Hasil Quick Count Jokowi-Ma’ruf Menang 63 Persen, PDIP Berani Uji Keabsahan, BPN Berani Nggak?

351

JAKARTA – PDI Perjuangan (PDIP) merilis hasil quick count internal Pilpres 2019 di Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (19/4/2019).

Dalam hasil hitung cepat Badan Saksi Pemilu Nasional (BSPN) ‎PDIP itu, pasangan Jokowi-Ma’ruf menang mutlak dengan angka 63 persen, sedangkan pasangan Prabowo-Sandi mendapat 37 persen.

Kepala BSPN PDIP, Arif Wibowo menjamin keaslian hasil penghitungan suara Pilpres dari PDIP yang berdasarkan salinan C1.

Bahkan dia mengatakan hasil quick count yang dilakukan bukan rekayasa angka-angka.

“Di TPS mana saja misalnya, itu kita bisa tunjukkan. Daerah yang belum menginput data itu belum bisa tercover,” jelasnya.

Arif menjelaskan, hasil quick count tersebut merupakan data terakhir yang dihitung sampai dengan Jumat (19/4/2019) pukul 14.10 WIB.

Data itu diambil dari total 58.656 TPS dengan jumlah suara masuk mencapai 10.691.760 dari total 813.350 TPS di pemilu serentak kali ini.

“Berdasarkan UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu dan Peraturan KPU nomor 9 tahun 2019 tentang Pemilihan dan Rekapitulasi, yang prinsipnya adalah di dalam proses elektoral kita menghitung hasil pemilu per TPS yang tersebar dalam 810.346 TPS yang ada di Indonesia itu berbasis kepada lembar C1,” kata Arif Wibowo.

Di tiap kantor cabang Partai setingkat Kabupaten/Kota, PDI Perjuangan memiliki kamar hitung tempat BSPN bekerja menerima formulir C1 yang berisi hitungan suara dari setiap TPS.

Lembar C1 itu, menurut Arif, menjadi dasar perhitungan rekapitulasi suara yang dilakukan oleh tim internal PDI Perjuangan. Perhitungan suara terus berlangsung hingga 22 Mei 2019.

“Dan hanya formulir C1 asli yang datanya kami input. Yang berbentuk foto, sms, email, kami tak hitung,” tegasnya.

Data-data dari tiap kamar hitung itu kemudian langsung dimasukkan dan muncul otomatis di laman website khusus penghitungan yang dipantau secara terbuka.

Ketika ditayangkan, jumlah suara yang masuk di kisaran 10 jutaan.

“Hasilnya baru sampai 10.688.000 yang bergerak terus dan otomatis setiap detik berubah ketika ada data yang masuk,” jelasnya.

Bahkan, pihaknya mempersilhakan semua pihak untuk mengakses laman tersebut.

“Ini real count jam yang sama, detik yang sama. Anda bisa cek, kita memiliki kecepatan 2,5 kali lipat dari KPU dengan kelebihan dan kekurangan infrastrukturnya,” ujar Arif.

Sementara, Ketua Umum Relawan Almisbat, Hendrik Sirait mengaskan, pihaknya siap beradu data C1 hasil Pilpres dengan BPN Prabowo-Sandi.

Mereka juga akan minta semua diaudit keabsahannya.

“Tidak hanya parpol koalisi, relawan Jokowi juga memiliki data C1 hasil pemungutan suara di TPS. Kami tantang BPN, kita adu data terbuka,” kata Hendrik.

Lebih lanjut, Hendrik menilai, klaim kemenangan seperti yang dilakukan Prabowo–Sandi sudah pernah mereka hadapi pada 2014 dan terbukti kalah.

Bahkan kubu Prabowo–Hatta waktu itu sampai hendak menggugat ke MK dengan bukti 10 truk surat suara. Tapi pada akhirnya nol besar.

Senada, Ketua Umum relawan Arus Bawah Jokowi (ABJ) Michael Umbas mengatakan, tantangan untuk kubu Prabowo karena klaim BPN terkesan sengaja ingin membingungkan rakyat.

Padahal paslon 02 sudah jelas kalah berdasarkan hasil quick count.

Dia juga mempersilakan publik mengecek di google dan database jejak digital, sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hasil quick count sudah bisa diterima publik dan elite politik.

“Bahkan era Pilkada DKI yang memenangkan Anies–Sandi, malah Prabowo sendiri yang mengumumkan hasil kemenangan dengan acuan quick count,”

“Sekarang mau gertak dengan acuan real count. Langkah denial the truth ini akan makin membuat Prabowo terperosok,” tutur Umbas.

Oleh karena itu, lanjut Umbas, klaim Prabowo meraih 62 persen suara Pilpres 2019 di luar logika kaum intelektual yang percaya penelitian ilmiah.

“Bila angka itu nyata, maka harus dibuka datanya ke publik,” pungkasnya.

(jpg/ruh/pojoksatu)

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...