Kasus Surat Suara Tercoblos, Analis Intelijen: Tuduhan Kecurangan, Jurus Pamungkas Bagi yang Kalah

270

Analis intelijen, Marsda TNI Purn. Prayitno Ramelan menyoroti maraknya kasus tercoblosnya surat suara pemilu di Malaysia pada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin, Partai Nasdem serta Demokrat yang video dan beritanya viral di masyarakat belakangan ini.

Menurut dia, jika ditinjau dari teori conditioning dalam persepsi intelijen, jumlah surat suara yang tercoblos itu sebenarnya tak perlu terlalu banyak, yang penting harus mampu menarik perhatian media, efek psikologisnya harus besar.

“Pertama dijelaskan dulu, jumlah pemilih di Indonesia sesuai rekapitulasi daftar hasil perbaikan ketiga (DPT HP3) Pemilu 2019 berjumlah 192.866.254 pemilih, terdiri dari 190.779.969 pemilih di dalam negeri dan 2.086.285 pemilih di luar negeri. Nah, yang diberitakan media itu surat suara tercoblos di Malaysia jumlahnya ada 40-50.000 lembar lebih di dua tempat kan,” kata Prayitno di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

“Hal ini mirip dalam menilai dan menganalisis serangan teror dari persepsi intelijen, korban tidak perlu banyak, dengan bom yang kecil saja berita jadi besar,” tegasnya.

Kasus ini juga diharapkan akan berefek terkait dengan kecurangan, kata Prayitno, justru ini yang menjadi bagian pokoknya.

“Secara bodoh saja kalau kita mau berpikir, untuk apa ada upaya Paslon 01 dan caleg NasDem (Davin Kirana) harus main kotor di Malaysia? Apakah KPU atau paslon-01, atau NasDem mau mengambil resiko hancur nama untuk sesuatu yang tidak seimbang?” kata dia heran.

Ia berujar, jumlah maksimal 50.000 surat suara yang dimainkan itu, jika dibandingkan dengan total DPT dalam negeri sebanyak 190 juta lebih itu sangatlah kecil dan tidak berarti, tidak mempengaruhi kemenangan.

“Apalagi, Komisioner KPU Viryan Aziz mengatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia menjadi lokasi penyimpanan resmi seluruh logistik pemilu, sedangkan tempat ditemukannya surat suara yang tercoblos di Selangor itu bukanlah tempat penyimpanan resmi. Dengan demikian masalah menjadi jelas dan nampak ada yang ingin membuat keruh suasana,” ujarnya.

Meski tidak ingin menuduh siapa penyebab kasus ini, namun Prayitno optimis kasus ini akan segera disidik oleh KPU dan Bawaslu dalam waktu yang singkat.

Di samping itu, Prayitno mengaku setuju dengan apa yang ditanyakan beberapa jurnalis asing, bahwa kasus ini diduga merupakan bagian dari upaya delegitimasi pemilu dan juga KPU.

“Tuduhan kecurangan sebagai strategi yang diimplementasikan menjadi langkah taktis, adalah jurus pamungkas bila kalah,” katanya.

Prayitno juga menanggapi sikap Amien Rais, tokoh kelas dewa yang juga sudah menyatakan tidak percaya kepada Mahkamah Konstitusi dan juga mengancam akan mengerahkan ‘people power’ jika terbukti ada kecurangan dalam pemilu nanti.

“Apakah ini upaya memancing chaos? Masalahnya tidak sesederhana itu, seberapa banyak yang mau dikerahkan dan seberapa besar powernya?” ucapnya.

Ia memprediksi, masyarakat saat ini sudah semakin paham arti berdemokrasi, yang suka gegeran jumlahnya bisa dihitung.

“Memang ada yang mengancam akan mengerahkan people power apabila kalah karena dicurangi. Ini justru berpotensi menciptakan chaos,” demikian Prayitno.[] akurat

Comments

comments