Hari Ini dalam Sejarah: Serah Terima Hong Kong dari Inggris ke China

334
ara Pemimpin Eksekutif Hong Kong dari 1997-2005, Tung Chee-hwa (dua dari kiri) melihat ke arah Carrie Lam yang hendak diangkat jadi Pemimpin Eksekutif. Mereka menghadiri upacara bendera di Golden Bauhinia Square di Hong Kong pada 1 Juli 2017, untuk merayakan 20 tahun serah terima Hong Kong Special Administrative Region (HKSAR).(AFP/DALE DE LA REY)

HONG KONG – Pada 30 Juni tengah malam hingga 1 Juli 1997, terjadi upacara serah terima Hong Kong dari Inggris ke China.

Serah terima ini menandakan berakhirnya 156 tahun kekuasaan Inggris di wilayah itu.

Usai resmi dikembalikan ke China, koloni itu menjadi Hong Kong Special Administrative Region (HKSAR) di bawah bendera Republik Rakyat China.

Upacara penyerahan ini juga menjadi puncak transisi selama 13 tahun yang diprakarsai oleh Deklarasi Bersama Sino-Inggris, dan ditandatangani kepala pemerintahan kedua negara pada Desember 1984.

Secara tertulis perjanjian itu menetapkan HKSAR di bawah pemerintahan China akan memiliki otonomi tingkat tinggi, kecuali dalam hal hubungan internasional dan pertahanan.

Sistem sosial, perekonomian, dan gaya hidup di Hong Kong dijanjikan tidak berubah selama 50 tahun sejak 1997. Artinya, perjanjian ini berlaku sampai 2047.

Namun banyak pengamat yang ragu China akan memegang teguh janjinya menerapkan “Satu Negara Dua Sistem”, dan saat itu sudah dikhawatirkan China dapat tiba-tiba membatasi hak dan kebebasan rakyat Hong Kong.

Britania Raya mengakuisisi Pulau Hong Kong dari China pada 1842, ketika Perjanjian Nanking ditandatangani pada akhir Perang Candu pertama (1839-1842).

Kemudian setelah komunis mengambil alih kekuasaan di China pada 1949, Hong Kong menjadi tempat perlindungan bagi ratusan ribu pengungsi yang melarikan diri dari pemerintahan komunis.

Lalu berpuluh-puluh tahun berikutnya, pemerintah Negeri “Panda” bersikeras penjanjian yang memberi kedaulatan Inggris atas Hong Kong tidak sah.

Kerja sama China-Inggris selama periode transisi juga kian memburuk setelah penunjukan Chris Patten pada 1992, sebagai gubernur kolonial terakhir Hong Kong.

Patten dengan berani melawan praktik masa lalu, dengan menginisiasi serangkaian reformasi politik untuk memberikan rakyat Hong Kong suara lebih besar dalam pemerintahan melalui pemilihan demokratis untuk Dewan Legislatif (LegCo).

Beijing berusaha menghalangi reformasi Patten, dan menyebutnya sebagai pengkhianatan janji London.

Britania Raya sebelumnya berjanji mengelola transisi itu sebagai latihan, dengan Hong Kong tidak memiliki suara sendiri.

Ketika Partai Demokrat Hong Kong yang dipimpin pengacara Martin Lee mengalahkan politis pro-Beijing dalam pemilihan LegCo 1995, Beijing mengecam Patten dan mulai menyusun strategi untuk kembali memperkuat pengaruhnya.

Salah satu upayanya adalah pembubara LegCo pada 24 Maret 1996, oleh Komite Persiapan yang beranggotakan 150 orang.

Sebagai gantinya, komisi yang dibentuk untuk mengawasi penyerahan Hong Kong ke China itu memasang badan legislatif sementara setelah Hong Kong kembali ke kedaulatan China.

Pada Desember 1996 sebuah komite pemilihak khusus yang didukung China memilih 60 anggota badan sementara, lalu beberapa hari kemudian memilih Tung Chee-hwa (59) sebagai pemimpin eksekutif pertama HKSAR.

Seremoni penyerahan

Upacara penyerahan Hong Kong dari Inggris ke China dihadiri sejumlah pejabat tinggi dari seluruh dunia.

Di antaranya yang hadir adalah Presiden China Jiang Zemin dan PM China Li Peng, PM Inggris Tony Blair, Pangeran Charles, dan Menlu AS Madeleine Albright.

Presiden Jiang, kepala negara China daratan pertama yang mengunjungi Hong Kong sejak 1842, meyakinkan penduduk bahwa China akan melaksanakan rencana “Satu Negara Dua Sistem”.

Otonomi lokal itu telah dirancang oleh Pemimpin Tertinggi China Deng Xiaoping yang wafat pada 19 Februari 1997, hanya 4,5 bulan sebelum serah terima yang ingin dia hadiri.

Sumber Berita / Artikel Asli : Kompas

Berikan Komentar Anda :

comments

Loading...