Harga Tiket Pesawat Kemahalan, Masyarakat Bikin Surat Terbuka Hingga Petisi untuk Pemerintah

239

JAKARTA – Penerapan tarif batas bawah untuk harga tiket pesawat imbasnya mulai dirasakan masyarakat. Saat ini banyak masyarakat yang mengeluhkan soal harga tiket pesawat terutama untuk rute domestik.

Diketahui, tiket penerbangan dengan rute domestik, misalnya saja dari Padang menuju Jakarta dihargai sekitar Rp 1 juta-Rp 2 juta, dari tarif sebelumnya yang berkisar di harga Rp 700.000-Rp 800.000. Sedangkan, tarif ke luar negeri misalnya dari Jakarta ke Kuala Lumpur, dihargai dengan tarif Rp 400.000-Rp 500.000.

Atas kondisi tersebut masyarakat mulai memberikan reaksinya, diantaranya menulis surat terbuka hingga membuat petisi.

Adalah pemilik akun Facebook Patrianef Patrianef menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Menteri Perhubungan.

Dalam surat terbuka yang telah dibagikan lebih dari 15.000 orang tersebut, dirinya mengungkapkan kekecewaannya atas penetapan tarif yang tinggi terhadap pesawat rute domestik. Terlebih, menurutnya, tarif tersebut tidak sesuai dengan kondisi dan daya beli masyarakat Indonesia secara umum.

Selain surat terbuka, protes terhadap mahalnya tiket pesawat domestik tak hanya dilakukan melalui surat terbuka, melainkan juga dengan menggalang sebuah petisi. Melalui laman change.org, seorang warga bernama Iskandar Zulkarnain membuat petisi yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, Menteri Perhubungan Budi Karya, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Direktur Utama Garuda Indonesia, CEO Garuda Indonesia, dan CEO Lion Air.

Hingga kini, petisi yang digagas oleh Iskandar Zulkarnain tersebut telah ditandatangani 96.193 orang, dari target 150.000 tanda tangan.

Iskandar Zulkarnain menyebut dalam deskripsi petisinya bahwa kenaikan tarif tiket pesawat domestik tersebut sangat mencekik masyarakat yang akan bepergian dengan pesawat.

“Semenjak kejadian jatuhnya Lion Air JT 610 yang membuat seluruh warga negara Indonesia berduka, harga tiket penerbangan domestik mengalami kenaikan sampai batas atas..

Penerbangan domestik yang biasanya pulang pergi bisa dibawah 1juta rupiah, kini rata2 diatas 1 juta bahkan bisa 2-4 juta pp perorang.. Harga tersebut terpantau stabil tinggi dari Januari hingga beberapa bulan kedepan…

Di negara kepulauan seperti Indonesia, tentu maskapai penerbangan berperan penting dalam perkembangan dan kemajuan negara.. Tetapi dengan kenaikan harga tiket pesawat tentunya hal ini sangat mencekik masyarakat Indonesia yang akan bepergian menggunakan pesawat..

Apalagi kebanyakan masyarakat Indonesia adalah perantau yang mencari kerja diluar kampung halaman, dengan harga tiket yang melambung tinggi akan sangat memberatkan..

Ditambah dengan gerakan promosi “Wonderful Indonesia” yang saat ini digalakkan Pemerintah Indonesia dalam menarik wisatawan baik domestik maupun manca negara. Naiknya tiket domestik sampai hampir ke batas atas tentu menjadi hambatan tersendiri bagi wisatawan untuk menjelajah Indonesia.. sebuah Ironi tersendiri..

Kenaikan tiket domestik yang tidak wajar ini bertolak belakang dengan maraknya promo tiket ke luar negri dari maskapai-maskapai luar, sehinggga masyarakat Indonesia lebih memilih berlibur ke Luar Negeri daripada ke dalam negeri..

