Kasus Audrey, Hotman Paris Tantang Jokowi dan Prabowo, Keras!

689

JAKARTA – Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea angkat bicara terkait kasus kekerasan yang menimpa Audrey yang dirundung 12 siswa SMA di Pontianak, Kalimantan Barat.

Melalui akun Instagram pribadi miliknya, hotmanparisofficial, Rabu (10/4/2019). Pengacara yang kerap menunjukkan kemewahan itu pun mengirimkan pesan khusus.

Pesan itu ditujukan kepada Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto yang saat ini tengah berkontestasi dalam Pilpres 2019.

Menurutnya, ini adalah momen paling tepat bagi keduanya untuk menunjukkan kepeduliannya.

Hotman langsung mendesak agar Presiden memerintahkan kepada kepolisian untuk menyidik dan mengusut tuntas kasus tersebut dan menangkap para pelakunya.

“Hanya dengan satu kalimat, apabila Bapak Presiden RI, Bapak Jokowi bicara di televisi agar kasus Audrey Pontianak segera disidik dan ditangkap pelakunya, maka hukum akan cepat berjalan,” kata Hotman.

Dia bahkan menyebut ini waktu yang tepat untuk Jokowi jelang Pilpres 2019.

“Pak Jokowi, this is the right time for you menjelang Pilpres,” singgung Hotman.

Bukan hanya Jokowi, Hotman juga menyebut ini saat yang tepat untuk calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto untuk menampilkan citra positif.

“Masyarakat Indonesia menunggu gerakan kalian berdua. Kalau saya nggak tertarik politik. I’m happy to be lawyer,” tuturnya.

Selain itu, dia juga menyampaikan akan memberikan seluruh honor yang didapatnya dari Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, untuk keluarga Audrey.

“Itu semua honor akan saya sumbangkan kepada ibu dari korban sebagai awal perlawanan hukum,” ungkap pengacara yang bergaya nyentrik itu.

Tak lupa, Hotman juga mengirimkan pesan khusus untuk Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat.

Ia menyindir sikap KPPAD yang malah menyarankan agar kasus ini diselesaikan secara damai oleh kedua belah pihak.

Dalam postingannya, Hotman sempat meminta para pelaku tidak bebas begitu saja dan harus segera ditangkap.

Menurut dia, walaupun para pelaku masih di bawah umur, tapi jika yang bersangkutan melakukan tindak pidana, tetap harus diadili.

Lagi pula, kata dia, usia 12-18 tahun dikategorikan anak yang bisa diadili dan ditahan.

Menurut UU tentang Perlindungan Anak dan Peradilan Anak, jelasnya, apabila sudah menyangkut penganiayaan ancaman hukumannya 6 tahun penjara.

Bahkan tidak boleh sekalipuan ada perbedaan.

Dia lantas menyinggung kabar Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat menyarankan agar kasus ini diselesaikan secara damai.

“Halo ketua KPPAD Kalbar lo jangan asal ngomong dong. Baca nggak undang-undang dalam kasus Audrey,” tegas Hotman.

Pria berkacamata itu pun meminta adanya perlawanan jika benar ada pihak yang membekingi para pelaku.

“Kalau benar ada pejabat dari keluarga diduga pelaku. Ini kita harus lawan,” seru Hotman.

Di juga meminta semua pihak untuk memperhatikan hasil visum. Sebab visum sangat menentukan kelanjutan kasus atau nasib orang yang diduga sebagai pelaku.

“Saya sudah bicara kakek dari Audrey. Kakek Audrey mengakui ada keluhan di bagian tertentu pada waku dicek di rumah sakit,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa para pelaku bisa dijerat hukuman penjara selama lima tahun.

“Hati-hati. Apapun namanya, ini sudah penganiayaan. Minimum lima tahun penjara,” beber Hotman. POJOKSATU

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...