Nadirsyah Hosen Sebut Pemerintah Ciptakan Abu Janda untuk Hadapi Ustad di kubu Oposisi?

1330

Terbongkarnya status Permadi Arya alias Abu Janda Al Boliwudi sebagai bagian dari jaringan Saracen, sebuah kelompok yang menurut Polri merupakan kelompok penyebar fitnah dan hoaks, berpotensi menyudutkan posisi pemerintah, khususnya Presiden ke-7 RI yang juga Capres petahana di Pilpres 2019, Joko Widodo alias Jokowi.

Pasalnya, ada dugaan kuat kalau tokoh ini sengaja dimunculkan pemerintah untuk menghadapi ulama di kubu oposisi.

Indikasi ini terungkap dari cuitan seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang juga merupakan dosen di Monash University Faculty of Law, Australia,  Nadirsyah Hosen.

“it’s just a game. Pemerintah akhirnya mengikuti metode Banser. Utk menghadapi mereka yang mendadak jadi ustad tanpa klasifikasi yang jelas, diciptakanlah Abu Janda. Cukup Abu Janda yang ngadepin mereka, gak usah para kyai. Skr utk ngadepin Fadli dan Fahri dipakailah Ngabalin,” katanya melalui akun Twitter pribadinya, @na_dirs, pada 25 Mei 2018.

Cuitan ini ditanggapi serius oleh banyak warganet, termasuk oleh politisi PAN yang juga pengurus PP Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya.

“Mas @na_dirs yang baik, anda dapat info penting kayak gini darimana? Pemerintah apakah benar menciptakan sosok Abu Janda?” tanyanya melalui akun Twitter @AkunTofa, Sabtu (9/2/1019).

Nadirsyah Hosen yang akrab disapa Gus Nadir, ngeles.

“Om @AkunTofa baca twit saya gitu saja gak paham. Apa ada kalimat saya yg bilang pemerintah menciptakan sosok Abu Janda? Padahal saya menulisnya dengan bahasa Indonesia lho. Mbok ya sesekali baca twit saya dengan hati jernih bukan dengan niat menggoreng  ,” katanya.

Mustofa tak mundur.

“Dalam twit ini ada dua nama penting: ” Pemerintah” & “Banser”.  A. Pemerintah mengikuti metode Banser. B. Diciptakan sosok Abu Janda. Jika bukan pemerintah, apakah yg om maksud menciptakan sosok Abu Janda adalah Banser?” jawab Mustofa dengan melingkari kata ‘pemerintah” dan “Banser” pada cuitan Gus Nadir yang pertama, dengan warna merah.

Hingga Minggu (10/2/2019) pagi WIB, dari pantauan di akun @na_dirs tidak ditemukan tanggapan Gus Nadir atas jawaban Mustofa, karena setelah menanggapi pertanyaan politisi PAN itu, Gus Nadir asyik mencuit soal Toko Bread & Butter, tentang kitab Nahjul Balaghah yang ia temukan di kamar almarhum bapaknya, soal kemunculan @MuhammadiyahGL dan @GontorGarisLucu, dan lain-lain.

Seperti diketahui, data bahwa Abu Janda merupakan bagian dari jaringan Saracen terungkap setelah pada 31 Januari 2019 Facebook mengumumkan telah menghapus 207 Facebook Pages, 800 akun Facebook, 546 Facebook Groups dan 208 akun Instagram, karena terlibat perilaku terkoordinasi tidak otentik di Facebook di Indonesia.

“Akun-akun ini menyesatkan yang lain tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan,” kata Nathaniel Gleicher, Head of Cybersecurity Policy Facebook, dalam keterangannya.

Ia bahkan menyebut kalau semua halaman, akun dan grup yang dihapus tersebut berhubungan dengan grup Saracen, sindikat online di Indonesia.

