Kwik Kian Gie Sebut Sejumlah Sinyal Ekonomi Sudah Mengkhawatirkan

298
Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno (dua dari kiri), bersama ekonom Kwik Kian Gie, dalam sebuah talk show di rumah pemenangan Prabowo-Sandiaga, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu malam, 26 September 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

Jakarta – Kwik Kian Gie menilai perkembangan perekonomian Indonesia sudah dalam sinyal mengkhawatirkan. Ekonom senior ini menyebutkan sinyal perekonomian sudah mengkhawatirkan karena terlihat dari membengkaknya utang negara, merosotnya nilai tukar rupiah, defisit neraca perdagangan.

“Nilai tukar rupiah sudah sangat merosot, dari pada awal pemerintahan Joko Widodo di kisaran Rp 9.300-an, merosot hingga Rp 15.000 (per dolar AS). Itu merosotnya sudah berapa?” ujar Kwik dalam Diskusi Rabu Biru bertemakan Nestapa Ekonomi 2018 di Media Center Prabowo-Sandi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu malam, 19 Desember 2018.

Kwik menjelaskan, beban utang negara juga sudah semakin membengkak akibat pembangunan infrastruktur yang tidak terkendali dan didanai dengan utang. “Impor kita juga terus membesar, sementara ekspor komoditas mandeg. Begini keadaan ekonomi kita sekarang,” katanya.

Pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi, dinilai Kwik, telah melakukan pembangunan infrastruktur secara masif tapi tidak memperhitungkan kemampuan APBN dalam mendanai proyek tersebut. Akibatnya, keuangan negara semakin terbebani. Kondisi perekonomian nasional, menurut Kwik, semakin diperparah dengan makin merajalelanya praktik-praktik korupsi oleh para penyelenggara negara.

Kwik yang pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri (Ekuin) ini menilai pembangunan infrastruktur yang digencarkan oleh pemerintahan Jokowi tidak tepat waktu. Pembangunan infrastruktur ini juga terlihat main hantam saja tanpa memperhitungkan berbagai aspek.

Lebih jauh Kwik mencontohkan pembangunan ruas jalan di Papua yang sangat bagus dan menelan biaya sangat besar tercatat hanya dilalui oleh kendaraan dalam jumlah sedikit, sekitar 500 unit dalam seharinya. “Memang terlihat pembangunannya luar biasa. Tetapi keuangan negara sangat terbebani oleh utang-utang untuk mendanai proyek-proyek tersebut. Pembangunan infrastruktur ini dilakukan dalam waktu yang tidak tepat.”

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menanggapi kritik tentang besarnya nilai utang yang dialamatkan ke pemerintah. Kali ini ia meminta publik untuk lebih menyoroti aset yang dimiliki negara, ketimbang utang negara.

“Aset, yang sebenarnya lebih besar. Kita sering kali tidak atau lupa untuk secara kultural untuk bisa menyampaikan,” ujarnya pada Property Outlook 2019, di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Senin, 17 Desember 2018.

Terlebih, aset-aset itu nilainya sangat besar dan telah berdampak pada perekonomian di berbagai sektor. Selain itu, menurut Sri Mulyani, khusus untuk masalah utang selalu jadi fokus perhatian pemerintah. “Utang itu sudah dipelototi banyak orang,” katanya.

Selain Kwik Kian Gie, tampil juga dalam diskusi publik dalam acara diskusi Rabu malam lalu adalah Fuad Bawazier dan pelaku usaha Rifda Ammarina. Fuad Bawazier yang dulu pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan kini merupakan anggota Dewan Penasehat Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi. tempo

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.