Nicho Silalahi Prihatin Sekelompok Buzzer Digerakkan untuk Munculkan Islamphobia di Indonesia

322
Aktivis Pro Demokrasi (Prodem) Nicho Silalahi

Aktivis dari Pro Demokrasi atau Prodem, Nicho Silalahi menyoroti gerakan Islamphobia yang diembuskan sejumlah pihak untuk mempengaruhi masyarakat.

Nicho menyoroti soal adanya gerakan dari beberapa pegiat media sosial yang menyerang sebuah film animasi.

Busana muslim yang dikenakan karakter anak dalam film itu pun dipermasalahkan karena mereka menganggap tidak sesuai dengan budaya Nusantara,

Bahkan, busana muslim itu disebut sebagai pakaian bomber Taliban.

 

 

Nicho menyinggung sejumlah gerakan yang bahkan dilakukan orang non-muslim di luar negeri yang menolak adanya Islamphobia.

“Sementara itu di negeri jauh malah Kaum Kafir pasang badan untuk memerangi Islam Fobia,” tulisnya di Twitter, dikutip pada Selasa (22/6/2021).

Ia membandingkan dengan kondisi di Indonesia dimana ia menyebut ada gerakan yang dilakukan oleh buzzer untuk mempropagandakan Islamphobia kepada masyarakat.

“Sedangkan di negara ini malah sibuk bayar Buzzer demi main isu cadar dan radikal Radikul untuk menghidupkan Islam Fobia. Padahal covid sudah memaksa semua orang harus bercadar keluar rumah,” lanjutnya.

 

Hidayat Nur Wahid prihatin ada gerakan Islamphobia di Indonesia

Sebelumnya, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA menerima aspirasi dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Aspirasi itu, disampaikan pada pelaksanaan Sosialisasi Empat Pilar, kerjasama MPR dengan Jaringan Komunikasi Masjid dan Musholla (JARKOMM) Pejaten Timur di Jakarta, Selasa (16/3/2021).

Salah satu aspirasi, itu disampaikan oleh K. H. Endang Darwis. Pembina JARKOMM Pejaten Timur itu meminta Hidayat untuk ikut menjaga tiga pilar yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Karena tiga pilar yang diajarkan Rasulullah SAW bisa menjadikan bangsa Indonesia terhindar dari disintegrasi.

Tiga pilar yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW ini bila ditabrak akan menimbulkan disintegrasi atau pemusnahaan bangsa,” ujar Endang Darwis.

Tiga pilar itu adalah, pertama, orang-orang yang berilmu tidak menggunakan ilmunya secara baik, tetapi justru menjadi penjilat.

 

“Coba lihat sekarang, garong-garong negara itu orang berilmu atau orang bodoh? Mereka bukan hanya menjadi penjilat negara, tetapi juga menjadi penjilat agama,” kata Endang Darwis lagi.

Kedua, negara tidak bisa mengurus kemaksiatan, sehingga kemaksiatan tersebut menjadi semakin merajalela.

“Karena sekarang orang tidak takut kepada hukum Allah, apalagi terhadap hukum manusia. Kita kemarin juga mendengar terkait legalisasi investasi minuman keras (miras),” ujarnya.

Ketiga, penegak hukum justru menjadi pelanggar hukum itu sendiri. “Ini juga tanda suatu negara akan terjadi disintegrasi atau hancurnya negara. Ketika orang yang berilmu, keluarga atau orang dekatnya bersalah, tapi hukum tidak menyentuh. Tapi, kalau ada orang yang dibenci atau orang miskin bersalah, hukum justru ditegakkan setegak-tegaknya,” tambah Kyai Endang.

Lebih lanjut, Kyai Endang menambahkan bahwa Umat Islam di Indonesia harus benar-benar terlibat dan menjamin agar Indonesia terus eksis. Termasuk bila terdapat upaya membawa Indonesia ke arah yang tidak tepat, dan perlu dikoreksi.

Menerima aspirasi tersebut, Dr. Hidayat Nur Wahid, MA sepakat dengan Kyai Endang.

Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang terdiri dari Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI 1945 sebagai Konstitusi Negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara, salah satunya bertujuan untuk mengingatkan peran Umat Islam yang besar dalam menciptakan tiga pilar tersebut yang sangat relevan dengan empat pilar MPR RI.

“Sambutan yang disampaikan oleh Kyai Endang tersebut sudah sangat lengkap, sudah seperti Muqadimah-nya Ibnu Khaldun,” selorohnya.

HNW sapaan akrab Hidayat menyatakan bahwa Sosialisasi 4 Pilar MPR RI ini kerap dilakukan kepada seluruh komponen bangsa, juga kepada simpul-simpul Umat Islam di Indonesia, untuk mengingat kembali peran dan jasa para ulama dan umara dalam menghadirkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“{Jadi, Umat Islam sudah dan dapat berkontribusi positif bagi Indonesia, karena masih ada segelintir pihak yang salah paham sehingga antipati pada umat Islam, mereka jadi Islamophobia, tapi disayangkan ada juga segelintir umat yang mengkafirkan dan membid’ahkan Indonesia, mereka menjadi Indonesiaphobia.”

 

“Padahal jelas sekali peran dan jasa Umat Islam untuk hadirnya Pancasila, NKRI dan mempertahankan Indonesia Merdeka. Peran yang harus terus menerus dijaga dan dikawal oleh Umat Islam, melalui pengenalan yang baik dan benar akan peran mensejarah Umat Islam untuk Kejayaan Indonesia,” pungkas HNW

Sumber Berita / Artikel Asli : Warta Kota

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here