Mahasiswa Dibanting Polisi Saat Demo di Tangerang, Rocky Gerung: Indonesia Sedang Menuju Otoritarianisme

628
Rocky Gerung

Baru-baru ini heboh insiden seorang mahasiswa dibanting oleh polisi ketika melakukan aksi demo di Tangerang, Banten pada Rabu, 13 Oktober 2021 kemarin.

Insiden mahasiswa yang dibanting polisi saat demo di Tangerang menuai perhatian dari pengamat politik sekaligus akademisi Rocky Gerung.

Rocky Gerung menilai, insiden mahasiswa dibanting polisi saat demo di Tangerang menunjukkan bahwa Indonesia sedang menuju otoritarianisme.

“Itu menimbulkan kesan bahwa memang Indonesia sedang menuju ke arah otoritarianisme, di lapangan ada praktek otofeodalisme, membanting demonstran,” kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip Kabar Besuki dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Kamis, 14 Oktober 2021.

Rocky Gerung mempertanyakan alasan polisi membanting mahasiswa yang hanya bermaksud menyampaikan protes kepada Pemkot Tangerang secara verbal di jalanan.

Dia menilai, mahasiswa tak pernah berniat melakukan tindakan kekerasan karena yang ada di dalam tubuhnya hanya berisi pemikiran-pemikiran cerdas.

“Tubuhnya hanya berisi pikiran, ngapain mesti dibanting? Dia cuman melakukan protes dan protesnya itu verbal, mahasiswa nggak pernah bikin kekerasan dibanting kekerasan,” ujarnya.

Rocky Gerung juga sempat berbicara dengan sejumlah kaum milenial terkait isu mahasiswa yang dibanting oleh polisi saat demo di Tangerang.

Dia menyebut, milenial yang berdiskusi dengannya berpikir sekaligus bertanya-tanya mengenai nasib Indonesia ke depan jika masih ada polisi yang membanting mahasiswa di jalanan ketika melakukan aksi demo.

“Saya habis bicara dengan beberapa millenials dan tahu isu-isu itu, mereka membahas ‘Bagaimana mungkin mahasiswa dibanting?’. Ini millenials yang SMA kelas 3 atau mahasiswa kelas (semester) satu baru mau mendaftar, melihat fakta-fakta di lapangan itu lalu mereka berpikir ‘Indonesia seperti apa nih?’,” katanya.

Selain itu, milenial tersebut juga bertanya-tanya mengenai cara berpolitik PDIP yang terkesan hanya berbicara dan berpikir mengenai strategi untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan.

“Mereka lihat juga ‘Bagaimana mungkin ada partai yang hanya bicara soal seruduk-menyeruduk itu?’. Mereka menganggap ini PDIP nggak paham tentang politik modern, orang bicara tentang environmental ethics. Kan mereka mau denger bagaimana Ganjar bicara tentang perlindungan lingkungan, demikian juga Puan atau PDIP,” ujar dia.

Rocky Gerung mengatakan bahwa milenial yang berdiskusi tentang sejumlah isu dengannya merupakan calon pemilih dalam pemilu yang akan datang.

Menurutnya, mereka seharusnya diberikan asupan pertarungan gagasan antar kontestan pemilu dan bukan psywar antar kontestan.

“Jadi ini suatu lapisan pemilih baru yang mungkin 2024 atau 2027 apalagi udah pasti masuk dalam kotak suara untuk memilih. Mereka inilah yang harusnya menonton pertarungan gagasan antara capres-capres ini, yang ada adalah pertarungan ledekan tuh,” tuturnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here