Marah Desak Serang Balik KKB Papua, Pengamat Militer Anggap Berbahaya: Hati-hati Bicara, Pak Menhan

416

JAKARTA – Pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang marah merespon penyanderaan dan pembunuhan terhadap Briptu Heidar oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua mendapat sorotan.

Pernyataan Menhan, diangap cukup berbahaya lantaran bisa memunculkan persepsi salah dari masyarakat.

Demikian disampaikan pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, dikutip PojokSatu.id dari RMOL, Senin (13/8/2019).

“Jadi, serangan balik bukan sekedar serangan balik dalam artian ini seakan-akan sebuah aksi balas dendam,” katanya.

Semestinya, kata Khairul, Menhan bisa lebih berhati-hati dalam memilih kata yang dilontarkan kepada publik.

“Perlu saya tekankan supaya berhati-hati bicara, pak Menhan,” ingatnya.

Menurutnya, yang terpenting justru adalah penegakan hukum atas tindakan para pelaku.

“Bukan sekedar serangan balik, tapi upaya penegakkan hukum menindak tegas pelaku-pelaku pembunuhan,” jelasnya.

Selain itu, hematnya, pernyataan serangan balik itu bisa menimbulkan persepsi publik bahwa selama ini aparat keamanan tidak ada aktivitas di daerah operasi tersebut.

Ia menyatakan, sebagai daerah operasi, apapun yang terjadi di sana, operasi dipastikan tetap akan berjalan.

“Daerah ini kan memang daerah operasi. Ya artinya mau ada penyerangan atau tidak ada penyerangan ada korban atau tidak ada korban aktivitas operasi tetap berjalan,” jelasnya.

Karena itu, ia berharap kepada pemerintah agar tak sembarangan melontarkan pernyataan dengan ucapan yang tidak masuk akal. Setidaknya bisa berbicara secara bijak.

“Kalau pejabat pemerintah yang bicara kan harusnya berbeda dengan orang awam begitu, ya harus lebih masuk akal, lebih teknis, lebih bijak juga bicaranya,” saran dia.

“Jadi bukan terkesan marah yang tidak berdasar gitu ya. Jadi spesifik saja lah kita bicara soal ini ada aparat yang tertembak, pelakunya sudah bisa di identifikasi ya tinggal menangkap,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meminta agar aparat keamanan turun untuk menumpas habis KKB Papua agar tak terus membuat keonaran.

Ryamizard juga meninta aparat militer untuk segera melakukan serangan kepada KKB guna membalas kematian Briptu Hedar.

Demikian disampaikan Ryamizard kepada wartawan usai mengisi kuliah umum di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (13/8/2019).

“Saya enggak suka dengan istilah KKB-KKB. Pemberontak itu harus dihantam, harus diselesaikan itu pemberontak. Jangan seenak enaknya bunuh-bunuh orang,” tegasnya.

Saking geramnya, Ryamizard bahkan mengaku dan menawarkan diri untuk mengambil allih operasi Papua.

Hal itu akan dilakukannya jika aparat setempat merasa tidak sanggup untuk melakukan serangan balasan kepada KKB Papua.

Anggota Polda Papua Briptu Hedar Ditemukan Tewas Setelah Disandera OPM

“Kalau nggak bisa nyelesaiin, saya ikut nanti untuk menyelesaikannya,” tegasnya lagi.

Tak hanya itu, Menhan juga meminta agar istilah KKB tak lagi digunakan.

Menurutnya, KKB Papua adalah jelas-jelas gerakan separatis dan lebih tepat disebut sebagai pemberontak.

 

“Apa KKB? (Mereka) pemberontak,” katanya.

Kemarahan yang sama juga ditunjukkan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengamini pernyataan Menhan.

Bahkan, JK mendesak agar aparat keamanan tak berdiam diri dengan melakukan serangan balik.

“Harus diserang balik. Itu harus,” tegasnya kepada wartawan di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (13/8/2019).

JK juga menegaskan, kelakuan para pengacau keamanan itu sudah tak bisa dibiarkan begitu saja.

“Kalau diterima (diam) begitu saja itu salah,” tekan dia.

(ruh/pojoksatu)

Comments

comments

Loading...