Kader Demokrat: Kami Sudah Tahu Max Sopacua Cs Tawarkan Kursi Ketum ke Sandi

334

JAKARTA – Politikus Partai Demokrat Andi Arief mengungkapkan suara-suara miring yang menyerang Ketua Umum SBY dan Sekjen Hinca Panjaitan adalah skenario politik.

Ia menyebut Max Sopacua Cs berencana menawarkan kursi ketua umum Partai Demokrat kepada sejumlah tokoh di antaranya Sandiaga Uno dan Gotot Nurmantyo.

“Kami sudah tahu kalau Mubarok, Max Sopacua akan mendatangkan kursi Ketum Demokrat kepada Sandi Uno, Gatot Nurmantyo dll. Menjadi makelar memang kerap menguntungkan, tapi Sandi Uno atau Gatot Nurmantyo bukan orang yang bodoh yang bisa dibohongi.” ujarnya lewat akun Twitter, Minggu (16/6/2019).

Bahkan, ia menyebut elite yang sempat menyuarakan Kongres Luar Biasa itu dianggap tak punya perasaan pasca wafatnya Ani Yudhoyono.

“Mubarok, Max Sopacua, dan Subur Sembiring yang tak pernah saya lihat berbuat utk Partai Demokrat -dan fihak luar yg coba ikut campur–, tidak tepat waktunya mengajak kami dan Pak SBY “berkelahi”. Sekarang kami sedang berduka atas kepergian Ibu Ani. Adakah hati dan kemanusiaan?” kata dia.

Bergulirnya ide Kongres Luar Biasa yang dilontarkan elite penting Partai Demokrat yang tergabung dalam Gerakan Moral Penyelamat Partai Demokrat (GMPPD) membuat kader di bawah angkat bicara.

Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menyebutkan kader dari DPD dan DPC bahkan menginginkan agar para elite pencetus KLB itu dipecar dari partai.

“DPD dan DPC Partai Demokrat seluruh Indonesia saat ini muncul ke permukaan menentang usul KLB yang dilontarkan oleh Max Sopacua dan kawan-kawan,” ujarnya, Sabtu (15/6/2019).

Kader, kata Ferdinand, solid menjaga stabilitas di belakang Ketua Umum SBY.

Usulan sanksi pemecatan itu, lanjut Ferdinand, dipastikan akan ditindaklanjuti Dewan Kehormatan partai di bawah Amir Syamsuddin.

“Maka kami menyerahkan kepada Dewan Kehormatan terkait usul pemberhentian tersebut,” jelasnya.

Ferdinand memang disebut menjadi salah satu dari tiga kader yang dianggap kerap membuat gaduh internal partai dengan menyampaikan pernyataan-pernyataan kontroversial.

Selain Ferdinand, disebutkan Andi Arief dan Rachland Nashidik menjadi kader yang dianggap penyebab Partai Demokrat dianggap tidak punya sikap dalam konstelasi politik terkini.

Sementara itu Ketua DPP Partai Demokrat Subur Sembiring mengaku salut dengan kinerja putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.

AHY, dikatakannya berhasil mengkonsolidasikan kader partainya untuk meraih kesuksesan partai saat Pileg dan Pilpres 2019 lalu.

“Saya salut dan bangga kepada Pak AHY sebagai Ketua Kogasma merespons pileg dan pilpres ketika menerima amanah itu,” ujarnya.

Menurutnya, AHY benar-benar memberikan bantuan dukungan kepada kader partai yang berjuang masuk ke parlemen.

“Nyata betul perjuangannya juga untuk membantu teman-teman caleg dalam hal petunjuk-petunjuk yang diberikan,” ungkapnya.

Subur justru membeberkan kesalahan Ketua Umum SBY yang dianggapnya menyalahi konsititusi partai.

Ia menyampaikan SBY telah melakukan kesalahan ketika memberikan mandat tugas pengurus harian DPP PD para Februari 2019 lalu kepada Sekjen Hinca Panjaitan.

Padahal menurutnya tugas itu berdasarkan aturan partai seharusnya diserahkan kepada Waketum.

“Ketika mandat diberikan kepada seorang sekjen, maka sesungguhnya hal ini telah menyimpang dari konstitusional partai,” kata dia.

SBY memang saat itu tengah memfokuskan pikiran dan tenaganya untuk mendampingi Ani Yudhoyono menjalani perawatan sakit kankernya di Singapura.

Hinca juga ternyata, ungkap Subur, tidak menjalankan tugasnya dengan baik sesuai konstitusi partai.

Ia merasa tidak pernah diajak rapat sebagai bagian dari pengurus struktur tinggi Demokrat.

(sta/pojoksatu)

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here