INDEF: Kebijakan Jokowi Terlambat & Setengah-setengah

187

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadinya kontraksi ekonomi yang cukup dalam di kuartal II-2020.

Pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020 anjlok -5,32% dibandingkan pada kuartal II-2019 lalu (year on year).

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kontraksi ini lebih dalam dari perkiraan banyak pihak, dan menjadi angka pertumbuhan terendah sejak Era Reformasi (tepatnya sejak triwulan I-1999 yang tumbuh -6,13% yoy).

Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejatinya sudah mengalami tren perlambatan sejak capaian tertingginya di triwulan II-2018 yang tumbuh 5,27% yoy.

“Sejak triwulan III-2019, terjadi perlambatan (seasonally adjusted) terjadi di setiap kuartalnya dibandingkan dengan kuartal yang sama di tahun sebelumnya (yoy),” tulis INDEF dalam Siaran Pers Respons Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2020 yang dikutip CNBC Indonesia, Kamis (6/8/2020).

Pandemi Covid-19, menurut INDEF hanya konfirmasi akan rapuhnya strategi dan kebijakan ekonomi selama ini.

Kemandirian diabaikan, sektor utama kontributor perekonomian (pertanian, industri, dan perdagangan) tidak mendapat dukungan kebijakan yang cukup untuk mengakselerasi perekonomian. Lebih dari itu usaha-usaha skala UMKM baru dirawat dan keluar kebijakan pendukung (walau pencairan lambat saat pandemi sudah tiba.

“Perlambatan perekonomian yang terjadi di triwulan II-2020 menimbulkan tanya,apakah ini menjadi titik terendah atau justru malah menuju kepada situasi yang lebih parah?”

“Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua negara saat ini alami perlambatan ekonomi, namun banyak pelajaran berharga bahwa negara yang mampu mengendalikan pandemik, perlambatan ekonominya lebih moderat.”

“Ibarat menginjak rem dan gas sama kuat tidak akan membuat mobil berjalan kencang.”

INDEF memberikan beberapa poin catatan atas kinerja perekonomian Indonesia triwulan II-2020 :

1. Kebijakan ‘terlambat dan setengah-setengah’ dalam mengatasi pandemi. 



Implikasi dari terlambatnya respon kesehatan terhadap Covid dan terlalu longgarnya pelaksanaan new normaldi saat kasus positif Covid-19 masih terus meningkat Negara lain melawan virus Covid-19 dengan mengurangi interaksi dan kerumunan sambil memberikan bantuan sosial yang cukup sehingga rakyat yang pekerjaannya berisiko kesehatan tinggi bisa di rumah dan tekan penyebaran. Tapi data penduduk miskin dan rentan Indonesia yang terakhir diupdate secara nasional tahun 2015 tidak lagi akurat untuk jadi acuan penyaluran bansos di tahun 2020 sehingga PSBB rendah efektivitasnya. Tapi pada sisi lain, tanpa penurunan kasus Covid-19 yang nyata, pelaku ekonomi dan investor juga menahan langkah.

Sehingga walaupun triliunan Rupiah telah dialokasikan untuk permulihan ekonomi, dengan realisasi masih rendah dan penyebaran pandemic Covid-19 yang masih terus meningkat menunjukkan dampaknya pada angka pertumbuhan triwulan II 2020.

2. Triwulan tanpa pertumbuhan

Pertumbuhan negatif yang kita alami di triwulan II 2020 ini menjadi pertumbuhan paling rendah di masa Era Reformasi. Padahal sejauh ini data menunjukkan bahwa triwulan II umumnya merupakan puncak dari pertumbuhan ekonomi secara kuartalan. Kali ini ceritanya berbeda, justru triwulan II 2020 menjadi triwulan tanpa pertumbuhan ekonomi.

Hanya ada tiga sektor yang mengalami pertumbuhan positif yaitu sektor pertanian; sektor informasi dan telekomunikasi; serta sektor pengadaan air listrik dan gas. Di luar itu hampir seluruh sektor mengalami pertumbuhan negatif selama triwulan II 2020 dengan sektor transportasi dan pergudangan sebagai yang terendah. Menariknya, sungguhpun sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif di triwulan II tetapi sektor akomodasi dan makan minum tetap mengalami perlambatan extradalam yaitu sekitar 22 persen sebagai imbas turun drastisnya perjalanan selama pandemi.

3. Sektor unggulan tumbang

Berdasarkan lapangan usahanya secara year on year terlihat bahwa pertumbuhan sektor-sektoryang memiliki kontribusi besar bagi PDB yaitu sektor industridan sektor perdaganganjuga mengalami perlambatan yang cukup dalam. Sektor industridari pertumbuhan 3,54 persen yoypada triwulan II tahun lalu menjadi -6,19 persen yoypada triwulan II 2020.Hal yang sama juga terjadi pada sektor perdagangan dari tumbuh 4,63 persen yoy pada triwulan II 2019sekarang -7,57 persen yoy di triwulan II 2020.

4. Kontraksi konsumsi rumah tangga

Dari sisi pengeluaran terlihat sekali bahwa di triwulan II 2020 konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi yang sangat besar di mana pertumbuhannya -5,51 persen yoy, menandakan daya beli yang turun drastis. Pertumbuhan minus pada sisi konsumsi ini yang pertama kali selama era reformasi padahal 57,85 persenperekonomian sangat bergantung dari laju konsumsi rumah tangga. Ketika posisinya konsumsi rumah tangga minus,maka sangat mengganggu terhadap keseluruhan dari komponen pembentuk PDB.

5. Hampir semua perekonomian daerah mengalami perlambatan

Dari sisi kewilayahan terlihat bahwa hampir semua daerah mengalami perlambatan ekonomi. Pulau Jawa tumbuh -6,69persen yoy, demikian halnya PulauSumatera,Kalimantan,Sulawesi,serta Bali dan Nusa Tenggara juga mengalami pertumbuhan negatif. Hanya Maluku dan Papua yang tumbuh positif. Jatuhnya perekonomian di Pulau Jawa membuat struktur PDB terkontraksi sangat dalam karena dominasi porsi ekonomi Pulau Jawa(58,55 persen), terlebih lagi Jawajuga merupakan pusat pandemi Covid-19

6. Kesejahteraan petani tergerus dan waspada lonjakan harga beras di akhir kuartal IV 2020

Sumber Berita / Artikel Asli : CNBC Indonesia

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...