IMF adalah Indonesia Menghamburkan Fulus

450

By Asyari Usman

Pemerintah Indonesia mengabaikan imbauan agar membatalkan pertemuan tahunan IMF (International Monetary Fund) yang akan dilaksanakan 8-14 Oktober 2018 di Bali. Pihak oposisi berpendapat, pertemuan terlalu mewah dengan biaya Rp800 miliar. Estimasi lain menyebut angka 1.1 triliun. Bahkan ada yang mentotal semuanya, termasuk pembuatan fasilitas baru dan renovasi, mencapai 6.9 triliun rupiah.

Apakah ada manfaatnya bagi Indonesia? Sangat panas perdebatannya. Orang-orang yang terbiasa dengan lobyying mengatakan acara ini sangat bagus. Memperbesar peluang investasi, kata mereka. Benarkah demikian? Tampaknya tidak serta-merta begitu.

Yang jelas, pada saat ini yang diperlukan Indonesia adalah dana untuk mengatasi keadaan dadurat kemanusiaan yang melanda wilayah bencana alam. Misalnya, ketika upaya normalisasi kehidupan rakyat di NTB masih jauh dari sasaran, muncul pula bencana baru di Palu dan Donggala. Makanan tak cukup. Listrik masih belum pulih. Ribuan rumah ditelan bencana gempa dan tsunami.

Karena itu, perhelatan IMF-Bank Dunia di Bali dengan biaya 1.1 triliun rupiah itu terkesan bagaikan berpesta pora di depan rumah duka.
Tentunya cukup memprihatinkan.

Kalau oposisi menyebutnya mewah, tidak berlebihan. Tempatnya pastilah di kompleks yang termahal di Bali. Di hotel termahal. Begitu juga untuk penginapan peserta. Kabarnya, pertemuan IMF-WB ini diikuti oleh 32,000 peserta.

Ketua panitia, Luhut Panjaitan, membanggakan jumlah peserta. Dia mengatakan pertemuan tahunan ini luar biasa. Terbesar sepanjang sejarah.

Megalomania? Bisa jadi. Tapi, bagi rakyat jelata, khususunya bagi puluhan ribu korban bencana alama, acara IMF ini lebih cocok disebut “Indonesia Menghamburkan Fulus”. Membuang-buang duit.

Tidak mungkinkah dibatalkan? Sangat mungkin. Pihak IMF dan WB pasti menerima permintaan pembatalan karena mereka bisa memahami situasi sulit yang sedang melanda rakyat Indonesia.

Yang menjadi masalah ialah, para pejabat yang menyukai hura-hura tidak mau membatalkannya. Mereka merasa bangga bisa menyelenggarakan pertemuan besar.

(Penulis adalah wartawan senior)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...