Maka daripada itu mari kita ajukan petisi agar maskapai lebih memikirkan kemajuan pariwisata Indonesia dan kemampuan masyarakat Indonesia dalam membeli tiket pesawat. Turunkan harga tiket pesawat domestik agar bisa bersaing dengan tiket pesawat ke luar negeri…,” tulis Iskandar Zulkarnain dalam deskripsi petisinya.

Ini isi surat Patrianef Patrianef di Facebooknya.

Kepada Yth
Bapak Menteri Perhubungan

Dengan hormat,

Beberapa hari terakhir ini kami melihat bahwa terjadi kenaikan harga tiket pesawat yang benar benar gila gilaan. Kenaikan harga tiket pesawat  dua kali lipat dari harga biasa.

Pada awalnya kami beranggapan bahwa kenaikan ini karena menyambut natal dan tahun baru atau peak season, tetapi sepertinya kenaikan berlanjut terus bahkan untuk pembelian jauh jauh hari bulan maret pun harga tiket sangat tinggi.

Yang membuat kami sangat kecewa adalah bahwa Bapak menjadikan kami masyarakat Indonesia yang merupakan Pasar Domestik dan nota bene warga indonesia yang tergolong kedalam negara lower middle income country sebagai target pendapatan bagi maskapai penerbangan. Sementara untuk penerbangan ke luar negeri dengan jam penerbangan yang sama harga tiket hanya 50 %  dari harga penerbangan domestik dengan jam dan jarak  yang relatif sama. Padahal standar keamanan penerbangan luar negeri relatif lebih tinggi dibandingkan tingkat keamanan penerbangan domestik.

Saya sendiri yang berkerja sebagai profesional merasakan berat dengan pembiayaan yang mahal ini, apalagi dengan anggota masyarakat lain yang berpendapatan pas pasan.

Sebagai Pembanding bagi Bapak

Jakarta Padang, 1 jam 30 menit

    Lion diatas  Rp 1 juta

    Garuda  sekitar Rp 2 juta

Jakarta Singapore 1 jam 30 menit

    Lion dan Air Asia sekitar Rp 400 sd 500 rb

    Penerbangan Full service Rp 1 jutaan

Jakarta Kuala Lumpur

    Lion Air sekitar Rp 500.ribuan

    Penerbangan Full Service sekitar Rp 1 jutaan.

Kami rakyat biasa merasa terjatuh di himpit tangga dalam kondisi begini. Selain itu di tengah situasi kampanye Pilpres begini tentu saja ada perasaan tidak puas masyarakat terhadap pemerintahan saat ini. Karena rakyat tidak bisa membedakan mana yang peranan pemerintah mana yang peranan maskapai.

Kami yakin kenaikan harga tiket tersebut sangat tidak wajar karena hanya dibebankan kepada penerbangan lokal dan domestik. Kami meminta agar Bapak Menteri Perhubungan sebagai regulator meninjau lagi kenaikan tiket pesawat terbang.

Satu hal lagi yang menunjukkan ketidak berpihakan bapak menteri perhubungan adalah, selain kenaikan tiket pesawat, juga penerapan harga bagasi yang sungguh sungguh tidak murah untuk penerbangan LCC. Kontrovesial sekali Penerbangan Murah  domestik harga tiketnya setara dengan Penerbangan Full Service keluar negeri

Kami berharap Bapak Presiden memperhatikan hal ini dan menegur Bapak Menteri Perhubungan dan kalau perlu memberhentikan karena jelas jelas hal ini akan mempengaruhi suasana kampanye Presiden saat ini. Selain itu kenaikan tiket pesawat bisa disalah tafsirkan sebagai ketidak berpihakan kepada rakyat yang dalam kondisi susah saat ini, diakui atau tidak diakui.

Tentu saja kami tidak berharap jawaban sederhana dari Bapak Menteri misalnya jawaban ” kalau tidak punya uang jangan terbang” Kami mengharapkan jawaban yang memihak kepada rakyat dan memperhatikan kesulitan rakyat.

Jakarta, 9 Januari 2019

Patrianef Patrianef

Traveler Domestik

ngelmu

comments

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here