Jadi Tersangka Suap Jaksa Pinangki, Andi Irfan Dijerat Pasal Permufakatan Jahat

313
Tersangka Jaksa Pinangki Sirna Malasari mengenakan rompi tahanan usai di periksa penyidik di gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (2/9/2020). | AKURAT.CO/Sopian

 Direktorat Penyidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi menetapkan Andi Irfan Jaya sebagai tersangka kasus dugaan pemberian suap dan janji terhadap Jaksa Pinangki Sirna Malasari.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Hari Setiyono mengatakan bahwa penetapan Andi Irfan Jaya (AIJ) sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan tim jaksa penyidik pidana khusus Kejagung.

“Pada hari ini dilakukan pemeriksaan terhadap satu saksi atas nama Andi Irfan. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan penyidik, maka pada hari ini penyidik telah menetapkan 1 tersangka lagi dengan inisial AIJ,” kata Hari di gedung bundar Kejagung, Jakarta, Rabu (2/9/2020).

Andi Irfan disangkakan melakukan tindak pidana korupsi sesuai pasal 15 UU nomor 20 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

“Dan diduga adanya pemufakatan jahat dalam dugaan gratifikasi yang diduga dilakukan oknum jaksa Pinangki Sirna Malasari (PSM),” ujar Hari.

Diketahui, Direktorat Penyidikan Jampidsus masih melakukan penyidikan tehadap perkara dugaan tindak pidana korupsi terkait pemberian ataupun janji yang dilakukan tersangka oknum jaksa Pinangki Sirna Malasari (PSM) dan juga tersangka Djoko Tjandra.

Dalam perkembangannya, ada peran tersangka Andi Irfan dalam pemberian suap kepada Jaksa Pinangki dari Djoko Tjandra untuk pengurusan fatwa di Mahkamah Agung (MA).

“Tersangka dengan inisal AI kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan dengan kapasitas sebagai tersangka. Dan akan dilakukan penahanan dengan jenis penahanan rutan ini dan akan ditempatkan di Rutan KPK,” ucap Hari.

Sebelumnya diketahui, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mendesak tim jaksa penyidik pidana khusus Kejagung  seharusnya segera menetapkan Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Nasdem Sulawesi Selatan Andi Irfan Jaya sebagai tersangka.

Sebab Andi Irfan diduga turut serta menerima aliran dana dari Djoko Tjandra terkait pengurusan fatwa di Mahkamah Agung (MA) yang dilakukan jaksa Pinangki Sirna Malasari.

“Kalau saya sudah mendesak, pasti akan ditetapkan tersangka. Kalau enggak ditetapkan, saya yang malu sendiri,” kata Boyamin kepada AKURAT.CO, saat dihubungi, Rabu (2/9/2020).

Untuk diketahui, sampai saat ini, Andi Irfan Jaya (AIJ) masih berstatus sebagai saksi. Politikus Nasdem ini baru 2 kali diperiksa tim jaksa penyidik pidana khusus.

Andi Irfan sebelumnya diketahui pernah pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia bersama dengan Jaksa Pinangki. Kepergian keduanya guna bertemu dengan terpidana Djoko Tjandra untuk menyerahkan proposal terkait pembentukan konsultan hukum dalam rangka pengurusan fatwa di MA.

“Kami mendesak Penyidik Gedung Bundar untuk menetapkan Tersangka baru atas saksi AIJ dengan sangkaan pasal 55 atau 56 KUHP, terkait bersama-sama atau turut serta,” ucap Boyamin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (1/9/2020).

Peran Andi Irfan yang membuat jaksa Pinangki menerima suap atau janji dari Djoko Tjandra agar tidak di eksekusi setelah adanya putusan Peninjauan Kembali (PK).

“Dikarenakan atas perannya Andi Irfan, maka tersangka jaksa PSM diduga telah menerima materi dan atau janji dalam upayanya membantu Joko Soegiarto Tjandra,” jelasnya.

“Kalau tidak turut serta ya membantu lah, biar utuh satu rangkaian bahwa ini yang dilakukan di Kuala Lumpur, kan siapa yang mengajak,” tambah dia.

Andi Irfan, dikatakan Boyamin, membantu Pinangki dan pihak lain untuk bertemu Djoko Tjandra di Malaysia dalam pengurusan fatwa di MA.

Untuk diketahui, tersangka Joko Soegiharto Tjandra atau Djoko Tjandra diduga memberikan sejumlah dana sebesar US$500.000 kepada tersangka Pinangki Sirna Malasari melalui politikus Partai Nasdem Andi Irfan Jaya. []

Sumber Berita / Artikel Asli : Akurat

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...