Pengakuan Eks Kapolsek, Diancam hingga Dituduh Dukung Prabowo

313
Jokowi dan Prabowo dalam Debat Pilpres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan

Jakarta — Kapolsek Pasirwangi Kabupaten Garut, Jawa Barat, AKP Sulman Azis mengungkapkan pernah diarahkan oleh Kapolres Kabupaten Garut untuk menggalang dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf Amin.

Sulman mengaku perintah itu disertai ancaman mutasi. Dia juga mengaku pernah disangka mendukung Prabowo Subianto.

Hal tersebut diungkapkan Sulman di kantor Lokataru, Jakarta, Minggu (31/3). Dia berkata selama 27 tahun berkarier sebagai polisi, baru kali ini diperintahkan mendukung salah satu paslon peserta Pilpres 2019, yakni Jokowi-Ma’ruf.

“Saya ini sudah 27 tahun menjadi polisi, sudah bertugas dimana mana. Baru tahun 2019 ini, di Pilpres 2019, ada perintah untuk berpihak kepada salah satu calon,” ucap Sulman.

Sulman mengaku diperintah oleh atasannya Kapolres Kabupaten Garut, untuk mendata dukungan masyarakat di Pilpres 2019.

Kapolsek lain di wilayah Kabupaten Garut juga diperintahkan serupa. Semua diperintahkan untuk mendata anatomi dukungan masyarakat.

Sulman mengklaim tidak menjalankan perintah tersebut. Dia pun tidak mengetahui apakah rekan-rekan sesama kapolsek melaksanakan perintah itu.

Dia juga mengaku tidak tahu bagaimana cara kapolsek lain menggalang dukungan di masyarakat jika yang bersangkutan mematuhi perintah dari Kapolres. Sulman sendiri pun tidak mengetahu pasti maksud penggalangan yang dimaksud atasannya.

“Mungkin yang dikatakan penggalangan itu adalah penggiringan publik untuk berpihak kepada salah satu paslon,” kata Sulman.

Sulman enggan bicara lebih jauh perihal asal muasal perintah menggalang dukungan masyarakat untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf. Sejauh ini, Sulman mengaku hanya diberi perintah oleh Kapolres Kabupaten Garut.

“Saya enggak tahu itu diperintah estafet dari atas atau tidak. yang pasti saya diperintahkan oleh beliau (kapolres),” tutur Sulman.

Dituduh Dukung Prabowo

Sulman mengaku dituduh mendukung paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam acara deklarasi yang dihelat pada 15 Febuari lalu.

Tuduhan muncul lantaran Sulman kedapatan berfoto dengan petinggi Nahdlatul Ulama setempat yang merupakan ketua panitia deklarasi.

Sulman menjelaskan bahwa dirinya berfoto dengan pemuka agama tersebut bukan berarti mendukung paslon 02. Bukan pula bekerja sama mensukseskan acara deklarasi Paslon 02.

Sulman menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan spesial dengan pemuka agama tersebut. Dia mengaku kenal dengan pemuka agama yang dimaksud dalam rangka menjalin koordinasi agar acara deklarasi dapat berjalan dengan tertib.

“Saya berfoto, sambil membuat laporan untuk melaporkan kepada Kapolres. Saat itu saya hanya melaksanakan tugas saya sebagai Kapolsek. Untuk memastikan bawa kegiatan yang dilaksanakan di wilayah berjalan sesuai dengan ketentuan,” tutur Sulman.

Sulman mengaku foto tersebut diambil untuk memperkuat laporan. Dia mengatakan laporan akan lebih dipercaya atasan jika menyertakan foto.

Sulman lalu menyebut Kapolres Kabupaten Garut sempat menggelar rapat dengan para kapolsek. Sulman tidak ikut hadir. Dalam rapat, kata Sulman, Kapolres meminta kepada para kapolsek agar tidak meniru sikap dirinya.

“Setelah saya kirim dokumentasi itu pernah dirapatkan tanpa saya. ‘Jangan seperti Kapolsek Pasirwangi. Sekarang sudah bukan saatnya berfoto dengan 02’,” kata Sulman.

Tak berhenti sampai disitu. Sulman terus membeberkan kejanggalan-kejanggalan lain yang dirasakannya.

“Yang kedua, saya dianggap tidak melakukan penggembosan terhadap massa yang akan mengikuti deklarasi tersebut,” kata Sulman.

“Ada lagi isu yang lebih ekstrem. Saya dituduh membiayai deklarasi tersebut. Kira-kira orang kecil seperti saya, mampu enggak membiayai itu semua,” lanjutnya.

Sulman mengaku memperoleh informasi itu semua dari berbagai sumber. Termasuk bawahannya di lingkungan Polsek Pasirwangi, Kabupaten Garut. (bmw/wis), CNN Indonesia

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here