KH Bachtiar Nasir: Ada Kandungan Iman dan Amal Saleh pada Pancasila

161
KH Bachtiar Nasir

Jakarta — Pancasila sebagai dasar negara seharusnya tidak menjadi alat politik bagi golongan tertentu untuk meniadakan kelompok selainnya. Fenomena itulah yang kerap mewarnai kondisi bangsa dan hanya terjadi pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Kondisi ini meruncing dengan semakin dekatnya pelaksanaan Pemilu 2019. Padahal dalam konteks keagamaan, terdapat dua kandungan asasi dalam Pancasila yaitu keimanan dan amal saleh. Ironisnya, Pancasila dijadikan alat untuk menyerang lawan politik bahkan mengkonfrontasikan dua ideologi yang berbeda.

Pimpinan AQL Center KH Bachtiar Nasir mengaku bangga menjadi warga negara Indonesia karena dua hal. Pertama, ia menyatakan Indonesia memiliki para pendiri bangsa yang tegas terhadap penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai perikemanusiaan dan peri keadilan.

“Dari sisi ini saya bangga sekali bahwa kita merupakan bangsa yang anti penjajahan. Baik dijajah maupun menjajah,” ungkap Bachtiar di Jakarta, Jumat (5/4).

Alasan kedua, jelas Bachtiar, Pancasila jika dilihat dari Al-Quran Surat Ayat 55, Indonesia berpotensi mendapatkan tiga hal. Muslim Indonesia berpeluang menjadi pemimpin, menjadi bangsa besar, dan Allah menjanjikan rasa aman dari ketakutan.

“Selama kita menjalani dua hal yaitu beriman dan amal shalih, disinilah Pancasila diaplikasikan,” katanya.

Pertama, keimanan dalam konteks Indonesia adalah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yakni Allah Subhanahu wa ta’ala. Tak lupa, Bachtiar juga mengucapkan terima kasih kepada para pendiri bangsa yang telah menempatkan sila ketuhanan di urutan pertama.

“Tetapi, kita juga harus menyempurnakannya dalam bentuk amal saleh. Saya melihat, amal saleh yang ditetapkan dari sila kedua sampai kelima adalah amal saleh kebangsaan yang luar biasa,” ujar Bachtiar.

Setelah menyempurnakan ketauhidan, maka amal saleh yang kedua adalah menjadi manusia Indonesia yang adil dan beradab. Termasuk, menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru nusantara agar masyarakat Indonesia berupaya keras menjadi masyarakat yang adil dan beradab.

“Mulai dari rakyat hingga pemimpin. Dari yang paling kecil hingga paling tua,” ucapnya.

Amal saleh ketiga, sebagai bangsa Indonesia yang majemuk, maka harus dapat mengokohkan kembali persatuan Indonesia tanpa kecuali. Kendati berbeda agama, ia meyakini bangsa Indonesia akan bersatu dalam satu narasi kebangsaan, yakni Pancasila.

Amal saleh keempat ialah berjuang untuk menegakan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dan permusyawaratan dalam perwakilan. Jikapun terjadi perbedaan gagasan dan pandangan, maka masyarakat Indonesia dapat kembali merujuk pada sila keempat pancasila.

“Disinilah narasi politik yang kita bangun. Jangan sampai terpecah belah dan keluar dari sila keempat. Ketika terjadi penyimpangan, kita harus jujur kembali ke khittah kebangsaan,” ungkapnya.

Amal saleh kelima yaitu membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah janji Allah, menurut Bachtiar, yang akan diberikan kepada masyarakat Indonesia dan akan membawa peradaban besar ke seluruh dunia.

“Kita dianugerahi pemimpin bangsa yang diilhamkan pancasila oleh Allah sebagai dasar falsafah negara. Tugas kita adalah merawatnya dengan beriman dan tidak menyekutukan Allah dengan apapun. Semoga Allah jayakan Indonesia dan menjadi bangsa yang besar,” katanya. (Aza) indonesiainside

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here