Istilah Bocoran Kisi-kisi Debat Pilpres Dinilai Rektor UI Kurang Pas

282

Rektor Universitas Indonesia Profesor Muhammad Anis menilai, penggunaan istilah bocoran kisi-kisi pada debat calon presiden dan calon wakil presiden tidak tepat karena dapat berdampak negatif. Namun apa pun istilah nantinya, Anis berharap debat akan tetap berlangsung secara terbuka dan transparan.

“Kalau saya tidak ingin menggunakan kalimat dibocorkan, kalau dibocorkan itu kan negatif. Tapi di sini ada mekanisme di mana isu-isu yang akan dibahas diinformasikan. Itu lebih enak didengarnya,” kata Anis saat ditemui di kantornya, Depok, Jabar pada Selasa 8 Januari 2019.

Dengan adanya informasi tersebut, Anis menilai kedua kandidat akan lebih fokus ketika memberikan paparan sehingga dapat meyakinkan calon pemilih.

“Informasi itu mengarahkan diskusi, jadi bukan dibocorkan, diinformasikan isu-isu yang akan dibahas agar tidak keluar jalur,” ujarnya.

Ketika disinggung perlu tidaknya pemaparan visi-misi dari masing-masing paslon atau pasangan calon, Anis pun tak ingin ambil pusing. Menurutnya, yang terpenting adalah tujuan debat itu terpenuhi nantinya.

“Yang dibutuhkan orang itu kan selalu substansi. Kita ini harus tahu bahwa pasangan A pasangan B ini pandangannya terhadap isu-isu seperti apa. Nah dari kandidat tersebut kita bicara objektif ya secara universal. Misalnya saya kasih isu anda merespons seperti apa, kita bisa milih,” katanya.

“Jadi bukan visi-misi, pokoknya apa pun yang disampaikan oleh setiap kandidat yang menyebabkan saya mudah menentukan pilihan itu sangat positif. Intinya itu. Jadi sesuatu harus punya data yang menyebabkan seseorang menentukan pilihan,” lanjut dia.

Anis berharap, masing-masing paslon dapat memaparkan sejumlah isu penting yang bakal mempengaruhi kehidupan masyarakat.

“Kalau saya tentu saja yang paling penting adalah soal isu pendidikan, kemudian soal ekonomi, kesehatan, HAM, korupsi dan hukum,” kata dia. viva

Comments

comments