Kisah ABK Indonesia di Kapal Cina, Diberi Makan Bangkai Ayam

250
Ingrid Frederica (31) menunjukkan foto suaminya yang bekerja sebagai ABK di kapal China di rumahnya, Selasa (4/8). ‎Suami Ingrid diduga alami kerja paksa dan tidak jelas nasib dan keberadaannya. (GATRA/Farid Firdaus)

Slawi– Ingrid Frederica, istri seorang anak buah kapal (ABK) di kapal China asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah menulis surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Perempuan 31 tahun itu meminta bantuan Jokowi karena suaminya yang diduga mengalami perbudakan tak jelas keberadaan dan nasibnya.

Surat terbuka Ingrid ditulis dalam selembar kertas dan diunggah di Facebook dan Instagram. Dalam surat itu, dia mengungkapkan kekhawatirannya terkait keberadaan dan nasib suaminya, Samfarid Fauzi (33) yang bekerja sebagai ABK di kapal penangkap ikan asal China, Fu Yuan Yu.

Menurut Ingrid dalam surat yang ditulis pada 30 Juli 2020 itu, suaminya sudah bekerja selama satu tahun sebagai ABK di kapal Fu Yuan Yu sejak April 2018. Terakhir kali berkomunikasi, Ingrid diberi tahu jika suaminya mengalami perlakuan tidak manusiawi selama bekerja, antara lain jam kerja yang tidak sesuai kontrak kerja, diberi makanan tidak layak serta tidak ada obat-obatan yang memadai.

“Setelah satu tahun bekerja, suami saya menyampaikan sudah tidak sanggup lagi bekerja dan ingin pulang tapi tidak dizinkan. Akhirnya dengan berat hati suami saya melanjutkan sampai selesai kontrak April 2020. Seharusnya April suami saya sudah pulang. Namun hingga surat ini ditulis saya tidak tahu keberadaan dan keadaannya,” tulis Ingrid.

Masih dalam surat itu, Ingrid mengaku bertambah cemas ketika mendapat informasi dari salah satu rekan kerja sesama ABK suaminya yang masuk rumah sakit di Srilanka bahwa sang suami bersama sejumlah ABK lainnya dipindahkan ke kapal Hanrong 368 pada Juni 2020. Dari rekan suaminya tersebut, Ingrid mendapat informasi banyak ABK dalam satu kapal dengan suaminya yang sakit dan bahkan meninggal.

“Bahkan hari ini saya mendengar dua orang jenazah dari kapal Hanrong 368 itu sudah dilarung di Samudera Hindia. Sejak Mei 2020 saya sudah memohon bantuan kepada PWNI dan BNP2MI bahkan menghubungi KBRI namun tiada hasil. Saya bingung dan cemas akan nasib suami saya dan kawan-kawannya,” ungkap Ingrid.

Di akhir suratnya, Ingrid meminta bantuan Presiden Jokowi untuk mencari dan memulangkan suami saya dan ABK lainnya. “Saya mohon dengan sangat uluran tangan Pak Presiden untuk membantu kami rakyat kecil ini,” ucapnya.

Saat ditemui Gatra.com di rumahnya Selasa siang (4/8), Ingrid membenarkan surat terbuka yang dibuat dan diunggahnya di media sosial tersebut. Dia mengaku meminta bantuan Presiden karena sudah putus asa setelah meminta bantuan ke banyak pihak.

“Saya sudah berusaha minta tolong ke mana saja, sampai ke Bareskrim, Kemenlu, nelponin ke KBRI tidak kehitung, tapi selalu mentok, tidak ada hasil. Makanya saya mau minta bantuan ke siapa lagi kalau bukan ke Pak Jokowi. Mungkin tidak langsung Pak Jokowi yang menangani ini, tapi paling tidak Pak Jokowi kasih mandat. Ini ABK-ABK di luar banyak banget yang kasusnya seperti ini,” ujarnya.

Ingrid mengungkapkan, suaminya bekerja sebagai ABK di kapal China melalui PT Puncak Jaya Samudra, perusahaan penyalur ABK yang berkantor di Kabupaten Pemalang. Pekerjaan itu dilakoni Samfarid untuk pertama kali setelah sulit mencari pekerjaan lain. “Berangkat April 2018. Kontraknya dua tahun sampai April 2020. Tapi sampai sekarang saya tidak tahu di mana dan kondisinya seperti apa,” katanya.

Ingrid mengaku berkomunikasi terakhir dengan suaminya pada Agustus 2019 saat kapal sedang bersandar di India. Saat itu, suaminya mengeluhkan kondisi kerja yang tidak manusiawi hingga banyak ABK yang sakit dan meninggal. “Kerjanya dari pagi sampai malam. Hanya bisa istirahat maksimal tiga jam. Jadi tidak sesuai kontrak kerja. Selama melaut, makanan yang dikasih juga tidak layak. Makannya bangkai ayam yang digoreng, kadang memilih makan hanya pakai garam,” ujar dia.

Setelah komunikasi terakhir itu, Ingrid sempat mendapat surat dari suaminya yang dititipkan kepada seorang ABK yang pulang ke Indonesia pada Februari 2020.  Di suratnya dia hanya memberi tahu tidak bisa pulang karena menunggu kontrak selesai April. “Kemudian Juni saya malah dapat kabar dari teman ABK satu agensi suami saya yang masuk rumah sakit di Srilanka kalau suami saya dipindah ke kapal lain. Setelah itu tidak ada kabar sama sekali,” ujarnya.

Menurut Ingrid, selain perlakuan tidak manusiawi selama bekerja, gaji suaminya sebesar 300 dolar AS yang dipotong berbagai jaminan juga selalu telat dibayarkan. Terakhir kali, suaminya menerima gaji bulan Maret yang baru dibayarkan pada Juni. “Gaji molor tidak jelas. Awalnya bilangnya tiga bulan sekali terima gaji, namun ternyata molor bahkan sampai delapan bulan,” ungkapnya.

Selain ke kepolisian dan pemerintah, Ingrid menyebut sudah berupaya menanyakan keberadaan dan nasib suaminya ke PT Puncak Jaya Samudra selaku perusahaan penyalur. Namun pihak perusahaan juga tak bisa berbuat banyak. “Dengan PT sempat berkomunikasi meski awalnya mereka tidak mau jujur apa yang terjadi. Mereka bilangnya sedang berupaya. Pernah juga saya coba telepon satelit ke kapal namun tidak pernah tersambung,” ujar dia.

Ingrid pun kini hanya bisa berharap pada bantuan Presiden Jokowi agar keberadaan dan nasib suaminya bisa diketahui. Apalagi, anak semata wayangnya, Kenzi (6) juga kerap menanyakan ayahnya. “Saat ayahnya berangkat dulu, Kenzi masih umur empat tahun. Sering menanyakan ayahnya. Saya tidak bisa berbohong ke dia,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu staf PT Puncak Jaya Samudra, Herman saat dimintai penjelasan belum bisa memberikan keterangan. Dia mengaku akan berkomunikasi dulu dengan jajaran staf kantor, agen, dan perwakilan di Cina. “Biar lebih lengkap dan akurat,” ujarnya.

Sumber Berita / Artikel Asli : Gatra

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...