Kritik Aktivis dan Netizen Jadi ‘Kado’ Ultah Menkes Terawan

153
Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto

Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto berulang tahun pada hari ini, Rabu (5/8). Pria kelahiran Yogyakarta 1964 itu kini genap menginjak usia 56 tahun.

Kabar ulang tahun menteri Kabinet Indonesia Maju itu disampaikan akun twitter resmi Sekretariat Kabinet dan Kementerian Kesehatan.

Bertepatan hari ulang tahunnya, Terawan mendapat kritik dari masyarakat sipil Kementerian Kesehatan memberikan surat somasi kepada jurnalis Narasi TV, Aqwam Fiazmi Hanifan.

Lewat surat yang ditandatangani Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Widyawati, Kemenkes menilai Aqwam melalui tulisan di akun twitter pribadinya, @aqfiazfan, telah menghina Terawan.

Aqwam mengomentari informasi yang disampaikan Al Jazeera lewat @AJEnglish soal kemampuan seekor anjing di Jerman yang mampu mendeteksi orang yang terinfeksi Covid-19 dengan tingkat akurasi mencapai 94 persen.

Ia menulis ‘Anjing ini lebih berguna ketimbang Menteri Kesehatan kita’.

“Kami menilai unggahan tersebut memuat unsur penghinaan dan atau pencemaran nama baik Menteri Kesehatan dan Kementerian Kesehatan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 27 ayat (3) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik,” bunyi surat tertanggal 3 Agustus 2020 yang diunggah akun @KemenkesRI.

Surat somasi yang dikeluarkan Kemenkes langsung mendapat protes masyarakat sejak semalam hingga hari ini.

Banyak warganet menyayangkan tindakan Kemenkes dalam menyikapi cuitan tersebut. Menurut warganet Kemenkes lebih sigap mengurusi nama baik lembaganya ketimbang penanganan virus corona di Indonesia.

Mereka pun meminta Kemenkes untuk fokus menangani pandemi virus corona (Covid-19) daripada mempermasalahkan dan mengancam para pihak yang mengkritik kinerja dalam menghadapi pandemi virus corona.

Sejumlah aktivis dan publik figur seperti Sherina Munaf dalam cuitannya juga menyayangkan langkah Kemenkes. Bagi Sherina, dalam akum Twitter resminya, Kemenkes tak perlu agresif menyikapi cuitan seperti itu.

Penulis buku, Okky Madasari juga mengkritik langkah Kemenkes. Okky bahkan menyebut langkah somasi Kemenkes membenarkan bahwa ‘Anjing lebih berguna ketimbang Menteri Kesehatan kita.’. Ia pun menunggu permohonan maaf Terawan pada rakyat Indonesia.

Setelah mendapat kritik, Kemenkes menghapus unggahan foto surat somasi kepada Aqwam. Kemenkes belum merespons terkait alasan pihaknya menghapus ungggahan tersebut.

Koalisi Masyarakat Sipil pun mendesak Kementerian Kesehatan meminta maaf kepada publik setelah mengeluarkan surat peringatan kepada Aqwam. Koalisi mengecam langkah kementerian yang dipimpin Terawan tersebut.

“Surat Kementerian Kesehatan menunjukkan sikap antikritik. Dalam masa sulit seperti Pandemi Covid-19 ini kritik sesungguhnya lebih diperlukan karena dapat memberikan info dan pengingat,” kata Ketua YLBHI, Asfinawati dalam keterangan tertulis.

Koalisi Masyarakat Sipil, kata Asfinawati, menilai Terawan gagal mencegah penyebaran virus corona dan menyiapkan fasilitas kesehatan secara serius karena kasus Covid-19 terus melonjak.

Selain itu, kementerian yang dipimpin Terawan juga gagal memberikan perlindungan pada tenaga kesehatan sebagai garda terdepan, melalui kecukupan APD, regular tes; maupun kebijakan yang tepat untuk melandaikan penularan virus.

