Jelang Pidato Presiden, Polisi Lakukan Intimidasi pada Sejumlah Wartawan

350

Jakarta – Aparat kepolisian melakukan intimidasi terhadap wartawan yang meliput rencana aksi unjuk rasa buruh di depan Gedung MPR, Jumat (16/8), di Jakarta. Saat itu para buruh hendak melakukan unjuk rasa di sela-sela pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo di hadapan anggota MPR.

Berdasarkan laporan kantor berita Antara, ada beberapa jurnalis yang mengalami intimidasi oleh polisi dari Polda Metro Jaya. Jurnalis dari SCTV saat merekam video menggunakan ponselnya dipukul oleh personel polisi sehingga terpental jatuh di depan Stasiun TVRI.

Begitu pula dengan jurnalis dari Vivanews. Ketika wartawan itu merekam polisi yang membubarkan paksa pengunjuk rasa buruh menggunakan ponselnya, tiba-tiba aparat mendatanginya. Tiba-tiba seorang anggota kepolisian meminta video atau foto untuk dihapus. Padahal, ia sudah menjelaskan profesinya sebagai wartawan.

“Hapus video tadi. Kalau tak mau menghapus akan saya bawa ke mobil,” kata jurnalis tadi menirukan anggota polisi berbaju putih yang tampak emosional.

Kemudian, wartawan foto Bisnis Indonesia, pun mendapatkan perlakukan yang sama. Saat sedang mengabadikan para buruh yang diamankan ke dalam mobil tahanan oleh polisi, namun foto tersebut diminta polisi untuk dihapus.

“Ketika motret para buruh yang dibawa masuk ke mobil tahanan, tiba tiba petugas ada yang turun suruh hapus foto tersebut. Sempat adu mulut, saya mempertahankan foto, sampai akhirnya temannya datang. Dia bilang saya bawa juga,” papar wartawan bernama Nurul Hidayat tersebut.

Wartawan foto dari Jawa Pos, Miftahul, juga mendapatkan perlakukan yang lebih parah dari anggota polisi ketika mengabadikan para demonstran yang dibawa masuk ke dalam mobil tahanan di depan gedung TVRI. “Saya ditarik bajunya, dihapus fotonya,” kata Miftah.

Ia menirukan omongan polisi, “Dihapus juga video dan foto. Tunggu rilis. Kamu jangan sewenang-wenang. Kamu dari tadi saya lihat foto-foto video. Kamu mau hapus atau gua kandangin,” kata polisi.

Wartawan Inews TV pun mendapat perlakukan yang sama dari ketika melakukan kegiatan peliputan masa aksi yang berkumpul di depan TVRI. “Hapus videonya, nanti ada konferensi pers,” ujar wartawan Inews. (AS) indonesiainside

 

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here