu adalah hoax. Beliau menceritakan bagaimana FPI berdiri di tahun 1998 oleh sejumlah Habaib, Ulama, Mubaligh dan Aktivis Muslim dengan tujuan menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di setiap aspek kehidupan. Ustad Shobri menolak dikatakan bahwa FPI seringkali dituduh melakukan vandalisme karena tindakan itu dilakukan oleh oknum oknum yang kurang dan tidak memahami prosedur standar FPI. Jika ada laskar atau oknum yang melakukan tindakan pemerasan terhadap masyarakat maka tidak segan segan FPI akan menyerahkannya kepada yang berwajib. Beliau juga menceritakan beberapa kasus yang pernah terjadi.

Sowan saya kepada beliau adalah sebagai bentuk menjalin tali silaturahmi antar anak bangsa. Seringkali manusia hanya menimbun praduga-praduga tanpa mau bertabayun. Praduga inilah yang akan melahirkan disintegrasi bangsa, saling tuduh, saling merasa benar padahal persatuan dan kesatuan harus dibangun dari itikad baik dulu, tidak menghakimi sepihak, berkomunikasi dan saling bersilaturahmi.

Saya sebagai orang Katolik, memahami bahwa ajaran sosial gereja bukanlah ajaran mengenai prinsip prinsip kehidupan di dalam gereja saja tetapi di dalam masyarakat dan justru di tempat pluralisme dan tidak hanya menyangkut keyakinan agama saja tetapi juga prinsip-prinsip etis dan politik. Disitu perlu keterbukaan dalam dialog bersama. Kita harus ikut berpikir dan mencari jalan keluar dari masalah masalah kebangsaan yang sedang kita hadapi saat ini.

Pertemuan saya dengan ustad Shobri telah membuka ruang diskusi yang sangat berharga, menepis sekat sekat perbedaan karena pada dasarnya kita bersepakat bahwa tujuan kita adalah sama yaitu untuk menjalankan nilai nilai kehidupan dengan kebaikan, berbuat baik untuk masyarakat dengan cara yang mungkin saja berbeda beda tetapi tujuannya adalah sama.

Salam Indonesia Raya,

10 Juli 2018

Agnes Marcellina Tjhin

[portalislam]

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.