KH Ma’ruf Amin Pakai Kata Dajal, Pertanda Kubu 01 Panik

356
KH Ma'ruf Amin

JAKARTA – Pernyataan calon Wakil Presiden RI nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin yang menggunakan kata dajal dianggap kontraproduktif. Tak ubahnya sebagai lava yang keluar dari gunung dan menciptakan gelombang tsunami.

Begitu pandangan analis politik dari Universitas Mercu Buana (UMB) Bayu Santoso menyikapi diksi Dajal yang dipakai Kiai Ma’ruf untuk menyamakan pembuat dan penyebar informasi bohong (hoax).

“Lava tersebut disinyalir berasal dari gempa kepanikan yang menghantam kubu petahana. Statement Ma’ruf baru-baru ini di Depok pertanda puncak kegelisahan yang amat mendalam,” ujar Bayu dikutip Pojoksatu.id dari Rmol.co, Sabtu (12/1/2019).

Bayu berpandangan, bila dicermati dari perspektif semiotika politik, ucapan adalah bukan cuma soal teks namun juga tanda di mana ada makna yang tidak teraba tapi terasa. Selain itu, jika dilihat dari sisi komunikasi pemasaran, sepertinya Kiai Ma’ruf tidak mengenal pasarnya sendiri.

“Dia menjual statement yang tidak dibutuhkan pasarnya sendiri alias dia tidak tahu produk apa yang akan dijual ke pasarnya,” paparnya.

Sebelumnya, Kiai Maruf menyatakan penyebar hoaks sama saja dengan Dajjal. Mereka menciptakan tsunami hoaks yang berpotensi memecah belah sesama anak bangsa.

“Negara ini harus kita hindari dari perpecahan. Indonesia juga sedang menghadapi tsunami hoaks dan fitnah, hoaks itu seperti tsunami itu, goyang. Hampir kita bertengkar sesama bangsa gara-gara hoaks dan fitnah,” kata Ma’ruf Amin di Masjid Muhammad Yusuf, Depok, Jawa Barat, Sabtu (12/1)

Kiai Maruf mengibaratkan pihak-pihak pembuat kabar bohong sebagai Dajjal. Ia pun berdoa agar Indonesia dihindarkan dari segala kabar bohong.

“Dajal itu pembohong, ada Dajal yang akan merusak itu, Dajal juga maknanya pembohong, jadi kita meminta kepada Allah, berlindung dari pembohong yang mengeluarkan hoaks-hoaks itu,” tandas Ma’ruf.

Pernyataan Ma’ruf Amin tersebut disesalkan banyak pihak, terutama dari kubu yang berseberangan dengan kiai NU tersebut.

Sekjen Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (Prodem), Satyo Purwanto menyayangkan kiai besar seperti Ma’ruf Amin memilih diksi yang sangat kasar untuk menggambarkan penyebar hoax di tanah air.

“Dan yang menjadi krusial, itu yang menyampaikan seorang kiai besar seperti Ma’ruf Amin,” Satyo.

Menurutnya, pernyataan Ma’ruf tersebut justru tidak menunjukkan kapasitas sebagai seorang ulama besar yang seharusnya memberikan teladan serta kesejukan.

“Ini terlalu berlebihan pilihan kalimatnya. Bisa memicu agregasi kebencian. Justru bisa memancing tensi lebih tinggi dari pernyataan itu,” pungkas Satyo.

(rmol/fat/pojoksatu)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.