Ini Yang Membuat Anies-Sandi Unggul Telak Atas Ahok-Djarot Versi IWD

472

Ada beberapa faktor yang dinilai menjadi penyebab suara Anies Baswedan-Sandiaga Uno jauh mengungguli petahana Basuki T. Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Sehingga tak ada satu pun lembaga survei berhasil memprediksi hasil Pilkada DKI.

Menurut data real count KPU DKI Jakarta, Anies-Sandi memperoleh 57,95% suara; sementara Ahok Djarot 42,05% suara.

Direktur Indonesia Watch for Democracy (IWD) Endang Tirtana menengarai hal itu tak lepas dari sejumlah momentum penting yang terjadi di minggu terakhir menjelang pemungutan suara. “Beberapa kejadian tersebut merugikan kedua pasangan calon,” jelas Endang dalam keterangannya (Selasa, 25/4). [IWD: Tak Ada Satu Pun Lembaga Survei Yang Berhasil Prediksi Hasil Pilgub DKI]

Dalam catatan IWD peristiwa yang merugikan Anies-Sandi adalah pengusiran Djarot dari salah satu masjid di Tebet; aksi bagi-bagi sembako; tertangkapnya Kader PKS yang diduga terkait upaya makar di Pasuruan; tertangkapnya kader PKS dengan tuduhan asusila di Kalimantan Selatan; dan SMS yang menagih komitmen dan janji tim sukses memberikan Rp. 500.000.

Sedangkan yang merugikan Ahok Djarot adalah insiden umpatan Steven Hadisurya Sulistyo kepada Gubernur NTB TGB Zainul Majdi di Bandara Changi, Singapura; aksi bagi-bagi sembako; video preman mengamuk di rusun; dan diijinkannya wisata Al Maidah dari luar Jakarta.

“Namun yang paling dirugikan adalah pihak Ahok-Djarot,” ungkap Endang.

Dia menguraikan, sentimen Ahok-Djarot yang tadinya sudah cenderung dingin masalah agama dan SARA  kembali bangkit dengan adanya insiden di Changi Airport. Padahal, belakangan isu tersebut diduga hoax belaka. KTP milik Steven yang beredar juga diragukan kebenarannya.

“Pukulan terhadap kubu Ahok-Djarot diperparah dengan diijinkannya peserta wisata Al-Maidah dari luar kota Jakarta untuk masuk menyaksikan pencblosan di TPS. Ini melipatgandakan faktor “fearness” atau ketakutan yang membuat banyak pendukung Ahok tidak hadir ke TPS,” ungkapnya.

Endang menjelaskan dari data yang ada, banyak pemilih Ahok-Djarot tidak datang ke TPS. Ini sudah dijelaskan oleh beberapa lembaga sebelumnya bahwa trend Ahok-Djarot cenderung menunjukkan kenaikan di minggu terakhir menjelang pemungutan suara.

“Satu tugas berat tim Ahok-Djarot adalah membangkitkan kepercayaan diri dan mengubah ketakutan pendukungnya agar datang ke TPS dan melakukan pencoblosan, itu gagal dilakukan,” bebernya.

Jika melihat rapatnya tekanan kepada pendukung Ahok-Djarot, apalagi dengan menggunakan isu agama dan etnis, menurutnya, bisa dipastikan kekalahan Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta adalah akumulasi dari sentiment etnis dan SARA yang diarahkan kepada mereka, dan diperburuk lagi dengan ketakutan yang sangat dalam di pendukung mereka, sehingg memilih untuk tidak datang ke TPS.

Akumulasi dua hal tersebut membuat swing voters sekitar 6-8% akhirnya beralih ke Anies-Sandi. Belum lagi perasaan takut akibat intimidasi yang sistematis dan terstruktur semakin memperlebar margin kemenangan Anies-Sandi menjadi sekitar 15%.

“Publik melihat selama rangkaian Pilkada DKI, isu SARA dan politisasi agama menjadi bahan kampanye untuk mendelegitimasi calon petahana. Survei-survei menunjukkan, tingkat kepuasan terhadap Ahok sangat tinggi, tetapi elektabilitas jauh di bawah,” kata Endang.

IWD mengkhawatirkan modus serupa akan kembali digunakan dalam Pilkada 2018 mendatang. Ini jelas pradoks dalam praktek demokrasi di Indonesia, ketika faktor etnis dan agama bisa mengalahkan faktor prestasi dan kapasitas.

“Jika diteruskan akan jadi sangat berbahaya bagi demokrasi kita,” pungkas Endang.  [wah] | RMOL


*Repelita Online merupakan wadah untuk menyalurkan ide/gagasan/opini/aspirasi warga. Setiap opini/berita yang terbit di Repelita Online yang merupakan kiriman dari penulis merupakan tanggung jawab dari Penulis.
Join @Repelita Channel on Telegram

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here