Para Pengunjuk Rasa di Konawe Selatan Berlarian Menuju Pantai Saat Polisi Letuskan Tembakan ke Udara

326

KENDARI – Ratusan nelayan dari Desa Sangi-sangi dan Ulu Sawa berunjuk rasa di jalan hauling PT Gerbang Multi Sejahtera atau GMS, Sabtu (18/9/2021) mulai pagi hingga malam.

Pendemo meminta perusahaan tambang itu untuk bertanggung jawab atas pencemaran laut dengan menghentikan aktivitasnya.

Sebab, hasil tangkapan nelayan berkurang drastis selama lima bulan terakhir karena laut tercemar material tambang yang membuat air laut kuning kemerahan.

Ratusan nelayan dari dua desa tersebut dipimpin mahasiswa lantas berunjuk rasa di site Amesiu PT GMS Desa Sangi-sangi, Kecamatan Laonti.

Salah seorang pendemo Daud (28) mengatakan, awalnya aksi berlangsung damai mulai pukul 08.00 Wita.

“Kami sempat bernegosiasi dengan pihak perusahaan untuk menghentikan pencemaran laut itu. Tapi karena negosiasi buntu kami bertahan sampai sore,” urai Daud melalui sambungan telepon, Minggu (19/9/2021).

Sekira pukul 15.00 Wita, massa menduduki jalan hauling, namun perusahaan memaksa untuk tetap beraktivitas dengan mengoperasikan dua truk pengangkut ore nikel.

Warga tak tinggal diam, mereka pun memblokade jalan menuju pelabuhan jety dengan membuat barisan emak-emak di posisi paling depan.

Polisi membubarkan massa pendemo dengan tembakan senjata api ke udara di Desa Sangi-sangi, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sabtu (18/9/2021).
Polisi membubarkan massa pendemo dengan tembakan senjata api ke udara di Desa Sangi-sangi, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sabtu (18/9/2021). (Istimewa)

Tapi, kata Daud, pihak perusahaan dibantu kepolisian mengarahkan dua mobil truk bermuatan ore nikel untuk melintas di tengah-tengah massa.

“Katanya perusahaan sudah rugi waktu seharian tidak beroperasi, polisi dan pihak perusahaan memaksakan mobil (menabrak) massa,” katanya.

Hal itu menyulut emosi pengunjuk rasa, seketika demonstrasi ricuh, massa dan polisi saling dorong.

Seiring dengan kericuhan itu, diduga sejumlah karyawan PT GMS hendak memukul massa.

“Saat (tembakan peringatan) ibu-ibu bertahan, korlap dan Ketua LMND (Anhar) lari dikejar polisi. Ada videonya,” jelasnya.

Dari video yang diterima TribunnewsSultra.com, sejumlah polisi berseragam memakai senjata laras panjang mengejar warga.

Terdengar lima kali suara dentuman senjata ditembakkan ke udara, suasana ricuh, sejumlah pendemo berlarian turun menuju pantai.

Suara teriakan ibu-ibu juga terdengar, diduga ketakutan saat polisi menembakkan senjata dan mengejar massa.

Tak hanya itu, tampak polisi berpakaian sipil juga membawa senjata laras pendek.

Nelayan dan Mahasiswa Ditangkap

Polisi mengamankan tiga demonstran yang tengah melakukan aksi demonstrasi di lokasi tambang PT Gerbang Multi Sejahtera atau GMS Desa Sangi-sangi, Kecamatan LaontiKabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sabtu (18/9/2021) malam.

Mereka yang ditangkap masing-masing Ketua Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi atau LMND Kota Kendari Anhar serta dua nelayan Erwin dan Abdul Basir.

Ketiga orang ini ditangkap polisi saat mengikuti demonstrasi bersama ratusan nelayan di lokasi tambang site PT GMS sejak Sabtu pagi.

Suasana detik-detik polisi bubarkan pendemo pakai senjata api di Desa Sangi-sangi, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Suasana detik-detik polisi bubarkan pendemo pakai senjata api di Desa Sangi-sangi, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). (Istimewa)

Dalam aksinya, para nelayan tersebut memprotes pencemaran laut akibat aktivitas PT GMS.

Salah seorang pengunjuk rasa, Daud (28) mengatakan, penangkapan terjadi saat massa menghalau mobil perusahaan yang hendak menabrak pendemo.

Karena massa tak mau membubarkan diri, polisi akhirnya melepaskan tembakan berkali-kali ke udara.

“Mungkin karena polisi melihat mereka (yang ditangkap) bukan warga di situ dan ngotot bertahan, sehingga dikejar dan ditangkap,” ujar Daud (28) melalui sambungan telepon, Minggu (19/9/2021).

Hingga Minggu dinihari, tiga pengunjuk rasa tersebut belum dilepas polisi dan bergabung dengan massa yang masih bertahan di lokasi demonstrasi.

Sejumlah pendemo yang didominasi emak-emak ini pun memilih tidur di jalan hauling perusahaan sebagai bentuk protes kepada pihak kepolisian.

“Kami tidak akan pulang sampai rekan kami dilepas polisi dan juga perusahaan bertanggung jawab atas pencemaran laut,” tandasnya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat atau Kabid Humas Polda Sultra Kombes Pol Ferry Walintukan belum membalas pesan WhatsApp jurnalis TribunnewsSultra.com.

Hingga kini, TribunnewsSultra.com belum mendapatkan konfirmasi dari aparat kepolisian dan pihak perusahaan.

Sumber Berita / Artikel Asli : tribunnews

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here