Heboh Perpres Investasi Miras Kiai Ma’ruf Diserbu Netizen

1297

Peraturan Presiden (Perpres) No.10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal bikin heboh. Pemicunya, dalam aturan itu yang sudah diteken Presiden Jokowi itu, membuka izin investasi untuk industri minuman keras alias miras. Tak setuju dengan aturan itu, warganet menyerbu Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.

Soal investasi miras tercatat dalam lampiran III Perpres yang mulai berlaku 2 Februari 2021 itu. Disebutkan, pemerintah mengatur ada empat klasifikasi miras yang masuk daftar bidang usaha dengan persyaratan tertentu.

Pertama, industri miras mengandung alkohol. Kedua, miras mengandung alkohol berbahan anggur. Ketiga, perdagangan eceran miras dan beralkohol. Keempat, perdagangan eceran kaki lima miras atau beralkohol.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas kecewa. Menurutnya, kebijakan ini membuktikan pemerintah mengedepankan kepentingan investor ketimbang rakyatnya. Sebagai bangsa, Indonesia dijadikan objek yang bisa dieksploitasi untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya.

“Dengan kehadiran kebijakan ini, saya melihat bangsa ini sekarang seperti bangsa yang telah kehilangan arah. Karena tidak lagi jelas oleh kita, apa yang menjadi pegangan bagi pemerintah dalam mengelola negara ini,” sesal Anwar dalam keterangan resminya, Jumat (26/2).

Semestinya, kata dia, pemerintah tidak memberi izin bagi usaha-usaha yang akan menimbulkan mafsadat (kerusakan) bagi putra-putri bangsa. Dia juga mengkritik, saat ini sering digembar-gemborkan tentang Pancasila dan UUD 1945. Tapi kenyataannya, sistem ekonomi liberalisme kapitalisme yang dikedepankan, bukan karakter dan jati diri sebagai bangsa.

Penolakan juga datang dari DPR. Wakil Ketua Badan Legislasi DPR, Achmad Baidowi meminta, pemerintah mengurungkan niatnya. Menurut Baidowi, kebijakan ini lebih besar mudharatnya. Lebih mementingkan keuntungan semata daripada masa depan putra-putri bangsa.

Dia mengungkapkan, sampai saat ini, legislasi miras menimbulkan dampak buruk. Banyak kasus yang mencoreng Indonesia, berawal dari miras. Dia pun menyinggung kasus penembakan anggota TNI oleh oknum polisi yang mabuk. Kemudian, soal meninggalnya warga negara Jepang akibat nenggak miras.

“Bukan tidak mungkin, ke depan akan banyak terjadi hilangnya nyawa anak muda kita,” ujar politisi PPP ini.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2016 saja, sebut dia, ada 3 juta lebih di dunia meninggal akibat minuman beralkohol. Karena itu, sudah sejak lama, dirinya meminta agar pengesahan RUU Larangan Minuman Beralkohol disegerakan.

Dia menegaskan, penolakan ini bukan berarti anti investasi. Dia hanya ingin penanaman modal yang masuk harus berkualitas bagi bangsa dan negara.

Warganet pun tak mau ketinggalan mengomentarinya. Salah satunya berasal dari mantan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain. Dia meminta Wapres Ma’ruf Amin merespons aturan tersebut.

“Pak Ma’ruf Amin yth. Presiden telah buka izin investasi miras dan jual miras sampai kaki lima dengan syarat tertentu. Sebagai Wapres dan kiai, bapak bersuaralah,” pintanya, melalui akun @ustadtengkuzul.

Tengku Zul melanjutkan, kebijakan ini akan menjadi tanggung jawab Kiai Ma’ruf di akhirat kelak. Mengingat, eks Ketua Umum MUI itu merupakan orang nomor 2 di Indonesia. Khawatirnya, investasi miras ini akan membuat tempat perjudian dan pelacuran semakin menjamur.

Dia juga menilai, sebagai negara berazaskan Pancasila, rasanya tidak pantas mencari penerimaan negara melalui miras. “Negara ini gemah ripah lohjinawi. Apa sumber duit sudah bangkrut, sampai mesti produksi dan jual miras buat cari duit? Pak Ma’ruf Amin tidak malu kah? MUI Mana suaranya?” kritiknya.

Akun @prisma93246654 ikutan mengkritik. “Percuma Wapresnya seorang ulama dan kiai, kalo hanya bisa tersenyum ketika Jokowi membolehkan investasi miras secara besar-besaran,” sindirnya.

Sayangnya, sampai malam tadi, Kiai Ma’ruf belum angkat suara. Rakyat Merdeka coba menanyakan hal ini melalui juru bicaranya, Masduki Baidlowi. Namun, pesan singkat melalui WhatsApp dan SMS tidak direspons, begitu juga melalui panggilan telepon. [MEN]

Sumber Berita / Artikel Asli : Rakyat Merdeka

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...