Korban Gempa Palu Kelaparan tapi Ngambil TV Layar Lebar, HP dan Barang Elektronik, Bisa Dimakan?

449

 JAKARTA – Usai gempa yang mengguncang Palu dan Donggala disertai tsunami, membuat kondisi di dua wilayah tersebut menjadi tak menentu.

Masyarakat yang menjadi korban bencana pun berinisiatif untuk bertahan hidup.

Caranya, dengan menjarah toko-toko dan sejumlah waralaba serta sejumlah pusat perbelanjaan lainnya.

Salah satu yang menjadi incaran ‘jarahan’ adalah bahan makanan dan minuman.

Namun ada saja tangan-tangan tak bertanggung jawab dengan memfaatkan situasi serba tak menentu di kota Palu itu.

Diduga, tujuannya tidak lain adalah untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Pasalnya, yang dijarah bukan makanan dan minuman, melainkan barang-barang elektronik yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Seperti televisi layar lebar, handphone atau barang-barang elektronik lainnya.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan, pihaknya mendapatkan laporan tersebut dari lapangan.

Ada sejumlah warga yang sengaja menyasar toko dan pusat perbelanjaan dengan menargetkan barang-barang elektronik.

“Pagi tadi saya dapat laporan ada yang mencoba menjarah toko handphone kemudian dapat diantisipasi,” ujar Setyo di kantornya, Jakarta, Senin, (1/10)

Selain itu, katanya, sejumlah orang pun berupaya menjarah toko waralaba besar di Kota Palu sekitar pukul 10.30 WIB. Namun, polisi bisa mencegahnya.

“Ada 30 orang di depan Transmart ingin merangsek masuk dan ambil barang-barang. Sudah diantisipasi dan mereka bisa bubar,” tuturnya.

Pewira Polri berlatar belakang bidang intelijen itu mengimbau masyarakat agar tidak bertindak brutal di tengah situasi yang memprihatinkan.

Setyo menegaskan, penjarahan merupakan tindak kejahatan dan harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Harus dipahami masyarakat semua, melakukan kejahatan di saat bencana itu ada yang disebut dengan pasal pemberatan. Sepertiga lebih berat dari ancaman (hukuman) biasa,” tegas Setyo.

Oleh karena itu Setyo menegaskan, Polri pasti mengusut pihak-pihak yang berupaya memprovokasi massa untuk menjarah toko.

“Teman-teman intelijen pasti akan melakukan penyelidikan lebih lanjut,” tegasnya.

Setyo menambahkan, upaya menciptakan ketertiban tak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat.

“Tanpa partisipasi masyarakat, saya yakin keamanan dan ketertiban masyarakat tidak akan tercapai,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolri Jendral Tito Karnavian enggan menyebut masyarakat yang ‘menjarah’ makanan dan minuman itu sebagai tindakan kriminal.

“Bukan penjarahan, mereka itu lapar,” tegasnya di Kantor Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, Senin (1/10).

Dia menilai, kekerasan kepada masyarakat yang mengambil barang tanpa izin di toko bukan solusi mengingat situasi di Palu yang luluh lantah akibat gempa dan tsunami.

Namun pihaknya tetap mengimbau agar masyarakat di sana tetap mengindahkan hukum.

“Tapi persoalan utamanya adalah mereka panik karena takut kekurangan logistik makanan dan BBM,” tutur Tito.

Kendati demikian, pihaknya tetap meningkatkan pengamanan guna mencegah pengambilan barang di toko-toko yang ditinggal pemiliknya.

Sementara itu, upaya terus dilakukan pemerintah untuk mencukupi pasokan makanan dan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah tersebut.

“BBM sudah dikirim mulai dari hari ini. Dirut Pertamina sudah di situ, Menteri BUMN sudah di sana,” katanya.

“Kemudian pesawat sudah dipakai untuk mengangkut minyak-minyak, sudah berangkat,” beber Tito.

Kapal pengangkut listrik 400 MW pun dikerahkan dan kini sudah berangkat menuju ke Palu.

“Kalau kapal ini sudah sampai di Palu, maka listrik tidak akan ada masalah karena cukup. Di sana dibutuhkan 110 megawatt. dan ini 400 megawatt, cukup,” jelas mantan Kepala Densus 88 Antiteror yang sempat bertugas di Palu itu.

Perbaikan sejumlah gardu listrik yang mati juga terus dilakukan.

“Ini harus harus diperbaiki. Kemudian sementara ini dari Dirut PLN mengirim genset sebanyak-banyaknya untuk menghidupkan (listrik) secara lokal,” tutup Tito.

Selain itu, pihaknya memastikan juga terus mengirim anggotanya ke Palu dan Donggala dan sekitarnya.

“Dari Polri sendiri kita rencanakan akan mengirim antara 1.500 sampe 2.000, yang sekarang baru masuk itu lebih kurang 400 Brimob,” ucapnya.

Ribuan pasukan itu kata dia sangat dibutuhkan untuk melakukan pengamanan, membuka jalur yang longsor, dan membantu penanganan para korban.

“Saya masih menganggap perlu (dikirimkan pasukan). Karena satu, untuk pengamanan,” imbuhnya.

Tito menerangkan, Palu merupakan daerah tertutup. Akses jalan menuju Palu biasanya ditempuh melalui jalur darat.

Yakni bisa melalui Donggala, Poso, Mamuju, Tolitoli, Parigi Moutong.

Namun mayoritas jalan tersebut terutup material longsor. Sementara jika melalui udara, hanya pesawat dengan jarak landasan 2000 meter yang bisa mendarat.

Sedangkan pelabuhan masih belum kondusif pasca diterjang tsunami. Namun pemerintah berupaya untuk memulihkannya.

“Kita harapkan pelabuhan sudah bisa normal secepat mungkin, listrik bisa normal,” katanya.

“Kalau itu semua normal, maka logistik akan masuk, masyarakat akan tenang,” tutupnya.

(JPG/ruh/pojoksatu)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here