Pemerintah Diminta Gandeng Ormas Islam Lawan Kelompok Anti-Pancasila

354

Ancaman terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi bangsa disinyalir masih bergulir hingga kini.

Pengamat intelijen dan teroris Stanislaus Riyanta mengatakan, perlu ada kerjasama antara Kemendagri dan bagian di bawahnya seperti TNI dan Polri untuk mengatasi ancaman nyata di negara Pancasila. Oleh karena itu, fungsi intelijen yang ada di Polri dan TNI serta BIN untuk mengumpulkan data guna ditanggapi aparat keamanan.

Selain itu, lanjutnya, ormas – ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah juga harus bersatu untuk melawan radikalisme.

“Hal ini dilakukan agar kejadian seperti yang dialami Pak Wiranto tidak terulang. Oleh karena itu, informasi intelijen dari Polri, TNI dan BIN disatukan untuk dijadikan satu basis data untuk penanganan terorisme,” ujar Stanilaus Riyanto dalam Ngobrol Santai bertema “Ancaman Nyata di Negara Pancasila” di Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Stanilaus menuturkan, kerjasama antara pemerintah dan masyarakat perlu dilibatkan lagi. Sebab, ada oknum yang memanfaatkan agama sebagai daya tarik untuk menggalang massa melakukan radikalisme.

Menurutnya, radikalisme bukan perbuatan agama, tapi suatu pemikiran untuk motivasi sesuai kepentingan oknum tersebut. Adanya agama yang dimanfaatkan oknum tertentu merupakan pekerjaan rumah dari Kementerian Agama (Kemenag).

“Radikalisasi ini berbahaya. Oleh karena itu, peran Kominfo juga cukup penting perannya untuk mengeblok konten-konten atau narasi – narasi radikali,” ujarnya.

Sementara itu, mantan narapidana tindak pidana teroris (napiter) Sofyan Tsauri mengakui, radikalisme dan ekstrimisme masih menjadi ancaman karena memang ekstalasi politik yang berkembang.

“Pada dasarnya terorisme tidak ada kaitannya dengan agama, tetapi ada oknum yang memanfaatkan agama. Tapi, sejatinya orang yang beragama secara tidak akan tega melakukan kekerasan dan kejahatan. Jadi dalam hal ini ada yang salah dalam memahami literasi agama,” ujarnya.[] akurat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here