Jokowi Sindir Pemfitnahnya, “Apa Ada PKI Balita? Ya Jangan Seperti Itulah”

862

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali ingatkan masyarakat agar menghindari fitnah, saling mencela dan saling menjelekkan.

Terlebih, tahun ini adalah tahun politik. Fitnah tersebut jelas bukan nilai-nilai dan ajaran dalam agama.

Demikian disampaikan presiden saat memberikan menyerahkan 4.000 sertifikat tanah untuk rakyat di Lapangan Pemancar RRI, Cimanggis, Kelurahan Cisalak, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (27/9).

“Itu bukan nilai-nilai etika yang kita miliki loh, hati-hati. Jangan sampai saling fitnah, saling mencemooh, saling menjelekkan,” katanya.

Jokowi memberi contoh fitnah yang menyebut dirinya PKI di media sosial.

Padahal, dia menjelaskan, saat PKI dibubarkan tahun 1965 dirinya baru berumur empat tahun. Artinya, masih balita.

“Apa ada PKI balita? Ya jangan seperti itulah,” ujarnya seperti dilansir dari laman Setkab.

Meski demikian, menurut Jokowi, ada yang percaya dengan fitnah tersebut, karena terus-menerus disampaikan, sehingga dianggap sebagai sebuah kebenaran.

“Kalau saya difitnah-fitnah ini sabar-sabar saja, sudah biasa, sudah makanan sehari-hari. Tapi hati-hati yang fitnah, hati-hati yang mencela, hati-hati yang sudak mencemooh ya kan,” ucapnya.

Jokowi mengemukakan, Indonesia ini diberi anugerah oleh Allah SWT anugerah berbeda-beda agama, berbeda-beda suku, berbeda-beda adat, berbeda-beda tradisi, dan berbeda-beda budaya.

“Berbeda-beda semuanya. Itu sudah sunnatullah yang diberikan Allah kepada kita bangsa Indonesia,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Jokowi mengajak semua umat untuk menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyah.

Dia mengingatkan, sebagai saudara sebangsa dan se tanah air, aset terbesar bangsa ini adalah persatuan dan kerukunan.

“Jangan sampai, saya titip, jangan sampai karena pilihan walikota, karena pilihan bupati, karena pilihan gubernur, karena pilihan presiden kita menjadi kelihatan terbelah-belah. Enggak boleh. Kita adalah saudara semuanya,” tegasnya.

Jokowi mempersilakan jika ada pilihan, pilih yang terbaik, sesudah itu rukun kembali. “Jangan antartetangga enggak saling sapa, antarteman di majelis taklim tidak saling sapa karena perbedaan pilihan, jangan sampai,” tuturnya.

Jangan sampai karena pilihan tidak merasa sebagai saudara sebangsa se tanah air.

Dirinya sendiri tak mempermasalahkan polihan politik seseorang manakala memilih calon-calon pemimpinnya.

“Silakan mau pilih siapa, silakan. Tapi lihatlah kalau mau memilih walikota, memilih bupati, memilih gubernur, memilih presiden,” ucapnya.

Yang terpenting, lanjutnya, masyarakat bisa melihat visi misi dan tawaran program kerjanya.

“Silihat visinya seperti apa, ini adu program, adu ide, adu gagasan jangan adunya adu fitnah. Lihat prestasinya apa, lihat rekam jejaknya, track record-nya speperti apa, dilihat semuanya,” terangnya.

Jadi, lanjutnya, pilihan harus jelas dan bukan memilih karena fitnah, karena cemooh, karena cela-mencela, tidak seperti itu.

“Itu bukan etika Indonesia, itu bukan nilai-nilai agama kita yang kita anut,” tutupnya.

(rus/rmol/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...