Jokowi: Awas, Ada Kelompok dalam Negeri yang Menakut-nakuti Pemuda Indonesia

248
Jokowi saat memberikan pidato sambutan dalam HUT ke-4 PSI

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan peringatan memasuki tahun politik menuju Pemilu dan Pilpres 2019.

Menurutnya, ada sekelompok orang dari dalam negeri berupaya menebar ketakutan pada anak muda Indonesia.

Demikian ditegaskan Jokowi saat memberikan sambutan pada Hari Ulang Tahun Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Indonesian Convention Exhibition, Tangerang, Banten, Minggu (11/11/2018).

“Ada dari dalam negeri yang menakut-nakuti anak-anak muda kita sendiri,” beber Jokowi.

Atas tindakan itu, orang nomor satu di tanah ait itupun menyayangkan aksi menakut-nakuti itu.

Pasalnya, negara lain sangat takut untuk mengganggu generasi muda Indonesia yang dikenal kreatif.

“Negara luar saja sangat takut sama anak-anak muda kita, kok ini dari dalam ada yang menakut-nakuti,” lanjutnya.

Menurutnya, jika aksi menakut-nakuti itu terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin kreativitas dan potensi pemuda Indonesia akan mati secara perlahan.

“Yang seperti itu tidak dapat dibenarkan, karena akan membunuh keberanian dan kreatifitas anak muda,” tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum PSI, Grace Natalie juga melontarkan sindiran terkait politisi sontoloyo dan politisi genderuwo.

Dua diksi itu sendiri awalnya muncul setelah dilontarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sontoloyo dan genderuwo itu pun langsung ramai mewarnai politik nasional. Terkait dua diksi itu, Grace Natalie pun ikut angkat bicara.

Menurutnya, para politisi yang dimaksud Jokowi itu ada di dalam satu kubu.

“Politisi genderuwo ini bisasanya satu geng dengan politisi sontoloyo,” katanya.

Grace menjelaskan, geng ‘politisi genderuwo’ dan ‘sontoloyo’ merupakan politisi yang dalam gerakannya selalu menggunakan isu suku ras dan agama (SARA) dan kabar bohong.

“Kelompok politisi ‘genderowo dan sontoloyo’ ini adalah politisi yang suka menyebar isu SARA dan hoax,” jelasnya.

Grace menegaskan, cara-cara berpolitik yang tidak baik itu akan sangat terlarang dan tidak akan pernah dipakai oleh PSI dalam perjalanan menuju Pemilu 2019.

“Politik PSI adalah politik yang menyebar kebahagiaan, politik kreatif dan politik kegembiraan,” tukasnya.

(JPG/ruh/pojoksatu)

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here