Jokowi Dinilai Gagal Wujudkan Janji Pertumbuhan Ekonomi, Faisal Basri Sebut Adanya Kesalahan Diagnosis

215
Faisal Basri

Ekonom senior Faisal  Basri menilai Jokowi gagal mewujudkan janji pertumbuhan ekonomi dan menyebut adanya kesalahan diagnosis.

Faisal Basri menyebut, Jokowi gagal mewujudkan janji untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar rata-rata tujuh persen dalam setahun.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun pertama Jokowi menjadi Presiden RI hanya sebesar lima persen, dan dia memperkirakan pada lima tahun kedua hanya separuh dari periode pertama.

“Pak Jokowi tidak mampu mewujudkan janjinya tujuh persen rata-rata setahun. Dalam lima tahun pertama hanya lima persen dan tidak beranjak dari lima persen. Kemudian lima tahun kedua, saya perkirakan cuma setengah jadi turun terus,” kata Faisal Basri sebagaimana dikutip Kabar Besuki dari kanal YouTube Hersubeno Point pada Kamis, 22 Oktober 2021.

Faisal Basri menyebut adanya ironi di balik rendahnya pertumbuhan ekonomi dari yang dijanjikan Jokowi saat masa kampanye.

Dia menyebut jumlah investasi di era Jokowi justru meningkat secara fantastis meski pertumbuhan ekonomi melemah.

“Mengapa? Padahal investasi di era Pak Jokowi ini luar biasa, jadi tidak pernah ada masalah dalam investasi (dalam hal jumlah). Jadi tidak betul kalau investasi di zaman Pak Jokowi jeblok,” ujarnya.

Faisal Basri juga mempertanyakan keberadaan UU Cipta Kerja yang seolah-olah menjadi diagnosa ampuh Jokowi untuk menggenjot investasi.

Menurutnya, UU Cipta Kerja justru merupakan diagnosis yang salah dalam mengatasi persoalan ekonomi di Indonesia, bahkan menimbulkan kesan memberhalakan investasi.

“Jadi kita harus mengeluarkan undang-undang sapu jagat yang dinamakan (UU) Cipta Kerja itu, nggak bener. Jadi sejak awal Pak Jokowi salah diagnosis, memberhalakan investasi, semua diberikan untuk investasi,” katanya.

Faisal Basri mengakui, Indonesia memiliki tingkat porsi investasi terhadap PDB tertinggi di ASEAN bahkan 32 persen melampaui rata-rata negara berpendapatan menengah ke atas.

Akan tetapi menurutnya, capaian rekor tersebut justru menjadi bumerang tersendiri bagi ekonomi Indonesia, meski Jokowi kerap membanggakan capaian tersebut.

“Investasi di Indonesia dalam porsinya terhadap PDB itu tertinggi di ASEAN, lebih tinggi kira-kira 32 persen dari investasi di rata-rata negara berpendapatan menengah atas apalagi menengah bawah. Tapi kita bertanya, apa yang mau dicari sama Pak Jokowi? Investasi besar, hasilnya kecil, itu masalah mendasarnya,” ujar dia.

Faisal Basri menyebut investasi yang dilakukan Jokowi sebagai pemborosan dan hanya menghambur-hamburkan uang, karena tidak dibarengi perencanaan yang matang hingga sejumlah proyek justru mangkrak.

“Jadi boros ternyata, uangnya menguap kemana-mana karena nggak ada tender, perencanaannya nggak bagus, di tengah jalan mangkrak,” tuturnya.***

Sumber Berita / Artikel Asli : Pikiran Rakyat

Berikan Komentar Anda

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here