KKB di Papua dan Polsek Ciracas Ini Urusan Genting, Panglima TNI Kemana Sih?

403
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjato saat bertemu dengan Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat General Joseph F. Dunford, Jr

JAKARTA – Kasus pembantaian 31 pekerja PT Istaka Karya oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua dan penyerangan Polsek Ciracas dinilai menjadi urusan yang cukup genting.

Semestinya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memberikan perhatian khusus terkait dua isu tersebut.

Demikian kritik yang dilontarkan mantan Komandan Korps Marinir, Letjen TNI Mar (Purn) Suharto sebagaimana dilansir JPNN (grup PojokSatu.id).

Menurutnya, malah Panglima TNI tak peduli dengan kedaulatan bangsa dengan malah memilih pergi ke Amerika di saat kasus tersebut belum tuntas.

“Kalau sudah masalah kedaulatan dia ya harus turun tangan,” tegasnya.

Untuk memenuhi kehadiran di Amerika, lugasnya, malah semestinya bisa dikirimkan wakil saja.

“Justru yang harusnya diwakili yang acara di Amerika. Panglima TNI harusnya segera pulang ke tanah air,” lanjutnya.

Suharto menekankan, sebagai pimpinan TNI, tidak ada alasan untuk tidak selalu berada di tempat yang paling rawan.

Dengan begitu, menurutnya, pimpinan itu bisa memberikan perintah yang benar dan tepat secara langsung.

“Itulah pimpinan. Makanya yang kita butuhkan seorang pimpinan itu orang-orang yang harus pengalaman di lapangan sehingga tahu dia jiwa-jiwa prajurit seperti apa,” jelasnya.

Lebih lanjut Suharto menyatakan, Hadi sendiri sudah lebih dari setahun menjabat sebagai Panglima TNI.

Akan tetapi, ia menilai, Hadi malah bereaksi biasa saja atas insiden KKB di Papua dan Polsek Ciracas, Jakarta Timur.

Pasalnya, ia menyebut bahwa Hadi memang bukan seorang pemimpin yang pengalaman di lapangan.

Sehingga, hal itu pula ynag mengakibatkan Hadi tidak memahami tugas pokoknya dan fungsinya untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Terkait insiden pembantaian pekerja di Papua, Suharto menegaskan hal itu adalah permasalahan kedaulatan.

Karena itu, menurutnya, TNI yang harus turun tangan untuk mengejar seluruh anggota kelompok tersebut, bukan kepolisian.

“Itu sudah makar kan. Itu perlawanan bersenjata. Artinya perlawanan terhadap kedaulatan. Itu sudah tugas TNI. Jadi jangan dipolisi-polisikan,” tekan suharto.

Suharto meyakini, ada keterlibatan pihak asing dalam peristiwa di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua itu.

Indikasi kuatnya adalah persenjataan yang dimiliki oleh anggota KKB tersebut.

“Senjata yang dibawa (KKB) itu standar NATO. Berarti ada keterlibatan kekuatan asing. Hajar saja, Lumatkan,” tegas dia.

Menurutnya, sebagai Panglima TNI harus dipilih dari orang orang yang profesional dan paham tugas pokok.

(jpnn/pojoksatu)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.