Terawan juga dianggap tak piawai karena hingga hari ini tak kunjung memenuhi target jumlah tes berbasis RT-PCR sesuai dengan anjuran WHO, yakni 1 orang/1.000 penduduk setiap minggu, hingga bulan kelima masa pandemi di Indonesia.

Koalisi menyebut kinerja Terawan juga kurang bagus lantaran anggaran kesehatan yang dialokasikan sebesar Rp87,55 triliun baru terserap sekitar 7 persen.

“Kami meminta presiden mengevaluasi kinerja dari menteri kesehatan yang dianggap tidak menunjukkan kinerja yang memuaskan,” ujar Asfinawati.

10 Besar Menteri Tebaik

Lembaga survei Akurat Poll menyatakan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto masuk dalam 10 besar menteri di Kabinet Indonesia Maju dengan kinerja terbaik meskipun, responden menyebut ada enam masalah besar penanganan Covid-19.

Survei tersebut dilakukan kepada 1.210 responden di 34 provinsi menggunakan metode penarikan sampel multistage random samplingMargin of error atau toleransi kesalahannya sekitar 2,8 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka pada 15-24 Juli.

Akurat Poll sendiri diketahui belum masuk daftar lembaga survei yang diakui oleh Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi).

Dalam survei itu, nama Terawan berada di urutan 10 dengan skor survei 6,02. Pada urutan pertama, ada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dengan skor kinerja tertinggi 6,57. Kemudian disusul oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan skor 6,44, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dengan skor 6,25.

Di posisi selanjutnya, disusul oleh Menteri BUMN Erick Thohir (skor 6,24), Menko Polhukam Mahfud MD (skor 6,22), Mendikbud Nadiem Makarim (skor 6,21) dan Kapolri Jendral Idham Aziz (skor 6,16). Selanjutnya disusul oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (skor 6,13) dan Menlu Retno Marsudi (skor 6,09).

Di sisi lain, Direktur Akurat Poll, Adlan Nawawi, mengatakan mayoritas responden (43,5 persen) menilai penanganan Covid-19 memandang sebagai masalah utama nasional, di atas masalah ketimpangan ekonomi (40,5 persen). Dalam penanganan pandemi, Pemerintah dinilai cukup baik.

Terlepas dari itu, survei menemukan bahwa terdapat 6 kelemahan pemerintah dalam menangani Virus Corona, yang merupakan bidang tugas Kemenkes.”Kinerja pemerintah dalam penanganan Covid-19 dipersepsi cukup baik, dengan skor kinerja 6,74,” katanya.

Pertama, pemerintah lambat mengambil tindakan pada masa awal pandemi. Persoalan tersebut menjadi yang paling banyak dikeluhkan oleh responden (32,4 persen).

Kedua, pemerintah kurang tegas dalam menindak pelaku pelanggaran aturan PSBB atau standar Covid 19 (15,1 persen). Ketiga, lambat menyebarluaskan informasi (11,9 persen).

Keempat, kelemahan dalam hal perbedaan sikap dan kebijakan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah (11 persen). Kelima, kurang memperhatikan kesiapan rumah sakit dan tim medis (7,6 persen). Keenam, lambat menangani pasien Covid-19 (6,3 persen).

Dalam survei lainnya, yakni survei Charta Politica pada 6-12 Juli, nama Terawan bahkan tak masuk 12 nama menteri berkinerja terbaik. Meski demikian, survei ini menobatkan Terawan sebagai menteri paling populer di Kabinet Indonesia Maju.

Diketahui, Terawan sempat diguncang isu reshuffle karena disindir oleh Jokowi dalam rapat kabinet terkait penyaluran anggaran kesehatan yang buruk selama pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menyebut Terawan menjadi menteri yang paling banyak didengar dan dilihat publik karena penanganan pandemi Virus Corona.

Sumber Berita / Artikel Asli : CNN Indonesia

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...