Nikkei Asian Review: Gerakan Hijrah Milenial Gerogoti Popularitas Jokowi?

259

Gema “Allahu Akbar!” serta slogan-slogan pro Prabowo Subianto menggema di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta dalam kampanye akbar calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 akhir pekan kemarin (Minggu, 7/4).

Lebih dari 200 ribu orang rela berdesak-desakkan dan bahkan berkumpuk sejak subuh di GBK demi menghadiri kampanye akbar itu. Mereka datang dari berbagai daerah dan kalangan. Tidak sedikit anak-anak muda generasi milenial yang hadir.

“Naik, naik Prabowo-Sandi, turun, turun Jokowi,” begitu salah satu slogan yang lantang terdengar.

Prabowo mengobarkan semangat dalam kampanye itu lewat pidatonya yang berapi-api.

Mantan jenderal Angkatan Darat itu lantang menentang klaim rivalnya, petahana Joko Widodo (Jokowi) atas pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan serta pembangunan infrastruktur.

Prabowo mengatakan bahwa Jokowi justru membuat perusahaan-perusahaan milik negara berutang.

“Rakyat Indonesia menginginkan perubahan. Mereka tidak ingin dibohongi lagi. Mereka sekarang menuntut pemerintah yang memiliki akal sehat, yang akan bekerja untuk seluruh rakyatnya,” tegas Prabowo.

Di hari yang sama namun di lokasi yang berbeda, Jokowi calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin menggelar melaksanakan kampanye di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Tangerang Selatan.

Acara yang ditujukkan untuk menggaet simpati kaum muda itu semula diperkirakan akan menarik belasan ribu orang. Namun pada kenyataannya, hanya sekitar tujuh ribu orang yang datang pada kampanye itu.

Dalam kesempatan tersebut, nada bicara Jokowi cenderung santai.

“Saya senang kalian semua datang ke sini,” kata Jokowi.

“Hanya ada 10 hari (sampai pemilihan). Berhati-hatilah untuk tidak bubar karena tipuan, fitnah, kebohongan. Tolong ajak teman-temanmu, keluarga untuk pergi ke TPS berbondong-bondong,” sambungnya.

Nikkei Asian Review awal pekan ini mengulas momentum yang tampak berhasil diambil Prabowo dengan memangkas kekuatan Jokowi dalam hal merebut suara kaum muda atau generasi milenial.

Prabowo tampaknya mendapat manfaat dari meningkatnya gerakan hijrah yang marak dilakukan generasi milenial Indonesia.

Hijrah yang dimaksud merujuk pada upaya muslim untuk menjalani transformasi spiritual dengan meninggalkan gaya hidup sekuler, hedonistik untuk menjadikan Islam sebagai bagian yang lebih besar dari kehidupan mereka.

Untuk digarisbawahi, generasi milenial secara luas digambarkan sebagai mereka yang lahir antara awal 1980an hingga awal 2000an. Kelompok ini memainkan peran penting dalam pemilu kali ini. Komisi Pemilihan Umum (KPU) memperkirakan, generasi milenial mewakili 40 persen pemilih yang memenuhi syarat di Indonesia.

“Milenial membentuk kelompok usia terbesar di antara para pemilih. Mereka adalah orang-orang yang akan menentukan masa depan Indonesia,” kata analis politik dan kepala eksekutif perusahaan riset Alvara Research Center Hasanuddin Ali.

Generasi milenial adalah basis pemilih yang yang membantu mengantarkan Jokowi ke kursi nomor satu RI dalam oemilu 2014 lalu.

Jokowi pada saat itu muncul sebagai seorang reformator berwajah segar dan orang luar yang tampak tidak memiliki rekam jejak bermasalah.

Dia menarik simpati orang-orang muda yang sudah bosan dengan politisi pengawal lama yang terikat dengan rezim otoriter 32 tahun Suharto.

Prabowo, di sisi lain, dilihat sebagai perwujudan penjaga lama itu. Bukan tanpa alasan, selain mantan menantu Soeharto, Prabowo juga merupakan perwira militer berpangkat tinggi yang disebut-sebut memiliki kaitan dalam penumpasan aktivis demokrasi selama pergolakan politik tahun 1998.

Namun kini, dukungan generasi milenial untuk Jokowi tampak mulai tergelincir. Nikkei Asian Review memperkirakan bahwa hal ini kemungkinan merupakan cerminan dari perubahan sikap yang lebih luas di kalangan generasi milenial.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil survei bulan Maret lalu yang dilakukan oleh Litbang Kompas. Survei itu menunjukkan persaingan ketat antara kedua kandidat di antara para pemilih milenial. Bagi mereka yang berusia antara 22 dan 30, kesenjangan antara peringkat persetujuan kandidat adalah 8,1 persen dan bagi mereka yang berusia antara 31 dan 40, adalah 6,9 persen.

Bahkan, dalam survei yang sama ditemukan bahwa Prabowo memimpin di antara pemilih pemula, atau disebut juga Generasi Z.

Toto Suryaningtyas, seorang peneliti di Litbang Kompas, mengatakan gerakan hijrah di kalangan milenial telah memainkan peran dalam erosi popularitas Jokowi.

“Fenomena meningkatnya keterikatan pada budaya dan nilai-nilai agama jelas memiliki dampak. Khotbah di masjid sekarang sering diarahkan untuk mendukung Prabowo,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa khotbah yang sama sering menyerang kebijakan Jokowi yang dunilai bertanggung jawab untuk memacu ketidakadilan dan kemiskinan. [rmol]

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here