“Penyalahgunaan terkoordinasi grup Saracen di platform menggunakan akun tidak otentik adalah pelanggaran kebijakan kami dan kami pun melarang seluruh organisasi itu,” tegas Nathaniel.

Akun yang dihapus di antaranya akun milik Permadi Arya (Abu Janda) yang memiliki 500.000 followers, akun Kata Warga (Page), Darknet ID (Page), berita hari ini (Group), dan ac milan indo (Group).

“Kami menurunkan halaman, grup dan akun itu berdasarkan behavior, bukan konten yang mereka posting. Dalam kasus ini, orang di balik aktivitas ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk menggambarkan diri mereka dan itulah dasar aksi kami,” jelas Nathaniel.

Sebelumnya, pada Agustus 2017, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri menangkap tiga orang yang diklaim sebagai bagian dari kelompok Saracen, sindikat penyedia jasa konten kebencian. Polisi menyebut kelompok ini memiliki keahlian untuk mencaplok akun media sosial hingga membaca situasi pemberitaan.

“Kelompok Saracen ini menggunakan lebih dari 2000 akun media untuk menyebarkan konten kebencian,” kata Kasubdit 1 Dit Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Irwan Anwar di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta, pada 23 Agustus 2017.

Polisi menyebut, kelompok ini menerima pemesanan dari kelompok tertentu untuk membuat konten berujar kebencian.

“Mereka juga bisa mencaplok atau mengambil akun media sosial orang lain, yang dianggap berseberangan dengan mereka,” jelas Kabag Mitra Biro Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Awi Setiyono.

Awi menjelaskan, Kelompok Saracen tidak terikat pada satu kelompok saja, dan konten yang dibuat tergantung pada siapa pemesannya.

“Namun dari penelusuran terhadap akun facebook yang diduga milik salah satu tersangka, Sri Rahayu Ningsih, berbagai status yang diunggah lebih banyak berisi kritik terhadap pemerintahan Jokowi saat ini,” katanya.

Awi bahkan mengatakan kalau Kelompok Saracen memiliki keahlian untuk membaca situasi pemberitaan saat membuat sebuah konten kebencian, namun dia belum membeberkan, siapa pemesan, maupun aktor intelektual dibalik Sindikat Saracen.

“Hal ini masih terus didalami,” ujarnya.

Ketiga orang yang ditangkap karena disebut sebagai anggota kelompok Saracen yang ditangkap adalah Jasriadi (32), Muhammad Faizal Tanong (43), dan Sri Rahayu Ningsih (32). Ketiganya ditangkap di lokasi dan waktu yang berbeda-beda. Faizal ditangkap di Koja, Jakarta Utara pada 21 Juli 2017; Jasriadi ditangkap di Pekanbaru, Riau, pada 7 Agustus 2017; dan Sri ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2017.

Atas penangkapan ini, Presiden Jokowi mengatakan telah meminta Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkap kelompok ini hingga ke akar-akarnya, karena kelompok Saracen yang menyebarkan hoaks di dunia maya, sangat mengerikan.

“Individu saja sangat merusak kalau informasinya itu tidak benar, bohong apalagi fitnah. Apalagi yang terorganisasi ini mengerikan sekali. Kalau dibiarkan mengerikan,” kata Jokowi di silang Monas, Jakarta, Minggu (27/8/2017).

Jokowi mengatakan, semua negara saat ini mengalami beredarnya informasi palsu atau hoaks karena era keterbukaan di media sosial. Untuk itu, pihak kepolisian harus siap mengatasi masalah hoaks ini.

“Saya sudah perintahkan kepada Kapolri diusut tuntas, bukan hanya Saracen saja, tapi siapa yang pesan. Siapa yang bayar. Harus diusut tuntas,” katanya.

Pertanyaan yang saat ini muncul di publik adalah, jika Facebook menyebut Abu Janda sebagai bagian dari kelompok Saracen, maka siapa aebwnarnya tiga orang yang ditangkap polisi pada Agustus 2017?

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here