Ingatan PKB Terhadap Peristiwa 27 Juli, Cara Gus Dur Tumbangkan Orde Baru Tak Bisa Dilupakan

183
Gus Dur/net

JAKARTA – Peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau disebut Kudatuli tercatat menjadi salah satu tragedi kelam di era Orde Baru.

Pasalnya, kala itu banyak terjadi peristiwa, salah satunya serangan terhadap Kantor DPP PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri di Jakarta.

Dalam serangan itu, memicu serangan balasan terhadap kekuatan pendukung Soeharto di berbagai daerah.

Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi III DPR RI Luqman Hakim dalam keterangan tertulisnya kepada Pojoksatu, Jakarta, Senin (27/7/2020).

Politisi PKB ini juga mengatakan memiliki memori sejarah terkait peristiwa Kudatuli.

Menurutnya, peristiwa berdarah ini menjadi bagian dari kristalisasi perlawanan rakyat di berbagai daerah terhadap rezim otoriter Orde Baru.

“Jauh sebelumnya, kelompok-kelompok kecil mahasiswa dan rakyat sudah bergerak sporadis di berbagai daerah dengan berbagi isu terkait penindasan rakyat oleh rezim. Sasaran utamanya, menjatuhkan rezim otoriter Orde Baru,” kata Luqman, Senin (27/7/2020).

Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan PP GP Ansor ini mengatakan, simbol perlawanan terhadap Orde Baru tidak luput dari dua tokoh bangsa yakni KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri.

Pendiri Partai PDIP dan Partai PKB ini menjadi kunci perlawanan rakyat terhadap kesewenang-wenangan penguasa Orde Baru.

“Hingga akhirnya demokratisasi bisa dimulai di Indonesia,” tuturnya.

Menurutnya, Gus Dur dan Megawati merupakan kedua tokoh yang kerap kali melakukan perlawanan terhadap pemerintah Soeharto.

Ia mengatakan, kedua tokoh ini menjadi simbol perlawanan terhadap orde baru.

Selama Orba berkuasa, kata Luqman, kaum Nahdliyin dan Marhaenis adalah elemen paling ditindas.

“Puncaknya, 21 Mei 1998, Soeharto dipaksa mundur oleh gerakan rakyat dan mahsiswa. Dimulailah era demokrasi di negeri ini,” pungkasnya.

Sumber Berita / Artikel Asli : pojoksatu

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...