Moeldoko Ungkap Fakta Aksi 22 Mei: Sebut Semua Setingan hingga Rencana Pertemuan Jokowi dan Prabowo

378

Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko, angkat bicara soal aksi kerusuhan 22 Mei di Jakarta yang beberapa waktu terjadi.

Moeldoko menyayangkan adanya aksi kerusuhan tersebut.

Karena aksi demonstrasi yang seharusnya berjalan damai menjadi chaos karena ulah perusuh.

Hal itu disampaikan oleh Moeldoko saat wawancara bersama Tv One, Minggu (26/5/2019).

“Sangat disayangkan, kita sudah punya perjalanan demokrasi yang panjang yang cukup baik, bahkan kita menjadi contoh di mana-mana ya,” kata Moeldoko.

“Sangat disayangkan pada satu peristiwa demo, semua berjalan bagus tetapi situasi menjadi berubah karena ada tindakan perusuh yang tiba-tiba.”

Meski sudah memprediksi sebelumya, Moeldoko mengaku kaget dengan aksi dari para perusuh.

“Dari kita kaget ada perusuh yang disiapkan, walaupun sebenarnya dari awal kita memonitor dengan baik bahwa akan terjadi begini dan seterusnya.”

“Mungkin upaya dari perusuh adalah menciptakan kondisi chaos di suasana demo pada hari pertama nggak tercapai akhirnya membuat suasana baru, semuanya setingan ya.”

“Yang pada akhirnya ini mencoreng di mata internasional seolah demokrasi kita kurang baik.”

“Padahal kalau kita ikuti Pemilu semuanya berjalan baik,” kata Moeldoko.

Semua serba setingan

Moeldoko juga menyebut aksi kerusuhan 22 Mei di Jakarta telah diseting oleh oknum tertentu.

“Semua berjalan baik, tapi tahu-tahu 2 jam 3 jam berikutnya ada serangan yang langsung tabrakan dengan petugas,” kata Moeldoko.

“Antara jam 12-an ya, tahu-tahu muncu lagi yang menjelang subuh, serangan di luar dugaan membakar 25 mobil.”

“Berikutnya suasana menjadi chaos kita tidak tahu kejadiannya ada di mana, tahu-tahu mayatnya sudah ada di rumah sakit, tahu-tahu ada wartawan yang mewawancarai di situ, ada dokternya yang seperti wawancara begitu, semuanya setingan, semua serba setingan,” ungkapnya.

Kini pihak berwajib tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap siapa dalang kerusuhan.

“Ini harus dipetakan dengan baik, siapa sebenarnya yang bermain,” kata Moeldoko.

Lebih lanjut Moeldoko menegaskan pihak aparat keamanan membedakan tindakan kepada para demonstran dan perusuh.

Para demonstran akan diperlakukan dengan baik sebagaimana hak mereka untuk bersuara dilindungi oleh konstitusi.

Namun ketika melakukan kerusuhan, atau ada perusuh yang menyusup ke dalam aksi, maka aparat akan melakukan tindakan pengamanan.

“Ini semuanya harus transparan kita buka kepada publik.”

“Saya harus mengatakan juga kalau ada perbedaan perlakukan, kalau demo tidak bisa diperlakukan dengan cara-cara kekerasan kecuali dia melaukan tindakan yang brutal.”

“Tapi manakala kita sedang menghadapi perusuh yang melakukan serangan membakar dan seterusnya maka bisa dibayangkan.”

“Masyarakat harus paham, bagaimana menghadapi demonstran dan perusuh,” kata Moeldoko.

Langkah antisipasi

Proses Pilpres 2019 masih panjang, mengingat kubu Prabowo-Sandi telah mengajukan gugatan sengketa Pilpres ke Mahkamah Konstitusi.

Agar tidak terjadi kerusuhan susulan, pihak pemerintah telah melakukan langkah-langkah pencegahan.

Salah satunya dengan menjalin komunikasi dengan kubu Prabowo-Sandi.

Moeldoko mengungkapkan, pertemuan antara Jokowi dan Prabowo telah diatur.

Tinggal menunggu momentum yang tepat sampai keduanya bertemu.

“Pemerintah telah membangun komunikasi politik dengan semua pihak.”

“Komunikasi politik kita tempatkan pada level tertinggi untuk menyelesaikan persoalan, ini sedang dibangun.”

“Kita tinggal menunggu tak lama lagi, Pak Jokowi bisa bertemu Pak Prabowo.”

“Tinggal menunggu momentum yang tepat,” kata Moeldoko.

Simak video lengkap pernyataan Moeldoko di bawah ini.

(*)

.tribunnews

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...