Membangun Optimisme Perawat Indonesia

202

By Syaifoel Hardy

Memasuki tahun ke tiga kerja di Kuwait, saya merasakan kejenuhan. Jenuh karena tidak melihat tantangan baru dalam kerja. Tidak juga ada tanda-tanda kemajuan serta pengembangan profesi. Waktu itu, di tengah diskusi kami dengan teman-teman sesama perawat dari India, Pakistan dan Filipina, sempat disebut nama Dubai sebagai perbendaraan baru tempat kerja. Saya pun tergelitik, kenapa tidak dicoba?

Isyu ini saya bicarakan dengan teman-teman perawat Indonesia. Tidak ada respon, malah cemooh. Tidak ada satu pun yang tergerak ingin ke Dubai untuk menyincipi peluang ini. Tentu saja dengan risiko. Dari Kuwait ke Dubai itu ada cost: biaya pesawat, hotel, visa, tenaga, waktu. Tidak mudah dapat izin dari Kuwait. Jangankan ke Dubai, pulang ke Indonesia saja, ribetnya bukan kepalang. Tapi saya nekad.

Bertepatan dengan waktu cuti, saya tidak pulang ke Indonesia. Sesudah saya manfaatkan untuk Umrah di Tanah Suci, sisa waktunya saya gunakan untuk cari kerja ke Dubai. Biayanya cukup besar memang seperti yang saya sebut di atas. Alhamdulillah, meski sendiri, saya berani. Yang penting Bismillah….

Dalam hati saya mikir, kalaupun tidak dapat pekerjaan di Dubai nanti, toh saya tetap diuntungkan, bisa melihat United Arab Emirates lebih dekat, dan mengenal Dubai dengan mata kepala sendiri. Dengan perjuangan dan tekad bulat, saya berangkat ke Dubai naik pesawat Emirates Airlines untuk pertama kalinya.

Tiba di Dubai airport, keluar dari bandara, bingung mau nginap di mana. Satu pun orang Indonesia tidak saya kenal. Saya minta tolong sopir taxi untuk membantu mencari penginapan yang murah. Ibaratnya di toko pun saya mau asal ada tempat tidur. Ditunjukkannya saya sebuah toko yang belum siap pakai. Saya tinggal di situ selama 2 malam, tiga hari. Membayar murah. Yang penting ada tempat berteduh dan tidur. Pagi hingga sore selama tiga hari di Dubai saya keliling dari satu hospital ke hospital lain, untuk mencari kerja, di antaranya ke Department of Health, semacam Dinas Kesehatan provinsi.

Tidak kelihatan tanda-tanda diterima, saya teruskan petualangan mencari kerja ke Abu Dhabi, ibukota UAE. Sama seperti di Dubai. Hari pertama saya tidur di emperan masjid. Hari kedua tidur di bagian belakang Kantor Kedutaan dekat dapur. Sekali lagi, yang penting ada tempat untuk merebahkan tubuh. Dua hari di Abu Dhabi keliling ke hospital-hospital ternama, dengan bekal ijazah SPK, tidak Nampak tanda-tanda saya diterima. Saya tidak peduli, yang penting jalan terus. Tentang nasib, saya serahkan kepadaNya.

Di Abu Dhabi dua hari, kemudian baik lagi ke Dubai selama 2 hari. Total tinggal di UAE sepekan, lantas balik ke Kuwait dengan ‘tangan kosong’ alias tanpa hasil. Beberapa teman-teman mungkin menertawakan upaya yang sudah saya lakukan. Saya dibilang Perawat Koplak. Namun saya tak bergeming. Bagi saya, yang menentukan masa depan ini adalah DIA serta ihtiyar saya, bukan di tangan teman-teman. Meski secara fisik saya berjuang sendiri, dalam hati saya merasa berjuang dengan didukung oleh Allah SWT. Tuhan semua manusia.

Tidak disangka, sebulan sesudah itu saya dapat panggilan dari Dubai Department of Health. Senang tetapi tidak terlalu. Karena panggilan kali ini bukan untuk diterima kerja, melainkan panggilan interview. Madam yang menelpon saya bilang,: “You are coming to Dubai not for a job. But for interview.” Tanpa mikir dua kali, saya jawab,: “Yes Mam, I am coming.”

Singkat cerita. Saya terbang lagi ke Dubai. Tidak perlu saya ceritakan bagaimana ribetnya saya dapat izin dari tempat kerja, beli tiket, serta ngurus Visa lagi ke UAE Embassy. Saya harus keluar lagi duit, waktu, tenaga serta fikiran. Namun itulah, hidup ini harus diperjuangkan. Guna memperjuangkanya, perlu keberanian menghadapi segala kemungkinan. Gagal adalah momok yang paling menakutkan bagi mereka yang pesimis. Sebaiknya, bukan bagi mereka yang optimis.

Alhamdulillah perjuangan saya ke Dubai berakhir dengan kemenangan. Saya diterima di Department of Health, sebagai perawat Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di kota Metropolitan Dubai.

Pesan moral yang ingin saya sampaikan kepada perawat muda adalah: pilihan anda hanya ada dua dalam menghadapi masa depan ini, yakni berhasil atau gagal. Anda harus berani menghadapi keduanya. Percayalah, kalaupun anda gagal, minimal anda akan diuntungkan dengan beroleh pengalaman. Pengalaman itu mahal harganya. Kegagalan, bukan berarti akhir segalanya, tetapi permulaan langkah menuju kesuksesan.

Biasanya anda takut mencoba karena takut rugi: biaya, waktu serta tenaga. Inilah 3 penyakit yang paling berbahaya. Cara mengatasinya adalah bergaulah dengan perawat-perawat yang berani berjuang. Bukan Perawat Koplak.

Mau mencoba? Ayo, jangan hanya Dubai, tapi ke Jerman!!!

Malang, 5 December 2019
WA 081336691813

Comments

comments

Loading...