*Lius Sungkarishma dan Kebangkitan Nasional kedua*

210
Lieus Sungkarisman

Oleh : (Dr.Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)

Alhamdulillah. April tanggal 9 tahun ini, saya menyusul Hariman Siregar dan Lius Sungkarishma ke Solo. Tanggal 10 nya akan ada pidato Prabowo pada acara Kampanye di lapangan Sriwedari. Katanya akan ada lautan massa.

Keterbatasan dana dan mahalnya harga tiket membuat saya bingung malam ketika tiba di Solo. Saya akan tidur di mana? Hotel mahal sudah tidak terjangkau lagi dengan bengkaknya kartu kreditku. Galau, namun saya mendampingi saja Hariman, Lius dan Modrick meninjau lapangan di malam hari.

Sekembali ke hotel mereka, Sahid, di ruang lobby kami masih mengobrol satu jam. Lius bilang ke saya, kamu di kamar saya aja tidur. Kita bisa berdua. Hariman biar sendiri.

Itulah Alhamdulillah maksudku. Bukan saja saya sudah kesulitan uang selama 5 tahun melawan rezim Jokowi, tiba2 masih bisa nginap di hotel nyaman, tapi juga saya bisa bersama Koh Lius, tokoh Tionghoa yang saya kagumi.

Hubungan saya dengan Lius mulai terbangun sejak dia mulai menantang Ahok di Jakarta, sekitar 2015. Lius mulai dengan gerakan “Kamsia Ahok”. Namun, kala itu dia masih memuji Jokowi. Saya dan dia berbeda di 2014. Saya tidak suka Jokowi sedangkan Lius adalah pendukung utama Jokowi, dan tadinya juga Ahok.

Dalam soal Ahok kami mempunyai kesamaan menilai bahwa Ahok sok kuasa semena2, khususnya dalam penggusuran2 rakyat kecil demi kepentingan kaum bisnis properti. Dalam menentang Ahok, Lius sering bersama tokoh Tionghoa lainnya, Jaya Suprana, juga ada Zeng Wie Jan. Sedang saya bersama Bursah Zarnubi (Bursah akhirnya jadi pendukung Jokowi) membangun posko “Lawan Ahok”.

Namun, pada masa itu ketika saya mengatakan pada Lius bahwa Ahok dan Jokowi satu paket alias Jokowi yang selalu me back up Ahok, Lius masih terus membela Jokowi.

Pergeseran politik Lius terhadap Jokowi mungkin terjadi pada saat pilgub DKI. Dukungan Jokowi yang membabi-buta terhadap Ahok saat itu membuat Lius semakin meninggalkan rezim Jokowi. Disamping itu, Lius semakin dekat dengan kelompok Islam militan. Di mana Lius memepersepsikan kelompok Islam ini mengalami alienasi dan penyingkiran politik oleh rezim Jokowi. Untuk yang terkahir ini, kelihatannya menjadi ciri khas Lius, yang selalu ingin dekat dengan masyarakat yang ditindas.

Tanggal 10 April pagi, saya dan Lius berjalan berdua memutari lapangan Sriwedari. Ribuan massa yang duduk2 di pinggir lapangan berteriak2 dan mengejar Lius minta berfoto, ada juga yang selfie. Hampir satu jam lebih saya harus menemani Lius yang memang sudah menjadi apek-apek (kakek2) dengan sabar melayani semua orang. Orang2 Jawa itu ada yang dari Solo dan ada dari luar Solo. Segala pose dan selfie dilayani dari satu kelompok ke kelompok lain. Ada juga seorang perempuan luar Solo, yang terpisah dari rombongannya menyempatkan diri selfie. Namun, beberapa hal yang saya catat benar adalah pernyataan mereka bangga lihat Lius yang orang Tionghoa mau berjuang.

Fenomena Lius dalam perjuangan saat ini adalah kehadiran Lius ketika masyarakat, khususnya masyarakat Islam dan lebih khusus lagi kelompok Prabowo, sudah menjadikan tema anti Asing dan Aseng sebagai kata2 perjuangan.

Tema anti asing jelas arahnya, namun tema anti aseng dapat bermakna ganda, yakni RRC dan China-Indonesia. Terhadap China-Indonesia, pimpinan 212 mengarah pada istilah 9 Naga.

Dengan kehadiran Lius Sungkarishma, yang menjadi bagian inti gerakan anti Jokowi, persepsi anti aseng tentu akan mendapatkan diskursus yang tepat. Pertama, sentimen anti aseng tidak menjadi bias pada persoalan ras, melainkan akan menjadi persoalan kecemburuan sosial dan ketimpangan. Kedua, anti aseng akan bersifat lokal apalbila China-Indonesia tidak mempunyai konspirasi politik dengan RRC melalui program OBOR (Belt and Road Initiative).

Sekali lagi, karena ketokohannya dan sejarah perjuangannya,
Kehadiran Lius dalam perjuangan kelompok2 Islam militan dan #2019 Ganti Presiden, tentunya dapat membangun sebuah konstruksi kebangkitan nasional kedua. Kebangkitan Nasional di masa lalu adalah klaim kebangkitan pribumi mengusir penjajahan. Sampai 73 tahun Indonesia Merdeka, segregasi masyarakat pribumi vs. non pribumi keturunan Tionghoa dirasakan semakin jauh. Sebab, misalnya kehadiran orang2 Tionghoa dalam berpolitik tidak dimasukkan dalam agenda “affirmative policy” bagi kesejahteraaan pribumi. Misalnya, seperti sedang terjadi di Afrika Selatan dan Malaysia. Melainkan, tetap saja mempertahankan status quo oligarki ekonomi dan kesenjangan sosial. Situasi sosial yang selalu dipertahankan kekuatan anti kebaikan.

*Penutup*

Sejarah bangsa kita adalah sejarah pengkhianatan demi pengkhianatan. Berkuasanya negara kecil Belanda selama 350 tahun di bumi ini bukan karena mereka hebat, tapi kitalah yang lemah. Kelemahan itu bersumber dari masalah keberanian dan pengkhianatan.

Diantara perebutan pengaruh dunia, barat vs RRC di kawasan pasifik, khususnya Indonesia, Indonesia hanya bisa dihargai jika kekuatan bersama rakyat dibangun. Hal itu hanya bisa maksimal jika semua unsur rakyat saling memperkuat. Dan keadilan, khususnya ekonomi dijalankan.

Fenomena Lius Sungkharisma mewakili kalangan Tionghoa dalam perjuangan keadilan dan demokrasi, semoga menjadi jalan Tuhan agar bangsa kita ke depan menemukan kekuatan besarnya sebagai bangsa kuat, solid dan mampu disegani.

Teriring doa, semoga Koh Lius sabar dan tabah di penjara dalam menghadapi tudingan makar. Semoga Allah bersamamu…

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here