Jusuf Hamka Jadikan 10 Hektare Tanahnya untuk Pemakaman Jenazah Pasien Corona

329

Setalah viral lantaran mengungkapkan adanya dugaan praktik kartel kremasi dan pengakuan diperas oknum bank syariah swasta, kini nama Jusuf Hamka kembali menjadi sorotan.

Pasalnya, pengusaha jalan tol tersebut mengemukakan niatnya untuk menjadikan 10 hektare tanah miliknya sebagai lokasi pemakaman jenazah pasien Covid-19.

“Saya punya tanah sebetulnya di Rorotan (Jakarta Utara) hampir 10 hektare. Saya bilang kan, saya harus adil, saudara-saudara kita umat Hindu, Kristen, Buddha, soal kremasi udah selesai,” kata Jusuf di Jakarta, seperti dilansir dari kompascom, Rabu 28 Juli 2021.

“Terus umat Islam dan umat lain yang mau dimakamkan, silakan pakai tanah saya,” imbuhnya.

Pria yang akrab disapa ‘Babah Alun’ ini turut berperan dalam memerangi percaloan kremasi untuk jenazah pasien Covid-19 di Jakarta.

Jusuf Hamka yang merupakan Dewan Pembina Krematorium Cilincing memerintahkan krematorium tersebut untuk menerima jenazah pasien Covid-19, dan memungut harga rendah untuk jasa kremasi, yaitu Rp 7 juta.

Sebelumnya beredar berita tentang adanya calo jasa kremasi yang mematok harga hingga ratusan juta rupiah per jenazah pasien Covid-19.

Lantas, siapakah Jusuf Hamka sebenarnya?

Pengusaha sukses yang dermawan Jusuf Hamka merupakan bos perusahaan jalan tol PT Citra Marga Nusaphala Persada. Ia dikenal sebagai sosok pengusaha yang dermawan dan kerap membantu masyarakat yang kesulitan.

Pada 2018 lalu, ia sempat menjadi sorotan karena menjual nasi kuning beserta lauk-pauknya dengan harga Rp 3 ribu per porsi. Nasi kuning tersebut dijual di sebuah tenda bernama Warung Nasi Kuning Podjok Halal.

Saat diwawancarai wartawan, Jusuf Hamka menjelaskan, usaha tersebut sudah dibuka sejak 6 Februari 2018, dengan sasaran fakir miskin dan duafa. Usaha itu merupakan bentuk pengabdian dan rasa terima kasihnya kepada Tuhan.

“Mungkin secara matematika rugi, tetapi ini dagang yang paling untung. Karena harta yang kita sedekahkan ini adalah harta kita di akhirat nanti,” beber pria yang sudah memasuki usia kepala enam tersebut.

Lantaran harga yang murah dan laku keras, ia menjelaskan konsep penjualan nasi kuning ini tidak mau mematikan usaha warung-warung sekitar.

“Kita harus beli dari mereka, harganya Rp 10 ribu-Rp 12 ribu,” imbuh Yusuf Hamka.

Caranya, Jusuf Hamka meminta penjual nasi kuning itu ikut menjaga di warungnya dan menerima uang sebesar Rp 3 ribu setiap porsi dari pembeli. Setelah itu, ia akan mensubsidi sisanya.

“Jadi sedekah kita berkah untuk mereka, tapi doa mereka berkah untuk kita, dua-duanya happy,” ungkap Jusuf Hamka.

Jadi Mualaf di Bawah Tuntunan Buya Hamka

Pria yang terlahir dengan nama ‘Alun Joseph’ ini hidup sederhana sejak kecil. Bahkan, ia sempat berjualan es mambo di Masjid Istiqlal.

“Dulu saya hidup karena ditolong orang. Dari sedekah orang. Saya jual es mambo, temen saya dulu omsetnya misalnya Rp 100 ribu, saya pulang bisa bawa Rp 130 ribu. Karena apa? Orang tuh duit lebihannya ‘udah ambil deh’ mereka sedekah, kasih infak ke saya. Gitu,” papar Jusuf Hamka.

“Pembeli saya dulu kebanyakan jemaah Masjid Istiqlal. Saya dagang di Istiqlal, belum jadi mualaf. Itu saya masih (usia) 10 tahun. Saya bilang, kok orang Islam baik-baik ya,” sambungnya.

Kecintaannya terhadap Islam terus-menerus berlanjut. Pada Maret 1981, akhirnya Alun Joseph memiliki sebuah niat besar untuk menjadi seorang mualaf.

Ia kemudian menemui seorang ulama besar Buya Hamka di Al Azhar Jakarta. Awalnya, ia hanya berniat untuk bercerita akan ketertarikannya untuk masuk Islam dan belajar tentang Islam.

Akan tetapi, ia justru dipaksa masuk Islam oleh Buya Hamka detik itu juga. Alasannya, ulama tersebut takut berdosa.

“Saya bilang, saya mau nanya-nanya. Mau masuk Islam. Akhirnya disuruh Islam di situ secara langsung. Saya bilang, ‘Kenapa maksa Buya?’,” ungkap Jusuf Hamka.

“Terus kata dia, bukannya Buya maksa, tetapi kalau kamu pulang, terus kamu meninggal, itu kafir dosanya Buya yang tanggung,” imbuhnya.

“Oh gitu, ya udah deh, Buya. Akhirnya langsung baca syahadat, ‘udah kamu Islam’ (kata Buya Hamka), udah,” tutup Yusuf Hamka.

Sumber Berita / Artikel Asli : Terkini

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here