Kasus Pemerasan Rp1 Miliar Jadi Bola Liar, Neta Tuding Ini Setingan Celakai IPW

593

 JAKARTA – Ketua Presidium Indonesia Neta S Pane merasa aneh dengan sikap pelapor Budianto yang menbantah dirinya tak pernah diperas Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Andi Sinjaya Ghalib.

Padahal, selama hampir 45 hari Budianto intens berkomunikasi dengan IPW terkait kasus pemerasan Rp1 miliar itu.

“Saya gak paham kenapa si pelapor jadi ngelantur begitu dan omongannya jadi berbeda dalam kasus dugaan pemerasan Rp1 miliar yang dilakukan oknum Polres Jaksel terhadap dirinya,” kata Neta dalam keterangannya, Kamis (16/1/2020).

Sikap ngelantur pelapor itu, kata Neta, sudah menjadi bola liar.

Bahkan Neta menilai sikap Budianto itu memang sengaja dikemas untuk mencelakakan IPW.

“IPW kok malah dipojokkan Budianto. Ada apa? Saya sendiri belum ketemu lagi dengan Budianto,” ungkap Neta.

Karena itu, Neta beranggapan jika laporan Budiano terkait pemerasan itu memang bohong. Maka ia bisa dikenakan pasal berlapis karena telah menfitnah dan mengadu-domba internal polri.

“Sebaiknya propam segera memberikan rekomendasi ke Bareskrim untuk mengusut laporan bohong Budianto ini agar yang bersangkutan bisa diproses pidana,” ungkapnya.

Seperti diketahui, isu pemerasan Rp 1 miliar itu pertama kali disebarkan Neta yang menyebut seorang pelapor merasa diperas oleh penyidik Polres Jaksel ketika meminta penyidik segera melimpahkan berkas tersangka ke kejaksaan.

Isu itu sempat mengarah ke Kasat Reskrim Polres Jaksel AKBP Andi Sinjaya sebagai pelaku pemerasan.

Budianto sendiri sudah angkat bicara terkait isu tersebut. Dia menyebut pelaku pemerasan merupakan seorang mafia kasus (markus) yang bukan dari institusi Polri.

“Sebetulnya itu ndak ada (AKBP Andi Sinjaya memeras). Karena perkara ini sudah cukup lama, itu ada beberapa makelar kasus ya, markus yang menawarkan saya bahwa mereka dapat membantu dari atas sampai ke bawah dan membuat saya percaya,” kata Budianto. pojoksatu

 

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...