Massa Pengadang Neno Warisman di Pekanbaru Preman Bayaran?

1750
Ini Preman penghadang yang ditangkap Muslim Pekanbaru, ternyata bukan asli Melayu Pekanbaru melainkan berwajah Indonesia Timur

 JAKARTA – Presidium #2019GantiPresiden Neno Warisman tak bisa menginjakkan kaki di Pekanbaru, Riau akibat diadang puluhan massa di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau, akhir pekan.

Ketua Gerakan Masyarakat Menuntut Keadilan (GMMK) Riau, Yana Mulyana menyatakan, massa yang mengadang dan melempari mobil yang ditumpangi Neno dengan air mineral itu adalah bayaran.

Mereka, kata Yana, bukan warga Pekanbaru dan merupakan preman-preman yang hanya datang khusus untuk mengadang Neno Warisman.

Yana menyebut, mengetahui hal itu dari data-data jaringan komunikasi media elektronik yang saling terhubung menggunakan standar sistem global transmission control yang baik.

“Bentuknya tulisan, gambar dan video. Mereka sengaja mengadang dengan melakukan persekutuan secara sistematis dan meluas,” kata Yana dalam keterangannya, Selasa (28/8/2018).

Yana membeberkan, kelompok bayaran itu akhirnya membubarkan diri pada Sabtu sore.

Baru setelah itu, datang kelompok pendukung Neno yang bermaksud untuk menjemput namun tetap gagal.

Sempat terjadi aksi bentrok antar kelompok pendukung dengan salah seorang pria. Diduga, pria itu salah seorang dari kelompok bayaran.

Saat bentrok itu terjadi, disebut-sebut ada seorang wanita yang kena pukul yang lantas dilakukn pengejaran oleh massa pendukung Neno.

Pihaknya menilai, adanya pembiaran yang dilakukan oleh pihak keamanan atas persekusi yang menimpa Neno Warisman.

“Apakah pihak kepolisian tidak melakukan pengamanan sesuai dengan tugas dan wewenang sesuai dengan Undang-undang?” ujarnya.

Karena itu, lanjut Yana, pihaknya mendesak Polda Riau mengusut dan mengungkap siapa kelompok bayaran tersebut.

Ia mengklaim, desakan itu datang mulai dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, hingga dari 53 organisasi masyarakat (ormas) yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Menuntut Keadilan (GMMK).

Yana juga menyebut salah satu seorang rombongan Neno, Said Lukman, juga mendapat perlakuan kasar dari Kabinda Riau saat pemulangan.

“Kami juga melihat saudara Kabinda bersikap begitu reaktif terhadap Bunda Neno dengan melakukan tindakan kasar. Bahkan arogan kepada tokoh masyarakat,” katanya.

Ia lantas mempertanyakan peran BIN dalam kejadian tersebut.

“Apa kewenangan Kabinda dalam kapasitasnya terhadap persoalan ini? Apakah memang demikiankah fungsi intelijen?” katanya lagi.

Atas sikap kasar itu, dia mendesak agar Kabinda segera dicopot dari jabatannya.

 

“Tindakan Kabinda Riau melakukan tindakan kasar terhadap Bunda Neno, tidak sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara,” ujarnya.

(JPG/ruh/pojoksatu)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here