Penanganan 1 Pasien Corona Rp146 Juta, Komisi V Terheran-heran

616

MATARAM – Komisi V DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) terheran-heran mendengan informasi bahwa penanganan satu pasien Corona Rp146 juta.

Komisi V meminta Dinas Kesehatan NTB menyampaikan kepada publik tentang rincian penggunaan anggaran penanganan pasien Corona.

“Kita dengar satu pasien itu Rp 146 juta, itu rinciannya seperti apa?” kata Anggota Komisi V DPRD NTB H Buhari Muslim.

Menurutnya, cincian harus disampaikan untuk menjawab keragu-raguan dan asumsi liar yang berkembang di tengah masyarakat. Jangan sampai anggaran penanganan yang super mahal ternyata tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Buhari mempertanyakan pula apakah semua pasien dipukul rata biaya Rp 146 juta.

“Atau ada kriterianya, separah apa penyakitKorona yang dibiayai segitu?” imbuhnya.

Dia curiga jangan-jangan penyakit Corona ada level atau tingkat keparahannya. Mengingat kondisi pasien bervariasi di lapangan. Mulai dari yang sakit parah hingga meninggal sampai terlihat segar-bugar.

“Setiap kita panggil kesehatan selalu kesulitan menjelaskan masalah keuangan, kita akan panggil lagi agar bisa merincikan,” ulasnya.

Sepanjang yang diketahui politisi NasDem itu, obat atau vaksin Korona belum ditemukan. Sehingga para pasien selama ini hanya diberi vitamin untuk menjaga kebugaran tubuh.

“Tidak semua pasien kan butuh ventilator,” ulasnya.

Lantas dia mempertanyakan vitamin jenis apa yang dibeli sampai dalam 14 hari menghabiskan Rp 146 Juta.

“Yang saya tahu ada vitamin buatan Amerika itu paling mahal dan top harganya Rp 400 ribu, kalau vitamin lokal paling harganya Rp 25 ribu,” ujarnya.

Berikutnya untuk tempat isolasi tidak semua menggunakan hotel. “Kalau yang pakai hotel paling mahal harga sehari sekitar Rp 500 ribu,” terangnya.

Memang adapula pembelian Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan, masker, penutup wajah, sepatu bot, sampai baju hazmat sekali pakai.

“Tetapi kan ada juga sumbangan dari berbagai instansi dan NGO, jangan sampai itu di klaim dibayar, itu pengaturannya seperti apa?” cetusnya.

Semua harus dirinci menjawab keragu-raguan masyarakat. Sehingga persoalan klir dan tidak ada syak-wasangka di balik ramainya pembahasan Pandemi Covid-19 ini.

Anggota Komisi V lainnya Akhdiansyah menghitung perhari sekitar Rp 10 juta dihabiskan untuk penanganan pasien korona. “Anggarannya satu pasien Rp 146 juta,” ujarnya.

Politisi PKB itu pun sepakat agar Dinas Kesehatan NTB menjelaskan pada publik rincian penggunaan anggaran.

“Sekalipun APD sekali pakai dan ada honor di sana, saya rasa memang harus dijelaskan agar jelas dan terang,” pintanya.

Sumber Berita / Artikel Asli : lombokpost/pojoksatu

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...