Keanehan Mata Rantai Komuniser Indonesia

377
PALU ARIT

Partai Komunis Indonesia memang telah lenyap dari permukaan kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia. Tetapi tidak dinyana ungkapan bahwa aliran komunis dapat berwujud kembali pada saatnya peluang itu memungkinkan.

Dan saat ini tampaknya kehadiran itu semakin merebak dibeberapa segmen kehidupan rakyat khususnya politik dan kekuasaan ‘power of authority’ dalam konteks ‘New faces’.

Namun selicin apapun upaya mereka yang rupanya telah merajut kekuatan khususnya selama dua dekade ini sebagaimana dilansir oleh mantan panglima TNI Jend Purn Gatot Nurmantyo, akhirnya ketika tampil kepermukaan adalah nyata eksistensinya.

Warna kaum komuniser baru ini tidak lain adalah produk gabungan dari mereka yang militan hendak menghapus noda hitam PKI, umumnya oleh para keturunan langsung atau tidak langsung para tokoh dan aktivis periode dua kali kegagalan masa lalu khususnya kehancuran ditahun 1965 itu.

Dengan ditopang oleh para ‘hater’ mantan presiden Soeharto yang terbias kearah pembalikan fakta kejadian seputar pergantian kekuasaan dan pembubaran serta pelarangan organisasi Partai Komunis beserta underbownya.

Kolaborasi kedua kepentingan tersebut ditambah dengan pergantian era generasi semakin memungkinkan berjalan manakala ada elemen-elemen mereka masuk dalam peta kekuatan politik dan kekuasaan pemerintahan.

Untuk hal terakhir ini tampaknya momentum itu hampir saja mereka dapatkan dan menguasai panggung perubahan sejarah politik secara kebangsaan dan kenegaraan. Namun keberuntungan rupanya tidak berpihak pada mereka tatkala RUU HIP terjungkal dari misi besarnya itu.

Terkadang kita patut merenung dan bertanya betapa sistematisnya kesan kerja mata rantai kaum komuniser ini dalam upaya membangun paradigma baru seakan paham komunis itu sudah tidak ada bahkan tidak berbahaya sekalipun masih ada.

Analisa fakta tampilnya kaum komuniser ini baru akan berani muncul setelah masuk dalam sistem kekuatan kekuasaan yang berlangsung. Itu sebabnya mengapa beberapa tahun terakhir ini tampak begitu agresif, karena ada atmosfir “perlindungan” yang telah dinanti-nantikan selama ini.

Lantas apakah kepemimpinan presiden Jokowi memang tidak menyadari dan memahami situasi ini atau para penasehat pun tidak memandang perlu membahas adanya situasi ini. Atau malah sama-sama tahu.

Bila demikian tepat sekali surat terbuka dari KAMI yang disampaikan kepada Presiden Jokowi untuk melihat bagaimana sikap presiden sesungguhnya atas bahaya laten terselubung ini.

Patriot pembela bangsa tentu mahfum dengan surat terbuka KAMI itu, namun kita perlu menelusuri keyakinan presiden yang kita tahu ideologinya pasti telah melalui serangkaian ‘sreening’ sejak sebelum menjadi capres. Apakah kemunculan kaum komuniser ini sudah sangat serius bagi presiden atau mungkin terabaikan saja.

Meskipun dalam keanggotaan partainya disebut petugas partai, tapi seyogianya presiden Jokowi mesti mengetahui warna dan arah partainya apalagi setelah pengajuan RUU HIP yang sangat melecehkan Ideologi Pancasila secara utuh.

Tentu kita sangat sulit mengetahui apa saja komitmen Jokowi pada Ketum partainya terkait pencalonannya di awal sebagai calon presiden ketika itu.

Namun sebagaimana pemimpin tertinggi lazimnya, Presiden Jokowi harus lebih terikat pada komitmen penyelamatan kondisi negaranya ketimbang apapun, bahkan ketika harus mempertaruhkannya.

Kemunculan kaum komuniser Indonesia ini menjadi semakin terkesan meluas seiring meningkatnya hubungan pemerintah dan Tiongkok dibidang investasi dan kerjasama lainnya. Meskipun tidak tampak keterkaitan penyaluran ideologi seperti masa lalu, namun psikologis tersebut sedikit banyaknya memiliki nuansa tersendiri.

Bagaimanapun saat ini kita merasakan adanya keanehan tumbuhnya mata rantai komuniser Indonesia akibat ekses kepentingan-kepentingan yang saling terkait pada pusat kekuasaan, sehingga tidak berdiri sendiri seperti tragedi 1948 dan 1965.

Rakyat besar beserta TNI sebagai garda depan yang mengatasi keganasan komunis pada akhirnya dibutuhkan kembali untuk mengatasi komuniser wajah baru ini, karena merubah masa kelam menjadi masa kebesaran adalah impian komunis yang tidak berkesudahan…

_Adian Radiatus_

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...