Karni Ilyas Terkejut, Rocky Gerung Kritik Keras Acara ILC hingga Penonton Terdiam

2148

Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik acara Indonesia lawyer Club (ILC) hingga pembawa cara ILC Karni Ilyas terkejut.

Hal ini tampak saat keduanya menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa (8/1/2019) malam.

Mulanya Rocky Gerung membenarkan bahwa pejabat yang memiliki otak harus bisa bikin sinopsis dalam 140 huruf dan diretweet 140 juta penduduk.

Rocky Gerung mengatakan bahwa pembahasan KPU sangat menjengkelkan.

Rocky menilai bahwa mekanisme yang dibuat KPU justru bisa mendorong seseorang untuk golput.

“Karena tidak jelas duduk perkaranya, seluruh kebingungan publik akhirnya diselesaikan ferensi terakhir yaitu pernyataan KPU yang menyebut agar tidak ada wajah yang dipermalukan,” ujar Rocky.

Rocky lantas mengulang pernyataan Ketua KPU Arief Budiman, yang sempat mengatakan bahwa kisi-kisi pertanyaan debat calon presiden (capres) dan cawapres agar tidak ada yang dipermalukan.

Lalu, Rocky pun menantang Wahyu untuk menyebutkan siapa calon yang dipermalukan ketika debat.

“Hiruk-pikuk ini dimaksudkan untuk mencegah jangan ada wajah yang dipermalukan, seluruh psikogram yang digambarkan ke publik akhirnya taglinenya untuk menyelamatkan wajah paslon supaya tidak kena malu,”kata Rocky Gerung.

Rocky Gerung lantas meminta kamera untuk menyorot keempat tokoh yang bertarung di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Coba kamera lihat ke belakang panggung itu, coba saya tanya ke KPU, dari 4 wajah itu, yang berpotensi memalukan publik yang mana” minta Rocky Gerung pada tim ILC.

Terlihat pasangan calon presiden dan cawapres 01, Joko Widodo (Jokowi) dan Maruf Amin, serta capres-cawapres 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Foto tersebut merupakan foto resmi yang digunakan KPU untuk tampilan surat suara.

“Keempatnya itu putra-putra terbaik bangsa bang,” jawab Wahyu Setiawan pada Rocky.

Tak puas dengan jawaban dari KPU, Rocky kembali menegaskan pertanyaannya.

“Anda bilang ada potensi dipermalukan, yang mana potensi dipermalukan yang lain, tentu saja empat-empatnya adalah putra terbaik, kan KPU nggak bilang itu putra terbaik,” kata Rocky Gerung.

“Courtesy /adab nya adalah ada yang harus dijaga supaya tidak dipermalukan, pertanyaan saya yang mana yang punya potensi dipermalaukan, you nggak usah jawab kasih kisi-kisinya aja gitu,” kata Rocky.

Mendengar pernyataan Rocky Gerung tersebut, penonton di ILC bertepuk tangan dan tertawa.

Bahkan komisoner KPU, Wahyu Setiawan ikut tertawa sambil menunjuk Rocky.

“Sebab kalau Anda nggak bisa jawab, Anda menduga keempat-empatnya punya potensi untuk dipermalukan itu, atau Anda memang tahu tapi Anda sembunyikan, kan itu semiotiknya kalau kita membongkar persembunyian dari kekacauan ini” tambah Rocky.

Lalu, Rocky mulai berkomentar atas judul tema yang dibahas pada episode ILC itu.

Rocky mengatakan judul ILC ‘Menguji Netralitas KPU’ dirasa kurang pas.

Karni Ilyas yang disorot kamera terlihat terkejut dan mendengarkan kritik Rocky Gerung dengan seksama.

Penonton tampak teperangah dan langsung menyimak penjelasan Rocky Gerung.-

“Karena itu judul ini agak keliru, bukan lagi menguji netralitas, tapi menguji integritas, netralitas itu nggak perlu diuji karena itu fungsi yang diuji integritas yang menentukan netral atau tidak.”

“Netralitas itu tidak perlu diuji, integritaslah yang perlu diuji, sama seperti pers, netral adalah cover both side, omong kosong, ada lead, atau judulnya, netral itu tidak didekte, bukan berdiri di tengah, kalau berdiri di tengah tidak netral justru, takut untuk bersikap,

“Kalau anda bilang melayani kepentingan 01 dan 02, artinya anda didekte 2 kali, lebih parah lagi itu, konsepnya mesti rada jelas,” ujarnya.

Rocky Gerung lantas menyindir KPU dengan ungkapan satire.

“Kalau kisi-kisi masih setengah bocor, karena bocornya setengah-setengah, kalau bocor sekaligus orang bisa tambal, kalau anda kasih kisi-kisi berarti ada misteri, ” ujar Rocky.

Saat Rocky Gerung menjelaskan pendapatnya, tampak fahri Hamzah yang haidr di acara tersebut mendengar dengan seksama.

Bahkan Fahri Hamzah terlihat bengong.

 

Diketahui sebelumnya, Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Arief Budiman mengatakan, salah satu alasan KPU memberikan kisi-kisi pertanyaan debat ke kandidat sebelum debat digelar adalah supaya tidak ada paslon yang dipermalukan.

Jika pertanyaan diberikan secara spontan saat debat berlangsung, ada kemungkinan paslon ‘diserang’ dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak relevan.

“Kami tidak ingin ada paslon yang istilahnya dipermalukan atau diserang karena persoalan-persoalan atau pertanyaan-pertanyaan yang sangat-sangat teknis, tidak substantif,” kata Arief di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/1/2019).

Arief mengatakan, sebagai penyelenggara pemilu, KPU ingin seluruh pihak menjaga martabat pasangan capres-cawapres. Pengalaman debat pemilu, seringkali kandidat diberikan pertanyaan yang sangat teknis dan tidak penting.

Tujuannya hanya untuk menjatuhkan paslon. Padahal, tujuan utama debat adalah untuk mengampanyekan visi-misi dan program capres-cawapres.

“Tujuan utama kampanye adalah menyampaikan visi-misi program kepada masyarakat sehingga masyarakat tahu paham dan menggunakan referensi itu sebagai cara dia untuk menentukan pilihannya,” ujar Arief.

Jika visi-misi dan program paslon tak tersampaikan dengan baik, maka tujuan utama kampanye bisa dibilang tidak tercapai.

Arief menambahkan, rencana memberikan kisi-kisi ke kandidat sebelum debat bukan keputusan KPU semata.

Rencana tersebut telah disepakati KPU dengan tim kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 maupun 02.

Ada dua model lontaran pertanyaan dalam debat pertama Pilpres 2019. Dua model itu, adalah model pertanyaan terbuka dan tertutup.

Model terbuka artinya, pertanyaan sudah lebih dulu diserahkan ke peserta sebelum penyelenggaraan debat.

Model ini memberi kesempatan bagi peserta debat untuk mendalami pertanyaan dan menyiapkan jawaban.

Namun, dari seluruh pertanyaan yang disusun, hanya ada beberapa pertanyaan yang akan dimunculkan dalam debat.

Peserta debat sendiri tidak akan diberi tahu pertanyaan yang benar-benar akan muncul.

Selain model terbuka, ada juga pola pertanyaan tertutup.

Pada model ini, masing-masing pasangan calon mengajukan pertanyaan ke paslon lainnya. (TribunJateng.com/Woro Seto)

.tribunnews.

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...